NEWSFEED.ID, Malang — Dinamika pasar keuangan global sering kali memicu diskusi panjang yang menarik. Fluktuasi ekonomi global nyata dampaknya bagi negara berkembang seperti kita. Per Juni 2026, data mencatat adanya aliran modal keluar (outflow) investor asing dari Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menyentuh angka Rp 61,3 triliun atau sekitar Rp 3,36 miliar dolar AS. Fenomena penyesuaian portofolio ini tentu memicu koreksi teknis pada saham-saham perbankan nasional kita dan memberi tekanan pada nilai tukar rupiah. Di tengah situasi ini, media asing seperti Bloomberg sempat menggulirkan isu bernada pesimistis lewat narasi “Sell Indonesia”, sebuah pandangan yang memicu respons kritis dari para pengamat dan otoritas keuangan domestik.
Namun, di sinilah pentingnya kita bersikap jernih dan melihat situasi secara utuh. Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Purbaya Yudhi Sadewa, memberikan klarifikasi langsung yang sangat mendasar mengenai kondisi riil di lapangan. Beliau menyampaikan:
“Itu kan diterbitkan, saya baca di Bloomberg ya, itu salah satu penulis mungkin yang enggak tahu keadaan Indonesia seperti apa. Teman-teman investor, tolong lihat lebih detail, pahami kondisi ekonominya seperti apa. Yang bisa saya katakan sekarang adalah fiskal bagus, ekonominya bagus.”
Purbaya juga berharap agar para pelaku pasar melihat langsung data ekonomi yang tersedia, seraya menegaskan bahwa kepemimpinan Presiden masih cukup kuat untuk memastikan semua strategi pembangunan berjalan sesuai rencana. Dari kacamata Ekonomi Publik, hal mengingatkan kita bahwa ketahanan ekonomi sebuah bangsa tidak semata-mata diukur dari naik-turunnya angka di papan saham dalam jangka pendek, melainkan dari kokohnya fondasi fiskal internal yang kita miliki.
Situasi ini menjadi pengingat penting bahwa sektor riil terutama ketahanan pangan dan rantai pasok agribisnis berkelanjutan yang hadir sebagai fondasi utama yang langsung menyentuh dan melindungi keseharian para petani serta pekerja kecil. Ketika pasar finansial global bergejolak, sektor pangan lokal yang bekerja dalam sunyi untuk para petani, pedagang pasar, dan buruh agar harga kebutuhan pokok tidak melambung akibat inflasi impor (Imported Inflation). Fluktuasi modal asing ini sudah sepatutnya kita menjadikan momentum reformasi struktural untuk memperkuat kedaulatan pangan dari desa. Dengan menjaga stabilitas perut masyarakat bawah dan menyajikan tata kelola data yang transparan, kita bisa membuktikkan kepada dunia bahwa fundamental ekonomi Indonesia tidak mudah goyah karena ditopang oleh kemandirian masyarakat kita di tingkat bawah yang saling menopang.











