NEWSFEED.ID, BLORA – Pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) tidak dapat dilakukan hanya melalui penanganan kasus, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat dalam memberantas sarang nyamuk sejak dini. Berangkat dari pentingnya upaya preventif tersebut, mahasiswa KKN UNNES GIAT 16 Kesehatan Kelompok 27 melaksanakan Program Juru Pemantau Jentik (Jumantik) di Dukuh Mundu, Desa Bodeh, Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora. Program ini menjadi salah satu bentuk edukasi sekaligus pendampingan kepada masyarakat dalam mencegah penyebaran DBD melalui pemantauan jentik dan penerapan 3M Plus. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Kuliah Kerja Nyata (KKN) LPPM UNNES bekerja sama dengan Pemerintah Desa Bodeh, kader kesehatan/Posyandu, dan masyarakat Dukuh Mundu ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 3, yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera.
Program Jumantik dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan, yaitu pada 25 Juni, 2 Juli, dan 7 Juli 2026. Pada pertemuan pertama, mahasiswa KKN memberikan edukasi mengenai Demam Berdarah Dengue (DBD), karakteristik nyamuk Aedes aegypti, siklus hidup, tempat perkembangbiakan, serta langkah pencegahan melalui penerapan 3M Plus. Setelah penyampaian materi, mahasiswa bersama kader kesehatan melakukan pemantauan jentik di 38 rumah warga untuk mengidentifikasi keberadaan jentik sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya memeriksa tempat-tempat penampungan air secara rutin.
Kegiatan dilanjutkan pada pertemuan kedua dengan pemantauan jentik secara berkala yang disertai pemberian ABATE pada tempat penampungan air yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Selain sebagai upaya pengendalian vektor, kegiatan ini juga memberikan contoh kepada masyarakat mengenai langkah-langkah pencegahan DBD yang dapat dilakukan secara mandiri di lingkungan rumah. Selanjutnya, pada pertemuan ketiga dilakukan pemantauan lanjutan sebagai bentuk evaluasi kondisi lingkungan sekaligus mendorong masyarakat agar rutin melakukan pemeriksaan jentik secara mandiri. Salah satu kader kesehatan menyampaikan, “Kami berharap masyarakat dapat membiasakan memeriksa tempat-tempat penampungan air secara rutin dan menerapkan 3M Plus dalam kehidupan sehari-hari agar risiko penyebaran DBD dapat ditekan.” Melalui kegiatan ini, masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai pencegahan DBD, tetapi juga terlibat aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan di sekitar tempat tinggalnya.

Program Jumantik diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan partisipasi masyarakat dalam mencegah Demam Berdarah Dengue melalui pemberantasan sarang nyamuk dan pemantauan jentik secara rutin. Sebagai tindak lanjut, kader kesehatan bersama masyarakat akan terus melaksanakan pemantauan jentik secara berkala serta menggalakkan penerapan 3M Plus sebagai budaya hidup bersih dan sehat di lingkungan Dukuh Mundu. Dengan adanya kolaborasi yang berkelanjutan antara masyarakat, kader kesehatan, dan pemerintah desa, diharapkan upaya pencegahan DBD dapat berjalan secara optimal.
Bersama UNNES GIAT, Membangun Indonesia dari Desa.












