NEWSFEED.ID, Jakarta— Dalam perjalanan panjang sebuah bangsa, pendidikan sering kali disebut sebagai urat nadi yang mengalirkan kehidupan dan ujung tombak yang menentukan arah masa depan. Namun, di balik jargon-jargon kemajuan, tersimpan satu pertanyaan mendasar: apakah pendidikan kita hari ini benar-benar membebaskan, atau justru menjinakkan?
Pendidikan Tidak Pernah Netral
Mengutip gagasan besar tokoh pendidikan Paulo Freire, pendidikan pada hakikatnya tidak pernah benar-benar netral. Pendidikan selalu dihadapkan pada dua pilihan ekstrem: ia bisa menjadi instrumen penjajahan yang menjinakkan nalar dan daya kritis, atau sebaliknya, menjadi alat pembebasan yang memanusiakan manusia seutuhnya.
Gagasan Freire ini bukanlah sekadar teori yang berdebu di dalam buku-buku pedagogi. Ia adalah cermin sekaligus fondasi untuk melihat bagaimana sistem belajar kita bekerja hari ini. Jika pendidikan gagal menjadi “ujung tombak” pembebasan, maka ia hanya akan menjadi alat untuk mencetak sekrup-sekrup dalam mesin industri yang tidak memiliki kesadaran akan jati dirinya.
Tragedi Kerendahan Diri di Akar Rumput
Dampak dari gagalnya pendidikan dalam memanusiakan manusia dapat dilihat dari mentalitas masyarakat. Sebuah tragedi terjadi ketika seorang petani menunduk di hadapan orang lain dan berkata, “Apalah aku, aku hanya seorang petani.”
Kalimat ini bukanlah bentuk kerendahan hati yang luhur. Sebaliknya, ini adalah sebuah luka sosial—rasa rendah diri (inferioritas) yang tanpa sadar ditanamkan oleh sistem yang diskriminatif. Secara tidak langsung, sistem yang ada saat ini telah mengalienasi mereka yang bekerja keras di akar rumput, membuat mereka merasa “kurang berharga” dibandingkan profesi lainnya.
Ilusi Kesuksesan dan Hierarki Sosial
Tanpa disadari, muncul sebuah konstruksi sosial yang seolah menetapkan standar tunggal tentang kehormatan. Keberhasilan dan kesuksesan seolah-olah hanya menjadi milik mereka yang berdasi, menyandang deretan gelar di belakang nama, dan bekerja di ruang-ruang ber-AC.
Konstruksi ini menciptakan jurang yang lebar dalam realitas kita hari ini. Masyarakat kita masih sangat mengagungkan hierarki profesi dan lembar ijazah sebagai penentu martabat seseorang. Dampaknya, peran-peran fundamental seperti petani sering kali dipinggirkan. Padahal, tanpa cucuran keringat mereka, urat nadi kehidupan bangsa ini tidak akan mampu tertopang.
Menuju Kemerdekaan Pikiran
Sebagai ujung tombak perjalanan bangsa, pendidikan memikul tanggung jawab besar untuk merombak persepsi ini. Selama pendidikan masih melanggengkan kelas sosial dan membuat seseorang merasa rendah diri atas keringat halalnya sendiri, maka selama itu pula pendidikan kita masih bersifat menjajah.
Pendidikan yang benar-benar memerdekakan adalah pendidikan yang mampu membuat setiap individu, apa pun profesinya, merasa bangga akan martabat kemanusiaannya. Sudah saatnya kita meruntuhkan standar kesuksesan semu yang hanya diukur dari tampilan fisik dan jabatan. Sebab, kemerdekaan sejati sebuah bangsa tidak dimulai dari pembangunan infrastruktur semata, melainkan bermula dari kemerdekaan pikiran setiap rakyatnya.
Penulis: Mohammad Fatih Shaleh
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta













