ArtikelOpini

Body Shaming, Standar Kecantikan, dan Konsumsi Obat Diet dalam Perspektif Feminist Legal Theory

Avatar photo
111
×

Body Shaming, Standar Kecantikan, dan Konsumsi Obat Diet dalam Perspektif Feminist Legal Theory

Sebarkan artikel ini

NEWSFEED.ID, Magelang — Fenomena sosial yang sering terjadi di masyarakat adalah body shaming, baik dalam interaksi langsung maupun melalui media sosial. Praktik ini mencakup memberikan kritik, kritik, atau penilaian negatif terhadap bentuk dan ukuran tubuh seseorang yang dianggap tidak memenuhi standar tubuh ideal. Body shaming dapat mempengaruhi kesehatan mental seseorang, meskipun sering dianggap berbahaya.

Standar kecantikan yang menggambarkan tubuh langsing sebagai simbol penerimaan sosial dan kecantikan telah dibentuk oleh kemajuan industri kecantikan, budaya populer, dan media sosial. Gambaran tubuh ideal terus-menerus ditampilkan dalam berbagai konten online, yang digunakan masyarakat untuk menilai penampilan seseorang. Akibatnya, orang sering membandingkan kondisi fisik mereka dengan standar yang ada di ruang digital.

Ketidakpuasan tubuh muncul ketika seseorang merasa tubuhnya tidak sesuai dengan standar tersebut. Kondisi ini menyebabkan orang merasa tidak percaya diri, malu terhadap penampilan mereka, dan merasa tidak aman selama bertahun-tahun. Dampak psikologis ini mempengaruhi persepsi seseorang tentang dirinya sendiri dan keputusan yang dibuat untuk mengubah penampilannya.

Tekanan sosial adalah salah satu faktor yang meningkatkan efek body shaming. Keluarga, teman sebaya, dan lingkungan sekitar biasanya menuntut seseorang memiliki tubuh yang dianggap ideal. Media sosial juga memberikan tekanan melalui berbagai konten yang menggambarkan tubuh langsing sebagai ukuran keberhasilan, kecantikan, dan daya tarik.

Banyak orang melakukan berbagai cara untuk mendapatkan tubuh yang mereka inginkan karena tekanan sosial. Mengikuti program diet atau mengonsumsi produk diet dianggap sebagai cara cepat dan efisien untuk memperoleh bentuk tubuh yang sesuai dengan standar kecantikan yang meningkat.

Namun, kebutuhan kesehatan sering kali tidak mempengaruhi keputusan untuk menggunakan produk atau obat diet. Banyak orang makan itu karena mereka ingin mendapatkan penerimaan sosial, menghindari kritik negatif, atau lebih percaya diri. Penggunaan obat diet kadang-kadang bahkan dilakukan tanpa mempertimbangkan risiko kesehatan yang mungkin disebabkan oleh penggunaan produk tersebut.

Fenomena ini menunjukkan bahwa tubuh perempuan tidak berada dalam ruang kebebasan individu dari sudut pandang Teori Hukum Feminis . Melalui standar kecantikan yang dibentuk oleh masyarakat, tubuh perempuan sering menjadi objek penilaian dan kontrol sosial. Akibatnya, perempuan diminta untuk terus mengikuti standar sosial untuk mendapatkan pengakuan dan persetujuan dari masyarakatnya.

Menurut teori hukum feminis, standar kecantikan adalah konstruksi sosial yang menunjukkan hubungan kekuasaan dalam masyarakat. Standar tersebut secara tidak langsung membatasi kebebasan seseorang untuk mengambil keputusan sendiri. Oleh karena itu, keputusan untuk mengonsumsi makanan atau obat diet tidak selalu dapat dianggap sebagai keputusan yang sepenuhnya bebas karena tekanan sosial yang terus menerus diproduksi melalui media dan lingkungan.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat dipahami bahwa body shaming, tekanan sosial, standar kecantikan, dan rasa insecure mengancam satu sama lain dengan meningkatnya penggunaan produk diet atau suplemen. Fenomena ini bukan hanya masalah psikologis; itu juga berkaitan dengan penghargaan terhadap martabat manusia, kebebasan individu, dan hak setiap orang untuk memilih kehidupan mereka sendiri tanpa tekanan sosial atau diskriminasi. Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama untuk menghentikan body shaming dan memperbaiki paradigma bahwa harga diri dan kesehatan lebih penting daripada memenuhi standar kecantikan masyarakat.

Firman Setiawan

Penulis: Gendis Maharani, Divani Latifa, Kurnia Ayu Agustin, Prisila Ayu Cinthia Sari, Dian Sanitri

Mahasiswa Universitas Tidar

Editor: Fuad Parhan, Tim NewsFeed.id