ArtikelOpini

Scroll TikTok Sebentar, Bumi Menanggung Lama: Jejak Karbon Tersembunyi di Balik Layar Kita

Avatar photo
128
×

Scroll TikTok Sebentar, Bumi Menanggung Lama: Jejak Karbon Tersembunyi di Balik Layar Kita

Sebarkan artikel ini
Tiktok
Firman Setiawan

Penulis: Elin Nurjanah

Mahasiswa Teknik Informatika, Univesitas Pamulang

Rata-rata orang Indonesia menghabiskan lebih dari tiga jam sehari untuk scrolling media sosial. Kita membuka TikTok, menonton YouTube, mengirim pesan, dan menyimpan foto ke cloud, semua itu terasa ringan, tanpa bekas. Tapi di balik setiap ketukan layar yang kita anggap sepele itu, tersimpan sebuah kebenaran yang jarang terpikirkan: aktivitas digital kita meninggalkan jejak karbon yang nyata.

Bukan asap dari knalpot. Bukan limbah pabrik. Tapi emisi yang lahir diam-diam dari server raksasa yang bekerja tanpa henti setiap detik, demi memastikan konten kita terkirim dalam hitungan milidetik.

Angka yang Mencengangkan

International Energy Agency (IEA) memperkirakan kebutuhan listrik pusat data global bisa melonjak dua kali lipat, dari sekitar 460 TWh pada 2022, menjadi lebih dari 1.000 TWh pada 2026. Lonjakan ini sebagian besar dipicu oleh ledakan penggunaan kecerdasan buatan yang membutuhkan daya komputasi jauh lebih besar dari aplikasi digital konvensional.

Indonesia bukan penonton pasif dalam tren ini. Indonesia masuk sebagai 15 besar negara dengan pusat data terbanyak di dunia, mencapai 185 pusat data yang tersebar di 32 kota dan angka itu terus tumbuh seiring derasnya investasi teknologi dari perusahaan-perusahaan global.

Masalahnya, pertumbuhan ini tidak datang gratis. Indonesia termasuk pengguna internet paling boros data di dunia, dengan konsumsi energi yang masih ditopang oleh batu bara menghasilkan jejak karbon digital per kapita yang tinggi. Pada 2023, bauran energi baru terbarukan Indonesia baru mencapai 13,09%, masih jauh dari target 23% pada 2025.

Artinya: kita sedang membangun infrastruktur digital raksasa di atas fondasi energi kotor.

Paradoks Kemajuan

Ada ironi besar yang perlu diakui bersama. Indonesia bangga menjadi salah satu negara dengan pengguna media sosial terbesar di dunia. Transformasi digital dirayakan sebagai tonggak kemajuan. Tapi di saat yang sama, jarang ada yang bertanya: siapa yang membayar tagihannya kepada bumi?

AI generatif, big data, dan layanan cloud membutuhkan daya komputasi yang sangat besar. Data center modern beroperasi 24 jam tanpa henti, mengonsumsi listrik dalam jumlah masif dan menghasilkan panas tinggi. Tanpa pengelolaan yang tepat, infrastruktur IT justru berpotensi menjadi kontributor signifikan terhadap emisi karbon global.

Dari sudut pandang teknis, kontradiksi ini terasa menyakitkan. Teknologi adalah alat paling ampuh yang pernah dimiliki manusia untuk memecahkan masalah lingkungan, mulai dari pemantauan hutan berbasis satelit hingga optimasi jaringan listrik dengan AI. Namun teknologi itu sendiri sedang menjadi salah satu sumber masalah yang sama.

Solusi yang Sudah Ada, Tapi Belum Cukup

Kabar baiknya, dunia tidak tinggal diam. Menurut laporan Frost & Sullivan 2025, Indonesia diproyeksikan menjadi pemimpin green data center di Asia Tenggara, seiring meningkatnya permintaan dari sektor perbankan, telekomunikasi, dan AI.

Kawasan industri digital seperti Cikarang, Batam, dan Karawang mulai menerapkan pendekatan green power purchase agreement, di mana operator data center membeli listrik langsung dari pembangkit energi bersih seperti PLTS atau pembangkit biomassa. Langkah ini sejalan dengan komitmen nasional untuk menurunkan emisi karbon hingga 31,89% pada tahun 2030, serta visi Net Zero Emission Data Center 2045.

Tapi niat baik tanpa akselerasi nyata hanyalah angka di atas kertas. Transisi energi untuk data center tidak bisa menunggu sambil konsumsi listrik berbasis batu bara terus melambung tiap tahunnya.

Tanggung Jawab Kita Bersama

Perubahan tidak harus dimulai dari kebijakan negara. Ia bisa dimulai dari kebiasaan sehari-hari.

Melakukan digital decluttering, membersihkan file yang tidak lagi dibutuhkan dan menghapus email lama adalah langkah kecil yang berdampak nyata, mengingat satu email berlampiranpun bisa menghasilkan hingga 50 gram CO2. Merawat perangkat lebih lama juga membantu mengurangi “karbon tersembunyi” dari proses produksi gadget baru.

Namun lebih dari sekadar gaya hidup, dibutuhkan perubahan sistemik. Pemerintah perlu mempercepat kebijakan wajib energi terbarukan bagi data center baru. Perusahaan teknologi perlu melaporkan jejak karbon digital mereka secara transparan. Dan kampus-kampus teknik perlu menjadikan green computing sebagai mata kuliah inti, bukan sekadar topik seminar sesaat.

Setiap kali tombol refresh ditekan, ada turbin yang berputar, ada generator yang menyala, ada karbon yang dilepas ke udara. Dunia digital tidak pernah benar-benar “tidak berwujud”, ia hanya menyembunyikan wujudnya di balik kabel bawah laut, gedung-gedung server yang dingin, dan asap yang tidak terlihat dari cerobong pembangkit listrik.

Kemajuan teknologi adalah keniscayaan. Tapi kemajuan tanpa tanggung jawab lingkungan adalah kemewahan yang tidak lagi bisa kita bayarkan. Sudah saatnya Indonesia membangun ekosistem digital yang tidak hanya cerdas dan cepat, tapi juga bertanggung jawab pada bumi yang kita warisi bersama.