Artikel

Potensi Wisata Baru Trenggalek: Kolaborasi Strategis MMD UB Kelompok 50 Wujudkan Pasar Jadul Zero Plastic Pangupo Jiwo di Dompyong

Avatar photo
7
×

Potensi Wisata Baru Trenggalek: Kolaborasi Strategis MMD UB Kelompok 50 Wujudkan Pasar Jadul Zero Plastic Pangupo Jiwo di Dompyong

Sebarkan artikel ini
Pangupo-Jiwo-1

TRENGGALEK – Nuansa nostalgia tempo dulu menghangatkan kawasan Hutan Pinus Desa Dompyong, Kecamatan Bendungan, pada Minggu (2/8/2026). Bertempat di lokasi yang asri dengan lanskap pemandangan indah serta kawasan wisata Lumber Camp di bawahnya, peresmian “Pasar Pangupo Jiwo” sebagai pasar tempo dulu pertama di Kabupaten Trenggalek sukses digelar. Gelaran ini terwujud berkat kolaborasi terpadu antara Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Universitas Brawijaya (UB) Kelompok 50 di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Prof. Sugiono, S.T., M.T., Ph.D., bersama  Pemerintah Kecamatan Bendungan serta Kelompok 1 KKN Universitas Muhammadiyah Ponorogo Desa Dompyong.

Acara peresmian diawali secara simbolis melalui pemukulan gong oleh Pak Sudjatmiko selaku Camat Bendungan sebagai tanda resmi dibukanya pasar ini. Dalam gelaran perdana ini, tercatat lebih dari 150 pengunjung hadir memadati area hutan pinus. Seluruh 9 lapak yang dikelola oleh anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) se-Kecamatan Bendungan ludes terjual habis dalam waktu kurang dari tiga jam. Masyarakat berbondong-bondong datang untuk berburu dan menikmati aneka kuliner tradisional tempo dulu yang kini kian tenggelam dan tergilas oleh waktu. Para pengunjung tampak santai duduk-duduk di bawah rimbunnya pepohonan pinus sambil menyantap hidangan buatan para anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) diiringi alunan merdu suara gamelan yang kian memperkuat atmosfer nostalgia.

 

Keunikan Pasar Pangupo Jiwo, selain transaksi dengan menggunakan uang gobog dan diwajibkannya seluruh penjual dan panitia mengenakan busana tradisional Jawa, adalah penerapan aturan ramah lingkungan dengan melarang penggunaan plastik sekali pakai. Oleh karena itu, seluruh penjual diwajibkan memakai wadah alami seperti daun pisang, besek, atau bambu. Namun, sempat terjadi kelangkaan penjual minuman akibat proses penyesuaian penggunaan wadah non-plastik. 

Gagasan pasar kuno ini sejatinya bermula dari ide Pak Sudjatmiko selaku Camat Bendungan saat tim MMD UB Kelompok 50 pertama kali melakukan silaturahmi ke Pendopo Kecamatan Bendungan. Mahasiswa kemudian membawa ide tersebut saat menghadiri acara pengukuhan KWT Sekar Djaya, Kelompok Wanita Tani di Desa Dompyong yang baru saja bangkit kembali. Dalam momen pengukuhan itu, mahasiswa menyampaikan wacana konsep pasar kuno kepada pengurus dan warga. Meski pada awalnya tak sedikit pihak yang merasa pesimis akan keberhasilan pasar seperti ini, gagasan tersebut justru mendapat sambutan positif dan dukungan dari Pak Widodo selaku perwakilan BPP (Balai Penyuluhan Pertanian) Satgas Penyuluhan Pertanian juga anggota KWT. 

Dukungan berbagai pihak tersebut menjadi lampu hijau bagi MMD UB Kelompok 50 untuk bergerak cepat, meski masa persiapan terbilang sangat singkat yakni kurang dari satu minggu. MMD UB Kelompok 50 turut menggandeng tim KKN Universitas Muhammadiyah Ponorogo untuk berkolaborasi bersama. Mahasiswa dari kedua perguruan tinggi ini bergerak padu berkoordinasi dengan sembilan KWT se-Kecamatan Bendungan guna mematangkan kesiapan lapak kuliner tradisional berbasis zero plastic

 

​Kerja keras berlanjut saat teori dan konsep harus diwujudkan di lapangan., hamparan hutan pinus tersebut tidak begitu saja siap menjadi area transaksi warga. Tim mahasiswa bahu-membahu membersihkan lokasi selama tiga hari berturut-turut, dibantu oleh personil KSB (Kampung Siaga Bencana) Adikara Wilis yang ikut membabat semak serta menata lahan hingga kawasan hutan pinus layak dan nyaman untuk dijadikan pasar.  

 

Tak hanya pembersihan lahan, mahasiswa dan warga setempat bergotong royong mendirikan gapura utama serta spot foto berbahan bambu, lengkap dengan sentuhan dekorasi jerami untuk mempercantik suasana. Kreativitas mahasiswa semakin melengkapi keindahan lokasi lewat pemanfaatan limbah kayu pinus gugur yang diolah menjadi papan nama pasar yang unik dan ramah lingkungan. 

Secara filosofis, Pangupo Jiwo berasal dari bahasa Jawa yang berarti “penopang kehidupan” atau “sumber penghidupan”, mewakili harapan bersama agar keberadaan pasar ini mampu menjadi wadah pemberdayaan yang menghidupi perekonomian warga lokal secara berkelanjutan.

 

Kehadiran pasar ini mendorong pertumbuhan ekonomi lokal secara inklusif dengan membuka akses pasar langsung bagi anggota Kelompok Wanita Tani (KWT)  yang sejalan dengan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi). Di sisi lain, penerapan kebijakan zero single-use plastic dan penggunaan kemasan ramah lingkungan menjadi sarana edukasi menuju SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Keberhasilan program ini terwujud berkat kemitraan strategis lintas sektor sebagai bentuk implementasi SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

 

Melihat antusiasme dan potensi besar pada gelaran perdana ini, Pak Sudjatmiko menyampaikan rasa optimisnya. Beliau berharap pasar yang akan diselenggarakan secara rutin sebulan sekali setiap Minggu Legi ini dapat terus berlanjut secara konsisten dan berkembang menjadi destinasi wisata baru unggulan di Kecamatan Bendungan. 

  • Danica Kanaya Parahita
  • Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Brawijaya
  • mmdubdompyong50@gmail.com
  • 085852112048
  • struk-pangupo
    struk-pangupo
  • Setuju
Editor: Fuad Parhan, Tim NewsFeed.id