ArtikelOpini

Pengaruh Budaya Senioritas terhadap Perundungan Mahasiswa pada Kasus Timothi di Universitas Udayana

Avatar photo
375
×

Pengaruh Budaya Senioritas terhadap Perundungan Mahasiswa pada Kasus Timothi di Universitas Udayana

Sebarkan artikel ini
Potret ini menggambarkan beban mental yang sering kali harus dipikul oleh mahasiswa yang menjadi korban perundungan di lingkungan kampus.

NEWSFEED.ID, Surabaya — Fenomena perundungan di lingkungan kampus masih menjadi isu serius yang perlu mendapat perhatian. Yang terjadi adalah adanya praktik kekerasan, baik verbal maupun nonverbal, yang dipicu oleh budaya senioritas di kalangan mahasiswa. Perilaku ini meliputi hinaan, tekanan psikologis, intimidasi, hingga pengucilan terhadap mahasiswa junior.

Yang terlibat dalam fenomena ini adalah mahasiswa, khususnya senior sebagai pelaku dan junior sebagai korban. Selain itu, terdapat juga saksi atau lingkungan sekitar yang sering kali memilih diam karena adanya tekanan sosial atau budaya “kode etik diam”.

Fenomena ini terjadi tidak terbatas pada waktu tertentu, melainkan berlangsung secara berulang dalam kehidupan kampus, terutama saat kegiatan organisasi atau interaksi antarangkatan. Penelitian ini sendiri dilakukan pada tahun 2026 dengan melibatkan 40 responden mahasiswa.

Peristiwa ini terjadi di lingkungan kampus, dengan studi kasus yang merujuk pada kasus Timothi di Universitas Udayana, serta diperluas melalui penelitian pada mahasiswa di luar Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.

Hal ini bisa terjadi karena adanya persepsi keliru terhadap budaya senioritas. Senioritas yang seharusnya membangun rasa hormat justru berubah menjadi alat kekuasaan. Selain itu, adanya normalisasi perilaku keras, tekanan untuk meneruskan “tradisi”, serta kurangnya keberanian untuk melawan membuat perundungan terus berlangsung.

Fenomena ini terjadi dapat dilihat dari hasil penelitian. Sebanyak 85% responden memiliki pandangan negatif terhadap budaya senioritas. Mayoritas juga menolak anggapan bahwa junior harus selalu patuh tanpa bertanya. Sebanyak lebih dari 90% responden setuju bahwa senioritas dapat memicu perundungan. Selain itu, banyak mahasiswa mengakui bahwa senior sering menekan junior, memperlakukan tidak adil, serta menjadikan candaan sebagai bentuk perundungan. Perundungan juga lebih sering terjadi dalam kegiatan organisasi dibandingkan perkuliahan.

Untuk mengatasi hal ini, mayoritas responden (lebih dari 90%) menyatakan bahwa edukasi tentang anti-perundungan perlu ditingkatkan. Upaya ini penting untuk meningkatkan kesadaran, empati, serta menciptakan lingkungan kampus yang lebih sehat dan setara.

Budaya senioritas yang tidak dijalankan dengan baik terbukti berpotensi memicu perundungan di lingkungan kampus. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran bersama serta langkah nyata dari pihak kampus dan mahasiswa untuk menciptakan lingkungan akademik yang aman, adil, dan bebas dari kekerasan.

Artikel ini disusun oleh :

  • Umi Ayu Olivia (1152400096)
  • Muhammad Rafi Hakiki (1152400154)
  • Safrina Izny Zildjian S. (1152400220)
  • Taufiqurrokhman (1152400225)

Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya