ArtikelOpini

Generasi Konten atau Generasi Pencipta? Saatnya Anak Muda Indonesia Membangun, Bukan Hanya Mengonsumsi Teknologi

Avatar photo
182
×

Generasi Konten atau Generasi Pencipta? Saatnya Anak Muda Indonesia Membangun, Bukan Hanya Mengonsumsi Teknologi

Sebarkan artikel ini
Foto layar smartphone (ponsel) yang memiliki folder aplikasi bernama "AI" yang terbuka. Di dalam folder tersebut terlihat ikon-ikon berbagai aplikasi berbasis Kecerdasan Buatan (AI), seperti ChatGPT (GPT), yang merupakan aplikasi AI generatif komunikatif. (Dok. Unsplash)

Setiap hari, jutaan anak muda Indonesia menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar ponsel mereka melihat dan membuat konten tanpa henti, menonton video pendek, bermain game, hingga aktif di berbagai platform digital. Angka pengguna internet Indonesia yang telah melampaui 200 juta jiwa sering dijadikan kebanggaan sebagai bukti bahwa bangsa ini telah memasuki era digital. Namun ada pertanyaan mendasar yang jarang sekali diajukan: dari ratusan juta pengguna itu, berapa banyak yang benar-benar menciptakan teknologi, bukan sekadar menggunakannya?

Pengguna Terbesar, Pencipta Terkecil

Indonesia konsisten masuk dalam daftar negara dengan jumlah pengguna media sosial dan platform digital terbanyak di dunia, dan kita kerap bangga dengan angka-angka tersebut. Namun kebanggaan itu perlu diimbangi dengan kejujuran bahwa hampir seluruh platform yang kita gunakan setiap hari mulai dari TikTok, Instagram, hingga Google dan YouTube adalah produk yang lahir dan berkembang di luar negeri. Kita adalah konsumen setia dari ekosistem yang dibangun oleh tangan orang lain, dan uang yang kita keluarkan, data yang kita hasilkan, serta waktu yang kita habiskan sebagian besar justru mengalir ke luar, bukan kembali ke dalam negeri. Ini bukan persoalan salah atau benar dalam memilih platform. Masalahnya terletak pada kesenjangan yang semakin dalam: ketika generasi muda kita jauh lebih fasih menjadi konsumen dibanding pencipta, maka posisi Indonesia dalam peta ekonomi digital global akan terus tertinggal.

Mentalitas Konsumen yang Mengakar

Salah satu akar persoalannya adalah bagaimana kita selama ini mendefinisikan “melek teknologi.” Di banyak lingkungan sosial maupun pendidikan, seseorang dianggap sudah melek digital apabila ia mampu mengoperasikan ponsel pintar, aktif di media sosial, atau lancar menggunakan berbagai aplikasi dalam kesehariannya. Padahal, kemampuan-kemampuan itu hanyalah permukaan dari sesuatu yang jauh lebih dalam. Literasi digital yang sesungguhnya mencakup kemampuan memahami cara kerja teknologi, berpikir kritis terhadap informasi yang beredar di ruang digital, dan yang paling krusial adalah kemampuan untuk membangun sesuatu dengan teknologi itu sendiri. Selama definisi melek digital tidak diluruskan, generasi muda kita akan terus tumbuh dengan mentalitas pengguna, bukan pembangun terampil memakai aplikasi, tetapi tidak pernah tahu bagaimana cara menciptakannya.

Potensi yang Belum Tergarap

Sesungguhnya, benih kreativitas dan semangat untuk membangun itu sudah ada dan nyata. Munculnya ribuan kreator konten lokal yang berkualitas, berkembangnya komunitas indie game developer di berbagai kota, hingga lahirnya startup-startup rintisan dari kampus-kampus daerah adalah sinyal positif bahwa generasi muda Indonesia mampu jauh lebih dari sekadar mengonsumsi. Yang mereka butuhkan bukan hanya akses internet yang cepat, melainkan ekosistem pendidikan yang sejak awal mengarahkan mereka untuk berpikir dan bertindak sebagai pencipta. Di sinilah peran kurikulum, komunitas, dan kebijakan menjadi sangat menentukan. Ketika seorang siswa SMA diajarkan bahwa ia bisa membuat aplikasi sendiri, bahwa gagasan yang ada di kepalanya bisa diwujudkan menjadi produk nyata, maka ia tidak sekadar belajar pemrograman belajar bahwa dirinya bukan penonton dalam dunia yang terus berubah ini.

Dari Konsumen Menjadi Kontributor

Pergeseran dari mentalitas konsumen menuju mentalitas pencipta memang tidak terjadi dalam semalam, dan tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak saja. Dibutuhkan perubahan yang sistemik: kurikulum yang mengintegrasikan proyek berbasis teknologi secara nyata, guru dan dosen yang dibekali kemampuan mendorong kreativitas digital, serta ruang yang aman bagi anak muda untuk bereksperimen, gagal, dan mencoba kembali tanpa rasa takut dihakimi. Kompetisi teknologi, hackathon pelajar, dan program inkubasi yang dimulai sejak tingkat sekolah menengah dapat menjadi jembatan antara potensi yang dimiliki dan realisasi yang selama ini tertunda. Sektor swasta dan komunitas teknologi pun memiliki tanggung jawab yang tidak kecil dalam proses ini perlu pendampingan dari para profesional, akses terhadap peralatan dan sumber daya, serta kesempatan magang yang bermakna dapat mempercepat transformasi ini secara signifikan.

Masa depan ekonomi digital Indonesia tidak akan ditentukan oleh seberapa banyak kita mengunduh aplikasi, melainkan oleh seberapa banyak kita mampu menciptakannya. Generasi muda hari ini adalah penentu arah tersebut, dan pertanyaannya bukan lagi apakah mereka bisa menjadi pencipta teknologi melainkan apakah kita sebagai masyarakat dan negara sudah cukup serius dalam mempersiapkan mereka untuk menjadi satu.

Penulis: Gina Suraya