BeritaPendidikan

Magang Tak Pernah Sepi, Tapi Pintu Kerja Masih Terkunci

Avatar photo
26
×

Magang Tak Pernah Sepi, Tapi Pintu Kerja Masih Terkunci

Sebarkan artikel ini
1000299459

Di tengah banyaknya program magang yang ditawarkan pemerintah dan perusahaan, pengangguran muda masih menjadi masalah yang belum kunjung selesai. Setiap tahun, ribuan mahasiswa dan lulusan baru mengikuti magang dengan harapan memperoleh pengalaman kerja yang dapat membuka pintu karier yang lebih baik. Magang bahkan sering dipromosikan sebagai solusi untuk menjembatani kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Namun, realitas di lapangan menunjukkan kondisi yang berbeda. Di satu sisi, program magang terus bertambah. Di sisi lain, keluhan tentang sulitnya mendapatkan pekerjaan tetap juga semakin sering terdengar. Fenomena ini menunjukkan bahwa pengalaman kerja saja belum tentu cukup untuk mengatasi persoalan pengangguran.

 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia pada Februari 2026 berada di angka 4,68%. Angka tersebut memang turun dibanding tahun 2025 yaitu 4,74%, tetapi jumlah pengangguran masih besar di tengah semakin banyaknya program yang ditujukan untuk meningkatkan kesiapan kerja generasi muda. Kondisi ini menunjukkan bahwa magang belum sepenuhnya mampu menyelesaikan masalah pengangguran muda. Selama ini, magang sering dianggap sebagai jawaban atas pengangguran muda dengan asumsi bahwa masalah utama lulusan adalah kurangnya pengalaman kerja. Padahal, pengalaman hanya salah satu bagian kecil dari persoalan yang lebih besar. Magang memang dapat meningkatkan keterampilan, memperluas relasi, dan memperkenalkan budaya kerja. Akan tetapi, magang tidak menciptakan lapangan pekerjaan baru.

 

Masalah sesungguhnya terletak pada ketidakseimbangan antara jumlah pencari kerja dan jumlah pekerjaan yang tersedia. Setiap tahun jutaan lulusan baru memasuki pasar kerja, sementara pertumbuhan lapangan kerja tidak selalu mampu mengimbangi laju pertambahan angkatan kerja. Akibatnya, banyak generasi muda yang telah mengumpulkan pengalaman magang tetap harus bersaing untuk mendapatkan kesempatan kerja yang jumlahnya terbatas. Selain itu, tidak semua program magang dirancang menuju proses perekrutan. Banyak peserta magang kembali menjadi pencari kerja setelah program selesai. Pengalaman yang diperoleh memang menjadi nilai tambah, tatapi tidak selalu menjadi jalan menuju pekerjaan tetap.

 

Fenomena ini menunjukkan bahwa pengangguran muda bukan karena persoalan kurangnya pengalaman, melainkan persoalan ini berkaitan dengan terbatasnya lapangan kerja yang berkualitas, ketidaksesuaian keterampilan dengan kebutuhan industri, hingga struktur ekonomi yang belum mampu menyerap seluruh angkatan kerja baru setiap tahunnya. Ketika kebijakan terlalu berfokus pada peningkatan kesiapan tenaga kerja tanpa diimbangi perluasan kesempatan kerja, maka yang terjadi adalah lahirnya generasi yang siap bekerja, tetapi belum tentu memiliki tempat untuk bekerja. Magang tetap penting. Namun, keberhasilan ketenagakerjaan tidak seharusnya diukur dari banyaknya program magang yang diselenggarakan, melainkan dari seberapa banyak peserta magang yang akhirnya memperoleh pekerjaan yang layak. Sebab pada akhirnya, yang dibutuhkan generasi muda bukan hanya kesempatan untuk belajar bekerja, tetapi juga kesempatan untuk benar-benar bekerja.

 

Untuk mengatasi masalah ini tidak cukup hanya dengan meningkatkan kesiapan kerja, tetapi juga harus dengan penciptaan lapangan kerja yang nyata. Program magang harus dirancang sebagai bagian dari jalur rekrutmen, sehingga peserta memiliki peluang lebih besar untuk memperoleh pekerjaan setelah program selesai. Pemerintah juga perlu mendorong penciptaan lapangan kerja baru melalui penguatan sektor industri padat karya, mendukung usaha kecil dan menengah, serta mengembangkan ekonomi digital yang mampu menyerap tenaga kerja muda dalam jumlah besar. Selain itu, perguruan tinggi perlu melakukan kolaborasi dengan dunia industri agar keterampilan yang diajarkan sesuai dengan kebutuhan industri. Dengan demikian, magang tidak hanya sebagai tempat belajar bekerja, tetapi juga menjadi tempat yang benar-benar menghubungkan generasi muda dengan pekerjaan yang layak dan berkelanjutan.

 

Penulis : Fazrina Cellin Dewanti, Kayla Izza Putri, Faris Hammam Musthafa, Dr. Dyah Maya Nihayah, S.E., M.Si., Retno Febriyastuti Widyawati, S.E., M.Sc.

Editor: Fuad Parhan, Tim NewsFeed.id