ArtikelOpini

Melihat ICE Out dalam World-Systems Theory: Mencerminkan Ketimpangan Mobilitas Tenaga Kerja

Avatar photo
17
×

Melihat ICE Out dalam World-Systems Theory: Mencerminkan Ketimpangan Mobilitas Tenaga Kerja

Sebarkan artikel ini

NEWSFEED.ID, Surabaya — Sejak kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih, operasi U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE) meningkat drastis, dengan razia, penahanan paksa, dan deportasi imigran sehingga menimbulkan kecemasan pada kalangan imigran di Amerika Serikat terutama yang berasal dari negara latin. Operation Metro Surge di Minneapolis melibatkan 3.000 agen dan sekitar 4.000 penangkapan, menimbulkan trauma: anak-anak enggan bersekolah, pasien kanker takut berobat, dan kerugian ekonomi diperkirakan mencapai USD 203 juta (Reuters, 2026).

Bahkan tokoh publik besar seperti Bad Bunny menggunakan platform besar Grammy mengubahnya menjadi panggung advokasi untuk menyuarakan protes lewat slogan “ICE Out” (AP News, 2026). Dalam kerangka World System Theory yang dikemukakan oleh Immanuel Wallerstain, negara terbagi menjadi core (negara maju), semi periphery dan periphery (negara berkembang) menciptakan alur pasar global dimana negara core seperti AS menjadi negara kaya dengan industri maju, sedangkan negara periphery seperti Amerika Latin berpendapatan rendah hingga perlu memasok tenaga kerja murah.

Migrasi dari periphery ke Core bukan hanya sebagai pilihan individu, melainkan hasil dari struktur ekonomi global liberalis yang menempatkan negara berkembang sebagai pemasok sumber tenaga dan negara maju sebagai pemanfaatannya, sehingga menimbulkan ekspansi kapitalisme global dan menciptakan ketergantungan struktural yang memaksa orang mencari nafkah di luar negeri.

Amerika Serikat sendiri menerima banyak pekerja imigran untuk pekerjaan yang disebut 3D (dirty, dangerous, difficult) seperti buruh. Pekerjaan seperti ini merupakan win win solution bagi kedua pihak karena kualifikasi yang harus dipenuhi imigran tidaklah berat sehingga dilihat sebagai peluang mendapat kesejahteraan di luar negeri dan upah yang harus dibayarkan perusahaan AS lebih rendah daripada mereka merekrut pekerja lokal.

Namun, ketika imigran tiba-tiba menjadi beban politik, pemerintah merespons dengan razia dan deportasi, membuang orang yang baru saja dijadikan tulang punggung produksi. Contohnya ketika kebijakan seperti Executive Order 14224 (BBC News, 2025) yang mendorong program “English-only” sebagai bahasa resmi di negara yang memiliki branding sebagai negara multiculture dipadukan dengan deportasi paksa terhadap pekerja tanpa dokumen. Ketegangan ini memicu gelombang protes, termasuk dari artis besar yang menyoroti ketidakadilan kebijakan tersebut.

Padahal ketergantungan AS pada tenaga migran terlihat jelas dalam rantai pasok global, terlebih lagi di sektor pertanian, jasa rumah tangga, buruh untuk menjaga produksi serta layanan. Ketika kebijakan seperti ICE Out mengusik imigran, maka perusahaan dapat kehilangan tenaga kerja masif serta kenaikan biaya upah hingga perlu mencari alternatif lain untuk tetap menjalankan produksi. Dapat dilihat walau Imigran kebanyakan berasal dari negara berkembang, namun mereka tetap dibutuhkan oleh negara maju supaya rantai nilai ekonomi global dapat terus berjalan.

Kebijakan selanjutnya “English Only” memperkuat ketimpangan yang dirasakan oleh imigran disaat negara mewajibkan memakai satu bahasa saja, memaksakan standar budaya dominan yang mempertanyakan, apakah kebijakan seperti ini sesuai diterapkan di negara dengan identitas beragam. Keamanan imigran pun tidak terjamin, mengetahui bagaimana cara ICE melaksanakan tugas mereka dengan memaksa imigran pergi dari AS, padahal belum tentu mereka memiliki rumah atau keluarga di negara asal mereka.

Dari kasus ICE Out ini menunjukkan bagaimana negara core menolak imigran atas dasar proteksi nasional, namun tetap ingin mendapat tenaga kerja murah dari periphery. Bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga keadilan bagi pekerja imigran yang harus dilindungi dan diberikan bentuk penyelesaian yang dapat menjamin hak dan keselamatan mereka.

Referensi

  • Reuters. (2026). Minneapolis grapples with lingering trauma, economic damage after ICE surge. Retrived from https://www.reuters.com/world/us/minneapolis-grapples-with-lingering-trauma-economic-damage-after-ice-surge-2026-03-14/
  • AP News. (2026). Grammy Awards 2026 highlights: Bad Bunny protests ICE with “ICE Out” message. Retrived from https://apnews.com/article/2026-grammy-awards-4d631de5d968b51276a8f06b76580e20
  • BBC News. (2025). Trump makes English official language of US. Retrived from https://www.bbc.com/news/articles/c2kgq5pzpllo
Firman Setiawan

Penulis: Aqeela Nabila Hanif Swantari

Mahasiswa UPN “Veteran Jawa” Timur

Editor: Fuad Parhan, Tim NewsFeed.id