NEWSFEED.ID, TEGAL — Desa Suradadi, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal, dikenal sebagai salah satu sentra produksi terasi di wilayah Pantura Jawa Tengah. Produk terasi yang dihasilkan memiliki cita rasa khas yang didukung oleh ketersediaan bahan baku udang rebon di wilayah pesisir setempat.
Namun, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) seperti UMKM Terasi Pak Kempung masih menghadapi tantangan dalam menjaga konsistensi kualitas dan efisiensi proses produksi. Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) bertajuk “Peningkatan Kualitas & Efisiensi Produksi Terasi melalui Penerapan Teknologi Sederhana & Pengembangan Sumber Daya Manusia”, tim berupaya menghadirkan solusi berbasis teknologi tepat guna dan penguatan kapasitas manajemen, dengan harapan dapat mendorong daya saing usaha secara berkelanjutan.
Keberlanjutan pasokan udang rebon sebagai bahan baku utama menjadi faktor krusial dalam menjaga kelancaran produksi. Analisis SWOT menunjukkan kekuatan (strength) pada lokasi yang dekat dengan pantai dan jaringan nelayan lokal.
Namun, kelemahan (weakness) muncul ketika terjadi musim paceklik yang mengurangi ketersediaan bahan. Peluang (opportunity) hadir dalam bentuk kerja sama jangka panjang dengan kelompok nelayan dan koperasi perikanan, sedangkan ancaman (threat) dapat muncul dari persaingan harga bahan baku antar-pengusaha terasi.
Pendekatan strategis difokuskan pada pembentukan kemitraan pasokan dan diversifikasi sumber bahan untuk mengurangi risiko kelangkaan.
Peningkatan kapasitas dan kualitas produksi memerlukan optimalisasi proses pengolahan. Dari sisi SWOT, kekuatan UMKM Terasi Pak Kempung terletak pada resep dan cita rasa yang sudah dikenal konsumen. Kelemahannya adalah penggunaan peralatan tradisional yang memakan waktu.
Peluang terletak pada penerapan teknologi sederhana seperti mesin penggiling dan pengering berbasis energi efisien. Ancaman yang dihadapi meliputi kerusakan peralatan atau kesalahan teknis yang dapat menurunkan kualitas produk. Upaya peningkatan diarahkan pada pelatihan penggunaan teknologi dan pemeliharaan alat secara berkala.
Sistem manajemen yang baik akan menentukan efisiensi operasional. Analisis SWOT mengidentifikasi kekuatan pada kedekatan hubungan antar pekerja yang memudahkan koordinasi, namun kelemahan masih terdapat pada pencatatan keuangan dan stok bahan baku yang belum sistematis.
Peluang muncul melalui pemanfaatan aplikasi manajemen usaha sederhana yang dapat dioperasikan di gawai. Ancaman hadir berupa resistensi dari pelaku usaha yang kurang terbiasa dengan teknologi. Program KKN menekankan pembinaan administrasi usaha dan penyusunan standar operasional prosedur (SOP) untuk menjaga konsistensi proses produksi.
Persaingan pasar terasi memerlukan strategi pemasaran dan branding yang tepat. Kekuatan yang dimiliki UMKM ini adalah identitas produk yang otentik dari Desa Suradadi. Kelemahan terdapat pada promosi yang masih terbatas di pasar lokal.
Peluang besar muncul dengan penetrasi pasar melalui media sosial dan e-commerce, sedangkan ancaman datang dari maraknya produk serupa dengan harga lebih murah. Kegiatan KKN berfokus pada pembuatan desain kemasan yang menarik, penguatan citra merek, dan pelatihan pemasaran digital untuk memperluas jangkauan pasar.
Kualitas SDM menjadi pondasi dalam pengelolaan UMKM. Kekuatan terletak pada keterampilan dasar pengolahan terasi yang dimiliki pekerja. Kelemahan terlihat pada minimnya pengetahuan tentang manajemen usaha dan pengendalian kualitas produk.
Peluang hadir dari adanya dukungan program pelatihan dari pemerintah dan akademisi, sedangkan ancaman adalah tingkat pergantian pekerja yang tinggi. Program KKN menyediakan pendampingan intensif dan pelatihan terpadu untuk meningkatkan keterampilan teknis maupun manajerial pekerja.
Fasilitas produksi yang memadai akan menunjang efisiensi dan kualitas. Kekuatan UMKM ini adalah memiliki lokasi produksi yang strategis dan dekat dengan pasar bahan baku. Kelemahan terletak pada keterbatasan ruang dan fasilitas sanitasi yang kurang memadai.
Peluang dapat dimanfaatkan dari program bantuan peralatan produksi dan renovasi dari pihak pemerintah maupun swasta. Ancaman datang dari standar kesehatan pangan yang semakin ketat. Intervensi KKN diarahkan pada perbaikan tata letak ruang produksi, peningkatan sanitasi, dan penyediaan peralatan pendukung yang sesuai standar.
Untuk mencapai tujuan dari enam fokus program tersebut, metode yang digunakan meliputi survei awal untuk mengidentifikasi masalah, pelatihan teknis dan manajerial, pendampingan langsung di lokasi produksi, serta penerapan teknologi sederhana yang relevan dengan kebutuhan mitra.

Pendekatan partisipatif diterapkan agar mitra UMKM terlibat aktif dalam setiap tahapan kegiatan, sehingga keberlanjutan program dapat terjamin. Evaluasi dilakukan secara berkala melalui observasi lapangan dan diskusi dengan pelaku usaha guna memastikan bahwa setiap intervensi memberikan hasil yang nyata.
Pengembangan kapasitas produksi bagi pelaku UMKM terasi di wilayah pesisir menjadi langkah penting untuk memastikan keberlanjutan usaha dan peningkatan pendapatan masyarakat. Upaya ini mencakup penyediaan sarana pendukung produksi yang lebih efisien, pemanfaatan teknologi informasi untuk mempermudah pengelolaan usaha, serta pemetaan potensi sumber bahan baku agar proses produksi dapat berlangsung secara konsisten.
Selain itu, penguatan pemahaman terkait strategi pemasaran, baik di tingkat lokal maupun internasional, mendorong pelaku usaha untuk memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan daya saing produknya.
Peningkatan kualitas produk menjadi aspek yang tidak kalah penting untuk menjaga reputasi dan memenuhi standar yang berlaku di pasar. Langkah ini dapat dilakukan melalui pengendalian mutu yang ketat, penerapan prinsip-prinsip higienis dalam setiap tahapan produksi, serta pemanfaatan praktik kerja yang aman bagi pekerja.
Dengan adanya kesadaran akan pentingnya kualitas, pelaku UMKM diharapkan mampu menghasilkan produk terasi yang tidak hanya memiliki cita rasa khas, tetapi juga memenuhi persyaratan keamanan pangan. Pada akhirnya, kombinasi antara kapasitas produksi yang memadai dan kualitas produk yang terjaga akan menciptakan fondasi kuat bagi pengembangan usaha terasi secara berkelanjutan.
Pelaksanaan kegiatan dibagi menjadi dua fokus utama, yaitu peningkatan kapasitas dan peningkatan kualitas produksi UMKM terasi yang berlokasi di TPI Suradadi. Dalam sisi peningkatan kapasitas produksi dilakukan kegiatan berupa pemberian desain 3D alat pencetak terasi, pemberian aplikasi pengelolaan stok, pemberian peta persebaran daerah tangkapan rebon, dan sosialisasi tata cara ekspor.
Dalam sisi peningkatan kualitas produksi dilakukan kegiatan berupa pengujian dan pemberian sertifikat hasil uji lab terhadap kandungan terasi, sosialisasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam produksi terasi, sosialisasi bahaya listrik dan optimalisasi instalasi listrik dalam produksi terasi, dan sosialisasi optimalisasi Penerapan Good Manufacturing Practices.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini difokuskan pada peningkatan kapasitas dan kualitas produksi UMKM terasi di kawasan TPI Suradadi. Berdasarkan permasalahan yang dihadapi pelaku usaha, program dirancang dengan pendekatan aplikatif dan edukatif. Peningkatan kapasitas dilakukan melalui penyediaan teknologi sederhana seperti desain 3D alat pencetak terasi, aplikasi stok, peta digital fishing ground rebon, serta edukasi ekspor. Sementara itu, peningkatan kualitas dilakukan melalui uji laboratorium, penyuluhan K3, efisiensi kelistrikan, dan penerapan good manufacturing process. Seluruh kegiatan disusun agar mudah diterapkan secara mandiri oleh mitra, sehingga dapat mendorong kemandirian, inovasi, dan daya saing UMKM terasi secara berkelanjutan. Program ini diharapkan menciptakan ekosistem usaha terasi yang lebih produktif, aman, dan berorientasi pada mutu, sekaligus memberikan dampak ekonomi dan sosial bagi masyarakat pesisir Suradadi.
Salah satu kendala utama yang dihadapi oleh pelaku usaha terasi di lokasi pengabdian adalah proses pencetakan terasi yang masih dilakukan secara manual, menggunakan tangan dan cetakan sederhana berbahan kayu atau plastik seadanya. Metode ini membutuhkan waktu yang cukup lama dan hasilnya sering kali tidak seragam dari segi bentuk dan ukuran. Ketidaksesuaian tersebut dapat memengaruhi kualitas visual produk, yang berpotensi menurunkan daya saing di pasaran. Oleh karena itu, sebagai bagian dari program pengabdian masyarakat ini, tim merancang dan menyerahkan desain 3D alat pencetak terasi yang lebih efektif dan efisien guna membantu mitra usaha meningkatkan standar produksinya.
Desain alat yang dibuat mempertimbangkan kemudahan penggunaan oleh pelaku UMKM, tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisional dalam proses produksi. Menggunakan pendekatan teknologi tepat guna, desain alat ini dirancang modular, ergonomis, dan dapat diproduksi secara lokal dengan bahan logam ringan dan stainless. Cetakan dilengkapi dengan pengatur volume adonan sehingga setiap hasil cetakan memiliki ukuran yang seragam yaitu 1/4 Kg. Dengan adanya sistem tuas sederhana, proses pencetakan menjadi lebih cepat dan mengurangi kelelahan operator, sekaligus meningkatkan kapasitas produksi harian.
Setelah dilakukan sosialisasi cara kerja penggunaan desain 3D tersebut, mitra usaha menunjukkan respon positif. Mereka menyatakan bahwa alat ini membantu mempercepat proses pencetakan, menghasilkan bentuk yang konsisten, dan memudahkan dalam penataan serta pengemasan produk akhir. Efisiensi waktu yang dihasilkan memungkinkan pelaku usaha untuk meningkatkan volume produksi tanpa perlu menambah jumlah tenaga kerja. Hasil ini menunjukkan bahwa intervensi melalui pemberian desain 3D alat pencetak terasi dapat menjadi solusi aplikatif dalam meningkatkan kualitas dan efisiensi produksi secara berkelanjutan.
Kendala lain pada UMKM terasi adalah pencatatan stok yang masih menggunakan buku (manual), dimana hal tersebut tidak efektif, karena Pak Sahuri tidak selau membawa buku dan rawan terjadi kesalahan, apalagi ketika tidak dicatat langsung. Maka dari itu saya memberikan solusi dengan membuat sebuah aplikasi yang dapat diakses di handphone dan dapat digunakan secara offline atau tanpa internet. Dengan adanya aplikasi tersebut akan membuat pengelolaan stok menjadi lebih efisien karena handphone selalu dibawa kemanapun dan menguangi tingkat kesalahan stok. Berikut adalah gambaran aplikasi pengelola stok ini
Aplikasi ini mendukung pengelolaan stok terasi spesial, kelas 2, dan kelas 3, dimana pada masing-masing kelas dapat dilihat stok total yang dimiliki, tanggal yang dapat diubah-ubah sehingga dapat melihat transaksi keluar masuk stok yang terjadi di tanggal tersebut, dan dapat mencatatat keluar masuk stok berserta jumlah dan alasannya secara langsung. Aplikasi juga mendukung perhitungan stok otomatis akibat dari transaksi keluar masuk.
Peningkatan kapasitas produksi UMKM terasi di wilayah pesisir utara Jawa, khususnya di Desa Suradadi, Kabupaten Tegal, juga bergantung pada ketersediaan bahan baku utama, yaitu udang rebon (Acetes sp.). Selama ini, proses pencarian dan penangkapan rebon oleh nelayan masih dilakukan secara konvensional tanpa panduan yang berbasis data, sehingga menyebabkan ketidakefisienan waktu, biaya, serta inkonsistensi dalam hasil tangkapan. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu pendekatan yang dapat memberikan informasi spasial mengenai daerah persebaran atau fishing ground rebon secara lebih akurat dan mudah dipahami oleh masyarakat pesisir.
Peta daerah tangkapan potensial rebon yang disusun berdasarkan parameter oseanografi seperti Suhu Permukaan Laut (SPL) dan Klorofil-A melalui pemanfaatan citra satelit menjadi salah satu solusi tepat guna. Suhu permukaan laut (SPL) dan klorofil-a di perairan dapat dideteksi menggunakan citra satelit, salah satunya adalah citra satelit Aqua MODIS (Dwiyanti et al., 2022). Peta ini memberikan gambaran visual mengenai zona-zona yang memiliki potensi tangkapan tinggi, sedang, hingga rendah, yang dapat dimanfaatkan oleh nelayan sebagai panduan dalam menentukan lokasi penangkapan yang optimal. Dengan adanya peta ini, diharapkan kegiatan penangkapan rebon menjadi lebih efisien dan produktif, sehingga mampu menunjang ketersediaan bahan baku dan mendorong peningkatan kapasitas serta kualitas produksi UMKM terasi secara berkelanjutan.
Sosialisasi tata cara ekspor produk terasi dilatarbelakangi oleh minimnya pengetahuan pelaku UMKM terasi di TPI Suradadi mengenai peluang dan prosedur ekspor produk pangan olahan. Meskipun produk terasi dari Suradadi memiliki potensi pasar yang tinggi karena cita rasa yang khas dan berbahan laku lokal, para pelaku usaha masih terfokus pada pemasaran domestik dan belum memiliki pemahaman yang memadai tentang ekspor sebagai strategi perluasan pasar. Selama ini, produksi hanya difokuskan pada permintaan pasar lokal dengan kapasitas yang cenderung stagnan karena tidak ada dorongan untuk meningkatkan skala usaha.
Melalui kegiatan sosialisasi tata cara ekspor, pelaku UMKM mulai memahammi bahwa pasar luar negeri memerlukan kesiapan tidak hanya dari sisi legalitas dan kualitas produk, tetapi juga melalui kemampuan produksi yang konsisten dan memenuhi standar. Lebih lanjut, materi yang disampaikan mencangkup gambaran umum mengenai prosedur ekspor, jenis dokumen yang diperlukan, serta pentingnya sertifikasi dan standar mutu. Pemahaman tersebut membuka wawasan bahwa peningkatkan kapasitas produksi tidak hanya kuantitas tetapi menyangkut efisiensi, keamanan pangan, dan keberlanjutan pasokan. Dampak awal kegiatan sosialisasi terlihat pada antusiasme pelaku usaha untuk meninjau alur produksi yang selama ini berjalan. Dengan demikian, kegiatan sosialisasi tidak hanya memberikan informasi, tetapi menjadi pemicu awal bagi pelaku UMKM terasi di TPI Suradadi untuk mulai menata kapasitas produksi agar siap menghadapi peluang pasar yang lebih besar.
Pengujian kandungan terasi dilakukan untuk menentukan kualitas dan keamanan pangan terasi yang diproduksi. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya mendukung peningkatan kualitas, mutu, keamanan, dan daya saing produk terasi udang yang dihasilkan oleh pelaku UMKM Terasi di Suradadi. Fokus kegiatan ini dibagi menjadi dua, yaitu pengujian terasi pada laboratorium terstandar yang disertai pemberian sertifikast hasil analisis, serta penyuluhan terkait relevansi hasil uji tersebut.
Pengujian proksimat dilakukan untuk menentukan kadar air, kadar abu, kadar protein, dan kadar lemak pada sampel terasi udang dari salah satu UMKM. Analisis dilakukan dengan mengacu pada prosedur standar yang telah ditetapkan secara nasional. Data hasil uji kemudian dibandingkan dengan standar mutu yang berlaku sehingga dapat diidentifikasi parameter mutu yang telah memenuhi persyaratan serta yang masih memerlukan perbaikan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kadar air terasi udang sebesar 40,420% telah memenuhi standar SNI, yaitu maksimal 45%. Kadar abu terasi sebesar 18,41% tidak memenuhi standar SNI, yaitu maksimal 1,5%. Kadar protein terasi sebesar 31,32% telah memenuhi standar SNI, yaitu minimal 15%. Adapun kadar lemak terasi sebesar 3,61% belum memiliki acuan SNI khusus, namun tetap menjadi parameter uji kandungan produk.
Berdasarkaan data tersebut, parameter yang memerlukan perbaikan lebih lanjut adalah kadar air dan kadar abu. Kadar air dapat mempengaruhi kualitas dan daya simpan dari suatu bahan pangan. Kadar air yang terlalu tinggi akan menyebabkan pertumbuhan mikroba semakin cepat sehingga umur simpan produk menjadi lebih pendek (Nasria dkk., 2024). Oleh karena itu, perlu adanya perbaikan proses pengeringan dan penyimpanan yang lebih baik. Sementara itu, tingginya kadar abu terasi yang diuji menunjukkan adanya kemungkinan kontaminasi bahan asing, seperti pasir, tanah, atau penggunaan garam kasar berlebih (Pangestuti & Darmawan, 2021). Oleh karena itu, perlu adanya perbaikan proses produksi yang lebih higienis dan penggunaan bahan baku yang bersih dan berkualitas baik.
Di samping kedua parameter tersebut yang masih memerlukan perbaikan, hasil uji menunjukkan tingginya kadar protein yang menunjukan bahwa produk terasi tersebut memiliki kandungan protein yang tinggi. Hasil analisis ini diberikan dalam bentuk sertifikat hasil uji (Certificate Analysis Test/CAT) yang diserahkan kepada pelaku usaha sebagai bukti dokumen resmi yang dapat digunakan untuk mendukung pemasaran produk di pasar yang lebih luas.
Selain pengujian laboratorium, dilaksanakan juga kegiatan penyuluhan kepada pelaku usaha yang berisi penjelasan mengenai tujuan uji proksimat dan intepretasi hasil dari setiap parameter uji. Pelaku usaha diberikan leatlet berisi panduang singkat uji proksimat untuk membantu mengenali kandungan dan kualitas produk pangan. Melalui interaksi langsung dalam kegiatan penyuluhan, pelaku usaha diberikan kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi terkait hasil uji serta saran perbaikan proses produksi agar produk terasinya dapat memenuhi semua standar mutu yang telah ditetapkan. Kegiatan ini berkontribusi dalam meningkatkan kualitas produk, memenuhi standar kemanan pangan, serta memperkuat daya saing terasi udang di pasar yang lebih luas.
Sosialisasi mengenai keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dalam proses produksi terasi merupakan bagian dari luaran kegiatan multidisiplin mahasiswa Teknik Industri dalam pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran pekerja UMKM terhadap pentingnya aspek K3, khususnya dalam penggunaan alat pencetak terasi berbahan bakar solar yang berpotensi menimbulkan risiko kecelakaan kerja. Berdasarkan hasil observasi awal, ditemukan bahwa praktik kerja yang dilakukan masih belum memperhatikan prinsip-prinsip keselamatan secara menyeluruh, serta belum tersedia media edukatif yang menjelaskan prosedur kerja aman secara ringkas dan mudah dipahami.
Kegiatan sosialisasi K3 yang dilakukan secara langsung oleh mahasiswa kepada pemilik dan tenaga kerja di lingkungan produksi terasi. Dalam kegiatan ini, mahasiswa memanfaatkan media visual berupa poster edukatif berjudul “5 Aturan Dasar K3 di Area Produksi”. Poster tersebut berisi panduan singkat yang mencakup penggunaan alat pelindung diri (APD), prosedur penggunaan alat, pentingnya menjaga kebersihan area kerja, serta cara menghadapi kondisi darurat.
Untuk memastikan sosialisasi tidak berhenti pada interaksi langsung, poster K3 ini juga dicetak dan ditempel di dua titik strategis, yaitu di gudang penyimpanan dan rumah produksi. Penempatan tersebut bertujuan agar isi poster K3 dapat dilihat dan diingat setiap hari oleh para pekerja, sehingga membentuk kebiasaan kerja yang lebih aman dan sadar risiko.
Berdasarkan hasil observasi, instalasi listrik di lokasi produksi terasi masih belum tertata dengan baik. Terlihat banyak kabel yang dibiarkan terbuka tanpa pelindung, dan area kerja tidak memiliki pencahayaan yang memadai. Kondisi ini dapat membahayakan keselamatan dan menghambat kelancaran proses produksi.
Kegiatan diawali dengan penyuluhan kepada pemilik dan pekerja terkait potensi bahaya listrik serta pentingnya pencahayaan, yang disampaikan melalui poster dan diskusi secara langsung. Selanjutnya, dilakukan perbaikan berupa penataan ulang kabel dan pemasangan lampu LED. Hasil perbaikan ini membuat lingkungan kerja menjadi lebih terang, aman, dan mendukung kegiatan produksi secara lebih optimal.
Kegiatan Sosialisasi Mahasiswa kepada Pemilik/Pelaku Usaha dan Pekerja lainnya terkait Good Manufacuring Practices (GMP). Kegiatan tersebut menjadi wadah bagi mahasiswa unuk berdiskusi dalam peningkatan kualias produksi terasi dengan menerapkan GMP untuk sistem manajemen mutu pengolahan pangan dan menjamin keamanan mutu produk. Sebelum dilakukan sosialisasi mahasiswa mewawancarai Pelaku Usaha Terasi. Kegiatan Teknik pengambilan data dilakukan dengan cara wawancara dan observasi. Wawancara dilakukan untuk mengkonfirmasi lembar checklist dari hasil observasi. Observasi dilakukan dengan menggunakan lembar checklist GMP. Langkah-langkah SOP GMP terdiri:
1. Lokasi, bangunan
2. Fasilitas sanitasi
3. Mesin/peralatan
4. Bahan dan Alat yang digunakan
5. Pengawasan proses produk
6. Karyawan atau Pekerja
7. Pengemas, label dan keterangan produk
8. Penyimpanan produk
9. Pemeliharaan alat
10. Program sanitasi atau pelatihan
Berdasarkan hasil Pengamatan, Observasi dan Wawancara, Produksi terasi Pelaku Usaha sudah “BAIK 89%” artinya produksi terasi sudah dalam kualitas produksi dan mutu produk terasi yang berkualitas dan memadai.
Kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Suradadi memberikan dampak positif dalam dua aspek utama, yakni peningkatan kapasitas dan peningkatan kualitas produksi terasi.
1. Peningkatan Kapasitas Produksi:
Melalui penerapan teknologi sederhana seperti desain 3D alat pencetak terasi, pengembangan aplikasi manajemen stok, serta penyusunan peta fishing ground berbasis citra satelit, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi proses produksi dan memastikan ketersediaan bahan baku secara lebih tepat sasaran. Sosialisasi tata cara ekspor turut memperluas wawasan pelaku UMKM mengenai peluang pasar global dan pentingnya kesiapan produksi.
2. Peningkatan Kualitas Produksi:
Upaya peningkatan kualitas dilakukan melalui pengujian laboratorium terhadap sampel terasi, pemberian sertifikat hasil uji, serta penyuluhan mengenai hasil analisis kandungan produk. Kegiatan ini juga diperkuat dengan edukasi penerapan prinsip Good Manufacturing Practices (GMP), keselamatan kerja (K3), dan penataan instalasi listrik. Hasilnya, pelaku usaha lebih memahami standar mutu dan langkah-langkah perbaikan untuk menghasilkan produk terasi yang aman dan kompetitif.











