SEMARANG – Menjadi orang tua dari anak berkebutuhan khusus (ABK) bukanlah hal yang mudah. Di balik kasih sayang yang tak terbatas, sering kali terselip ketakutan mendalam: “Apakah anak saya kelak bisa mandiri saat saya sudah tidak ada?”
Keresahan ini sangat dirasakan oleh para orang tua di Komunitas Gracias, sebuah wadah swadaya di Banyumanik, Kota Semarang. Selama ini, komunitas tersebut telah memberikan terapi okupasi gratis bagi 15 anak istimewa. Namun, niat mulia ini sempat terbentur kerasnya realita. Keterbatasan tenaga membuat satu terapis harus menangani belasan anak dengan kebutuhan beragam. Imbasnya, terapi hanya bisa berjalan satu bulan sekali, dan pemantauan hanya mengandalkan pesan WhatsApp yang sering tertimbun. Ketika anak pulang, orang tua kebingungan karena tidak ada tindak lanjut di rumah. Potensi kemandirian anak pun terancam jalan di tempat.
Melihat kondisi tersebut, lima mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) lintas disiplin ilmu—Tri Wahyu Utami, Dwi Noviyani, Shafira Cahaya R, Malvin Bima Santiko, dan Fransiskus F Sinaga—tergerak untuk membawa solusi nyata. Di bawah bimbingan dosen Ir. Daud Samsudewa, S.Pt., M.Si., Ph.D., IPM, mereka menginisiasi Sistem Analisis Perkembangan Anak Berkebutuhan Khusus (SAPA ABK).
Alih-alih sekadar memberikan alat, tim Undip ini merumuskan kurikulum Home Program berbasis aktivitas harian beternak. Aktivitas sederhana seperti mengemas telur hingga membuat susu pasteurisasi dimodifikasi secara khusus agar aman dan mampu merangsang motorik serta kognitif anak sesuai jenis disabilitasnya.
Lebih jauh, agar solusi ini dapat diakses setiap saat, mereka mendigitalisasi kurikulum tersebut ke dalam Website SAPA ABK yang dapat diakses melalui laman sapaabk.com. Melalui platform terintegrasi ini, orang tua cukup mengunggah video latihan anak di rumah, dan terapis dapat memberikan evaluasi serta umpan balik secara real-time.
Dampak Nyata: Dari Ragu Menjadi Mandiri
Kehadiran ekosistem sapaabk.com langsung membawa dampak transformasi yang luar biasa bagi Komunitas Gracias. Intensitas pemantauan terapi yang awalnya hanya sebulan sekali, kini bisa dilakukan setiap minggu.
Ketua Tim PKM-PM Undip, Tri Wahyu Utami, menjelaskan bahwa sistem ini memberikan bukti, bukan sekadar janji. “Di website tersebut, rekam jejak latihan divisualisasikan dalam bentuk grafik perkembangan yang interaktif. Dampaknya sangat luar biasa; orang tua yang dulunya cemas, kini bisa melihat dengan mata kepala mereka sendiri melalui layar handphone bahwa anak mereka pelan-pelan sedang bertumbuh menuju kemandirian,” ujarnya.
Tentu saja, perubahan ini tidak terjadi dalam semalam. Di awal peluncuran, website sempat sepi peminat karena orang tua gagap teknologi. Namun, tim Undip tidak menyerah. Mereka melakukan aksi ‘sowan’ atau turun langsung dari pintu ke pintu untuk mengedukasi dan mendengarkan keluh kesah orang tua dari hati ke hati. Pendekatan humanis inilah yang akhirnya meruntuhkan keraguan dan memicu lonjakan antusiasme. Tercatat, sistem ini telah mengantongi puluhan laporan aktivitas anak yang tervalidasi langsung oleh terapis.
Dampak paling berkelanjutan dari inovasi SAPA ABK adalah terciptanya kemandirian komunitas. Ekosistem ini kini tak lagi bergantung pada mahasiswa Undip. Warga lokal telah diberdayakan menjadi empat pilar kader penggerak, yakni Kader Kurikulum, Website, Video, dan Sarana Prasarana. Mereka kini telah mampu memodifikasi kurikulum hingga memvalidasi akun website secara swadaya.
“SAPA ABK membuktikan bahwa dengan kolaborasi lintas ilmu dan sentuhan kemanusiaan, teknologi bisa menjadi jembatan pemberdayaan. Kini, tidak ada lagi orang tua di Komunitas Gracias yang merasa sendirian dalam menata masa depan anak istimewanya,” tutup Utami. (*)
- FRANSISKUS F. SINAGA, TRI WAHYU UTAMI, MALVIN BIMA SANTIKODWI NOVIYANI, SHAFIRA CAHAYA RAMADHANI
- Tim PKM-PM SAPA ABK Universitas Diponegoro
- sinagafrans061@gmail.com
- 082277989409
-
WhatsApp-Image-2026-09-01-at-13.56.20 - Setuju













