NEWSFEED.ID, DEMAK – Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 95 Universitas Diponegoro (UNDIP) menggelar kegiatan edukasi lingkungan di Desa Betahwalang, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak, dengan fokus pada pengenalan fungsi mangrove tidak hanya sebagai pelindung wilayah pesisir, tetapi juga sebagai penopang kesehatan keluarga.
Acara ini diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum, ibu rumah tangga, dan ibu PKK. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat betahwalang terhadap manfaat mangrove khususnya untuk kesehatan keluarga.
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Universitas Diponegoro, yang didasarkan pada Surat Tugas Rektor Nomor 274-096/UN7.D2/PM/IV/2025 berjudul “Peningkatan Valuasi Ekonomi Masyarakat Desa berdasarkan Pengelolaan Daerah Rehabilitasi Mangrove dan Kawasan Konservasi Rajungan Berkelanjutan di Betahwalang, Demak”.
Program ini dilaksanakan di bawah bimbingan dosen pembimbing lapangan Dr. E. Drs. Hersugondo, M.M. dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Prof. Dr. Hermin Pancasakti Kusumaningrum, S.Si., M.Si. dari Fakultas Sains dan Matematika, serta Prof. Dr. Ir. Muhammad Zainuri, DEA dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.
Desa Betahwalang yang terletak di kawasan pesisir dikenal memiliki ekosistem mangrove yang cukup luas. Namun, belum semua warga memahami bahwa mangrove menyimpan manfaat yang sangat penting bagi kesehatan masyarakat. Melalui kegiatan ini, Tim KKN-T 95 UNDIP berupaya memberikan pengetahuan komprehensif kepada warga, mulai dari fungsi ekologis mangrove hingga manfaatnya bagi kesehatan yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari hari.

Dalam kegiatan tersebut, Tim KKN-T 95 UNDIP memaparkan bahwa bagian-bagian tanaman mangrove seperti daun, buah, dan kulit batang mengandung berbagai senyawa bioaktif, antara lain tanin, flavonoid, saponin, dan alkaloid. Senyawa-senyawa ini memiliki sifat antioksidan, antibakteri, antiinflamasi, dan antidiabetes yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan alami untuk meningkatkan kesehatan keluarga.
Salah satu anggota Tim 1 KKN-T 95 UNDIP, Andi Raifina Hana Rosyada, menjelaskan bahwa flavonoid dalam mangrove berperan melawan radikal bebas yang menjadi penyebab berbagai penyakit degeneratif. “Selain itu, tanin memiliki efek antimikroba yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri penyebab diare, sedangkan saponin dapat membantu menurunkan kadar kolesterol dalam darah,” ujarnya.
Tak hanya itu, beberapa jenis mangrove seperti Rhizophora mucronata dan Avicennia marina atau yang biasa disebut masyarakat dengan tanaman api api diketahui menghasilkan ekstrak yang bermanfaat untuk mengatasi peradangan kulit, luka, dan infeksi ringan. Di beberapa daerah, rebusan daun mangrove dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk membantu mengatasi diabetes dan menurunkan tekanan darah.
Warga Desa Betahwalang yang hadir tampak antusias mendengar penjelasan ini. Beberapa mengaku tertarik mencoba mengolah daun mangrove menjadi sirup/minuman perisa atau memanfaatkan buahnya sebagai olahan pangan bergizi. Tim KKN-T juga mengingatkan bahwa pemanfaatan mangrove untuk kesehatan harus dilakukan dengan pengetahuan yang tepat, karena tidak semua bagian mangrove aman dikonsumsi mentah.
Dengan edukasi ini, Tim KKN-T 95 UNDIP berharap warga semakin sadar bahwa menjaga kelestarian mangrove bukan hanya untuk melindungi pantai, tetapi juga untuk menjaga kesehatan keluarga secara alami dan berkelanjutan.











