BeritaTeknologi

Perjalanan Juna, Dari Korban Bullying Menjadi Animator Muda yang Bangkit Lewat Konten Digital

Avatar photo
350
×

Perjalanan Juna, Dari Korban Bullying Menjadi Animator Muda yang Bangkit Lewat Konten Digital

Sebarkan artikel ini
Dokumentasi foto juna (Sumber: Dok pribadi)

NEWSFEED.ID, Surabaya — Juna, remaja 17 tahun, berhasil mengubah pengalaman pahit masa sekolahnya menjadi titik tolak perjuangan menuju dunia animasi dan konten digital. Berawal sebagai korban bullying yang membuat kondisi fisik dan mentalnya terganggu, Juna kini aktif mengelola akun TikTok dan YouTube, serta membangun jejaring dengan animator-animator tanah air.

Kisah Juna bermula sejak bangku SMP, ketika ia menjadi sasaran kekerasan dan pelecehan oleh sekelompok teman sekolahnya. “Saya dari kelas 1 sampai 3 SMP selalu kena bullying; dipukul dan ditendang oleh mereka berjumlah enam orang,” ujar Juna. Akibat perlakuan tersebut, ia sering bolos sekolah dan bolak-balik menjalani perawatan di rumah sakit karena efek fisik dan psikis. Ucapan-ucapan menyakitkan yang dilontarkan pelaku, seperti “kamu itu pecundang, banci gak bakal bisa jadi apa-apa,” sempat membuatnya nyaris putus asa.

Perlakuan tak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga memengaruhi kehadirannya di sekolah. “Saya drop fisik dan mental, jadi jarang masuk sekolah,” kata Juna. Meski demikian, tekadnya untuk bangkit tidak hilang. Setelah lulus SMP, Juna sempat mengambil jeda satu tahun untuk fokus menjalani perawatan. Selama periode itu, ia memanfaatkan waktu dengan menekuni dunia konten digital, khususnya animasi.

Awalnya Juna membuat akun TikTok bernama “junaanimation”. Ia mengaku banyak menerima kritikan, tuduhan meniru, bahkan label plagiat di awal-awal berkarya. Namun inspirasi datang dari berbagai arah: animasi karya kreator seperti Wowo, serial animasi viral dari DhotDesign, serta karya teman-temannya. Alih-alih mundur, Juna mengambilnya sebagai motivasi untuk terus belajar dan mengembangkan gaya animasinya sendiri.

Perjalanan Juna mengalami titik balik saat ia berkenalan dengan seorang animator yang dikenal sebagai DhotDesign, melalui perantaraan seorang mentor bernama Mantri Pratama. “Bang Mantri Pratama yang banyak membantu saya. Dia membalikkan keadaan bagi Juna,” kata sumber yang dekat dengan remaja tersebut. Dengan bimbingan dan konsultasi dari mereka, Juna mulai belajar teknik animasi lebih serius dan memperluas jejaringnya. Ia bahkan mengaku akhirnya kenal banyak animator di Indonesia yang membantunya berkembang.

Transformasi dari korban menjadi pelaku kreatif juga ditopang oleh ketekunan Juna mengelola konten di platform TikTok dan YouTube. Selama masa pemulihan, ia fokus memperbaiki keterampilan teknis sekaligus membangun identitas digital yang kuat. Pendekatan ini menolongnya mengubah pengalaman traumatis menjadi cerita perjuangan yang menginspirasi banyak orang.

Kasus Juna juga mencerminkan masalah yang lebih luas di lingkungan sekolah: bullying yang berujung pada dampak serius terhadap kesehatan mental dan pendidikan pelajar. Ketika Juna melaporkan kejadian yang dialaminya kepada guru, menurut pengakuannya, laporan itu tidak mendapat respons memadai. Kejadian ini menimbulkan pertanyaan tentang perlindungan siswa dan mekanisme penanganan kekerasan di sekolah-sekolah setempat.

Para ahli pendidikan dan organisasi perlindungan anak menekankan pentingnya respons cepat dan empatik dari pihak sekolah saat menerima laporan bullying. Langkah-langkah yang disarankan meliputi investigasi independen, pendampingan psikologis bagi korban, dan sanksi yang tegas terhadap pelaku sesuai aturan sekolah dan hukum yang berlaku. Kasus seperti Juna menggarisbawahi kebutuhan akan sistem pendukung yang kuat agar korban tidak merasa terabaikan.

Kini, langkah Juna patut mendapat perhatian sebagai contoh ketangguhan remaja yang memanfaatkan platform digital untuk memulihkan diri dan berkarya. Dengan dukungan mentor dan komunitas kreator, ia menunjukkan bahwa pengalaman traumatis bisa diubah menjadi energi produktif. Meski perjalanan pemulihan belum tentu mudah atau cepat, kisah Juna membuka ruang bagi dialog tentang pentingnya empati, perlindungan bagi pelajar, dan peluang positif yang ditawarkan teknologi bagi generasi muda.

Untuk masa depan, Juna berharap dapat terus berkembang sebagai animator, memperdalam kemampuan teknisnya, dan menginspirasi remaja lain yang mengalami situasi serupa. “Saya ingin buktikan kalau mereka salah. Saya bisa berkarya dan jadi lebih baik,” ujarnya penuh semangat.

Editor: Fuad Parhan, Tim NewsFeed.id