BeritaPendidikan

Merapikan Rumah, Menata Hati: Mahasiswa KKN UNDIP Kenalkan Metode KonMari, Seni Menata Rumah ala Jepang kepada Ibu-Ibu PKK Desa Jirapan

Avatar photo
4
×

Merapikan Rumah, Menata Hati: Mahasiswa KKN UNDIP Kenalkan Metode KonMari, Seni Menata Rumah ala Jepang kepada Ibu-Ibu PKK Desa Jirapan

Sebarkan artikel ini
Hazna Olivia, mahasiswa KKN UNDIP, memberikan sosialisasi metode KonMari dan gaya hidup minimalis kepada kader serta ibu-ibu PKK Desa Jirapan melalui program pemberdayaan berbasis KonMari di Balai Desa Jirapan.

NEWSFEED.ID, Sragen — Rumah yang tertata tidak hanya membuat ruangan terasa lebih nyaman, tetapi juga dapat membantu meringankan aktivitas sehari-hari. Melihat berbagai persoalan rumah tangga seperti pakaian yang menumpuk, barang yang sulit ditemukan, hingga kebiasaan menyimpan barang yang sudah jarang digunakan, Hazna Olivia, Mahasiswa KKN Reguler Tim II Universitas Diponegoro (UNDIP) 2026 Desa Jirapan dari Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Bahasa & Kebudayaan Jepang, menghadirkan sosialisasi edukatif mengenai metode KonMari ala Jepang bagi kader dan ibu-ibu PKK Desa Jirapan di Balai Desa Jirapan, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen pada 4 Agustus 2026.

Mengusung tema “Pemberdayaan Kader PKK melalui Adaptasi Gaya Hidup Minimalis dan ala Jepang Berbasis Metode KonMari Guna Meningkatkan Kualitas Lingkungan Keluarga”, kegiatan ini menjadi ruang bagi ibu-ibu PKK untuk mengenal cara menata dan memilah barang secara lebih sederhana, teratur, dan bermakna.

Melalui sosialisasi interaktif dan praktik mandiri, Ibu-ibu PKK diperkenalkan pada metode KonMari yang tidak hanya berfokus pada kegiatan merapikan rumah, tetapi juga mengajak untuk mempertimbangkan kembali barang-barang yang dimiliki. Barang yang masih dibutuhkan dan memberikan manfaat dipertahankan, sementara barang yang sudah tidak diperlukan dapat dipilah untuk dilepas.

Dalam pemaparannya, Oliv menjelaskan bahwa tujuan merapikan rumah bukan hanya membuat rumah terlihat bersih dan rapi, tetapi juga menciptakan ruang hidup yang lebih nyaman, tenang, dan membahagiakan. Salah satu prinsip utama yang diperkenalkan adalah konsep “spark joy”, yaitu mempertanyakan kepada diri sendiri apakah suatu barang masih memberikan kebahagiaan atau manfaat ketika digunakan.

Ibu-ibu PKK juga diajak untuk terlebih dahulu membayangkan rumah dan kehidupan yang ingin diwujudkan sebelum mulai merapikan. Dengan memiliki tujuan yang jelas, kegiatan menata rumah tidak sekadar menjadi rutinitas membereskan barang, tetapi menjadi proses untuk menciptakan suasana rumah yang sesuai dengan kebutuhan penghuninya.

Permasalahan pakaian yang menumpuk dan sulit ditemukan ketika sedang terburu-buru menjadi salah satu contoh yang dekat dengan keseharian Tidak jarang pula pakaian yang berada di bagian bawah tumpukan justru jarang digunakan. Di sisi lain, kebiasaan menyimpan barang karena merasa “sayang kalau dibuang” dapat membuat barang terus bertambah hingga ruang rumah terasa semakin sempit.

Kondisi rumah yang kurang tertata juga dapat membuat pekerjaan rumah tangga terasa lebih berat. Bagi ibu-ibu yang telah menjalani berbagai aktivitas sehari-hari, waktu dan tenaga dapat kembali terkuras ketika harus mencari barang yang terselip atau membersihkan area yang dipenuhi tumpukan barang.

Lebih dari sekadar menciptakan rumah yang rapi, penerapan metode KonMari juga diperkenalkan sebagai salah satu kebiasaan yang dapat mendukung kualitas lingkungan keluarga. Penataan barang yang lebih baik dapat membantu rumah lebih mudah dibersihkan dan mengurangi penumpukan barang serta debu pada area tertentu. Hal ini sejalan dengan peran ibu-ibu PKK dalam mendukung terciptanya lingkungan keluarga yang bersih, sehat, dan nyaman.

“Tujuan merapikan bukan hanya supaya rumah terlihat bersih, tetapi juga supaya kita bisa hidup lebih nyaman, lebih tenang, dan lebih bahagia,” ujar Hazna Olivia, mahasiswa KKN UNDIP sekaligus pemateri dalam kegiatan tersebut.

Agar materi dapat diterapkan kembali setelah kegiatan selesai, peserta juga memperoleh leaflet berisi langkah-langkah praktis menata rumah dengan metode KonMari. Leaflet tersebut dapat disimpan sebagai panduan dan digunakan kembali ketika peserta melakukan praktik penataan barang secara mandiri di rumah.

Salah satu kader PKK, mengaku mendapatkan sudut pandang baru mengenai kebiasaan menyimpan barang. “Biasanya kalau ada barang yang masih bagus, saya merasa sayang kalau dibuang meskipun sebenarnya sudah jarang digunakan. Dari materi ini saya jadi belajar untuk melihat kembali apakah barang tersebut memang masih dibutuhkan atau hanya membuat rumah semakin penuh,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, metode KonMari diperkenalkan sebagai salah satu bentuk adaptasi gaya hidup minimalis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Harapannya, kebiasaan sederhana dalam memilah dan menata barang dapat membantu ibu-ibu PKK menciptakan rumah yang lebih tertata, nyaman, dan mudah dirawat bersama seluruh anggota keluarga.

Kegiatan ini turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Good Health and Well-being, melalui upaya menciptakan lingkungan rumah yang lebih nyaman dan mendukung kesejahteraan keluarga. Selain itu, penerapan gaya hidup minimalis dan kebiasaan memilah barang juga sejalan dengan SDG 12: Responsible Consumption and Production, karena mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan, mempertahankan, dan mengurangi barang yang tidak lagi diperlukan.

Pada akhirnya, kegiatan ini mengajak peserta melihat bahwa KonMari bukan tentang memiliki rumah yang kosong atau membuang sebanyak mungkin barang, melainkan tentang mempertahankan barang-barang yang benar-benar dibutuhkan dan memberikan kebahagiaan bagi penghuninya. Dengan penataan yang dilakukan secara bertahap dan konsisten, kebiasaan sederhana tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari keseharian keluarga di Desa Jirapan.

Editor: Fuad Parhan, Tim NewsFeed.id