BeritaPendidikan

HI UMM Goes to School, Mahasiswa UMM Edukasi Siswa SMAN 7 Malang Tentang Climate Change

Avatar photo
379
×

HI UMM Goes to School, Mahasiswa UMM Edukasi Siswa SMAN 7 Malang Tentang Climate Change

Sebarkan artikel ini
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang bersama siswa-siswi SMA Negeri 7 Malang berfoto bersama sambil memegang banner kegiatan diskusi edukasi lingkungan, Rabu (22/04/2026).

NEWSFEED.ID, Malang — Upaya meningkatkan kesadaran lingkungan di kalangan pelajar kembali digaungkan melalui kegiatan diskusi edukasi lingkungan yang diselenggarakan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang di SMA Negeri 7 Malang. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (22/04/2026) dari pukul 09.00 hingga 12.00 WIB ini mengangkat tema “For Our Future on Earth: Understanding the Paris Agreement and the Role of Youth in Climate Action” sebagai bentuk komitmen dalam mendukung aksi iklim global.

Acara ini diprakarsai oleh delapan mahasiswa, yaitu Reva Adhelia A, Siti Nur Amanah, Gusti Bella Arinda, Ratu Awaliyah Putri M, Putri Sophia Rana Zahira, Ni Komang Dea N.W.N, Erwin Wira Mohamad N., dan M. Zaki Daniswara. Mereka berperan sebagai fasilitator sekaligus pemateri yang menyampaikan informasi mengenai isu perubahan iklim serta pentingnya partisipasi generasi muda dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

Dalam kegiatan tersebut, para mahasiswa menegaskan bahwa perubahan iklim merupakan isu global yang tidak dapat diabaikan. Fenomena seperti peningkatan suhu bumi, cuaca ekstrem, naiknya permukaan air laut, serta meningkatnya frekuensi bencana alam menjadi bukti nyata bahwa krisis lingkungan telah terjadi dan berdampak luas terhadap kehidupan manusia.

Kondisi ini menuntut adanya kolaborasi lintas sektor, termasuk peran aktif generasi muda sebagai agen perubahan. Sebagai landasan global dalam penanganan perubahan iklim, dunia internasional telah menyepakati sebuah perjanjian penting yang dikenal sebagai Paris Agreement pada tahun 2015 dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP21) di Paris di bawah naungan United Nations Framework Convention on Climate Change. Perjanjian ini bertujuan membatasi kenaikan suhu global agar tidak melebihi 2°C dibandingkan tingkat pra-industri, serta berupaya menekannya hingga 1,5°C.

Dalam pemaparan materi, dijelaskan bahwa implementasi Paris Agreement dilakukan melalui mekanisme Nationally Determined Contributions (NDC). NDC merupakan rencana aksi iklim yang disusun oleh masing-masing negara sesuai kapasitasnya, yang mencakup target pengurangan emisi gas rumah kaca serta strategi adaptasi terhadap dampak perubahan iklim.

Mekanisme ini menjadi instrumen penting dalam memastikan setiap negara berkontribusi nyata dalam upaya global menghadapi krisis iklim. Indonesia sendiri telah menunjukkan komitmennya melalui berbagai kebijakan strategis, antara lain pembangunan rendah karbon, transisi energi, pengembangan energi terbarukan, pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular, serta rehabilitasi mangrove. Komitmen tersebut diperkuat dengan ratifikasi Paris Agreement melalui Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016 sebagai dasar hukum pelaksanaan aksi iklim nasional.

Pada tingkat global, implementasi Paris Agreement juga terlihat di berbagai negara. Jerman menjalankan program Energiewende sebagai upaya transisi energi, Norwegia mendorong penggunaan kendaraan listrik secara luas, China mempercepat pengembangan energi terbarukan, serta Inggris secara bertahap mengurangi ketergantungan pada batu bara.

Namun demikian, implementasi tersebut masih menghadapi berbagai tantangan, seperti perbedaan komitmen antara negara maju dan berkembang, keterbatasan teknologi, penolakan dari sektor industri tertentu, serta hambatan pendanaan internasional.

Selain penyampaian materi, kegiatan ini juga dirancang secara interaktif melalui sesi kuis mini dan diskusi tanya jawab. Para siswa menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti rangkaian kegiatan, terutama saat diberikan kesempatan untuk berdialog langsung mengenai isu lingkungan global. Hal ini mencerminkan meningkatnya kesadaran generasi muda terhadap isu keberlanjutan.

Dalam kesempatan yang sama, mahasiswa juga memperkenalkan Universitas Muhammadiyah Malang sebagai institusi pendidikan tinggi yang berkomitmen dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan kepedulian terhadap isu lingkungan. Pengenalan ini diharapkan dapat memberikan wawasan kepada siswa mengenai pentingnya pendidikan tinggi dalam mendukung kontribusi terhadap isu global.

Salah satu momen paling bermakna dalam kegiatan ini adalah penanaman pohon secara simbolis. Kegiatan ini menjadi representasi nyata bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup hanya melalui pemahaman teori, tetapi juga harus diwujudkan dalam tindakan konkret. Penanaman pohon tersebut menjadi simbol harapan akan masa depan bumi yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Kegiatan kemudian ditutup dengan penegasan bahwa perubahan iklim bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau lembaga internasional, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda. Langkah sederhana seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghemat energi, serta menjaga lingkungan sekitar dapat memberikan dampak besar jika dilakukan secara konsisten.

Melalui kegiatan ini, para mahasiswa berharap dapat menumbuhkan kesadaran kolektif di kalangan pelajar bahwa masa depan bumi berada di tangan generasi muda. Dengan pengetahuan, kepedulian, dan aksi nyata, generasi muda diharapkan mampu menjadi penggerak utama dalam upaya menjaga keberlanjutan lingkungan dan mendukung pencapaian tujuan global dalam mengatasi perubahan iklim.

Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bukti nyata sinergi antara dunia akademik dan pendidikan menengah dalam membangun kesadaran lingkungan sejak dini. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa edukasi tidak hanya terbatas di ruang kuliah, tetapi juga dapat menjangkau masyarakat luas melalui pendekatan yang komunikatif dan partisipatif.

Para mahasiswa berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan di berbagai sekolah agar semakin banyak pelajar memahami pentingnya aksi iklim dan berkontribusi dalam pelestarian lingkungan. Lebih lanjut, kegiatan ini juga diharapkan menjadi inspirasi bagi institusi pendidikan lainnya untuk mengembangkan program edukasi lingkungan serupa.

Peran aktif mahasiswa sebagai agen perubahan menunjukkan bahwa generasi muda memiliki kapasitas besar dalam menyebarkan pengetahuan dan mendorong aksi nyata di masyarakat. Dengan pendekatan edukatif dan kolaboratif, kesadaran lingkungan dapat ditanamkan lebih kuat sejak usia sekolah, sehingga tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi gerakan berkelanjutan yang memberikan dampak jangka panjang bagi kelestarian bumi.

Ketua Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang turut memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan kegiatan ini, baik melalui petunjuk dalam persiapan maupun dukungan fasilitas yang membantu kelancaran kegiatan. Dukungan ini mencerminkan komitmen kampus dalam mendorong mahasiswa agar lebih aktif terlibat dalam isu-isu internasional, terutama yang berkaitan dengan lingkungan dan perubahan iklim.

Editor: Fuad Parhan, Tim NewsFeed.id