BeritaPendidikan

Adaptasi TelkomGroup dalam Menata Ulang Strategi Tenaga Kerja di Tengah Era Digitalisasi

Avatar photo
30
×

Adaptasi TelkomGroup dalam Menata Ulang Strategi Tenaga Kerja di Tengah Era Digitalisasi

Sebarkan artikel ini
1000407164

NEWSFEED.ID — Telkom Indonesia mulai menata ulang strategi tenaga kerjanya di tengah percepatan digitalisasi dan perkembangan kecerdasan buatan (AI). Transformasi tersebut terlihat dari penurunan jumlah karyawan dalam beberapa tahun terakhir, sementara perusahaan tetap mempertahankan fokus pada pengembangan kompetensi sumber daya manusia dan talenta digital. Kondisi ini menunjukkan perubahan cara perusahaan memandang tenaga kerja di era ekonomi digital.

Dalam Laporan Keberlanjutan 2025, jumlah total karyawan Telkom tercatat turun dari 7.469 orang pada 2023 menjadi 4.782 orang pada akhir 2025. Penurunan tersebut terjadi bersamaan dengan meningkatnya penggunaan tenaga kerja non-karyawan, khususnya pada fungsi teknisi jaringan dan pemasaran. Perubahan ini mencerminkan pola kerja perusahaan yang semakin fleksibel dan adaptif terhadap kebutuhan bisnis digital yang bergerak cepat.

Meski jumlah pegawai berkurang, TelkomGroup tetap mempertahankan perhatian pada pengembangan kompetensi SDM. Sepanjang 2025, perusahaan mengalokasikan sekitar Rp163,7 miliar untuk pendidikan, pelatihan, dan sertifikasi karyawan. Total jam pelatihan bahkan mencapai lebih dari 718 ribu jam dalam setahun. Langkah tersebut menunjukkan bahwa perusahaan mulai menyesuaikan kebutuhan tenaga kerja dengan kompetensi yang dibutuhkan dalam transformasi digital, tetapi pada kualitas kompetensi yang dimiliki pekerja untuk menghadapi perubahan teknologi dan model bisnis digital.

Transformasi tersebut semakin terlihat melalui pengembangan talenta digital. Hingga akhir 2025, sekitar 4.279 pekerja atau 20,2 persen dari total karyawan TelkomGroup telah masuk kategori talenta digital. Untuk memperkuat strategi itu, TelkomGroup juga menjalankan berbagai program pengembangan kompetensi digital dan kecerdasan buatan AI yang dikembangkan bersama komunitas teknologi, akademisi, dan startup. Program tersebut telah membina lebih dari 19 ribu talenta digital, termasuk sekitar 15 ribu talenta di bidang kecerdasan buatan.

Perubahan kebutuhan industri telekomunikasi menjadi salah satu faktor utama di balik transformasi tersebut. Perusahaan kini semakin membutuhkan pekerja dengan kemampuan di bidang data, kecerdasan buatan, keamanan siber, dan teknologi digital lainnya. Di tengah perkembangan AI yang semakin pesat, kemampuan adaptasi dan penguasaan teknologi menjadi faktor penting dalam menentukan daya saing perusahaan.

Selain fokus pada kompetensi digital, Telkom juga mulai memperhatikan aspek keberagaman tenaga kerja. Pada 2025, sekitar 31,7 persen karyawan TelkomGroup merupakan perempuan, sementara 21 persen posisi manajerial ditempati perempuan. Perusahaan juga mempekerjakan 106 penyandang disabilitas di berbagai bidang kerja, mulai dari teknologi informasi hingga komunikasi perusahaan. Meski demikian, keterwakilan perempuan di level manajemen senior dan pekerja difabel masih tergolong rendah sehingga menjadi tantangan tersendiri dalam proses transformasi tenaga kerja perusahaan.

Di tengah perubahan tersebut, tingkat keterlibatan karyawan di lingkungan TelkomGroup relatif tetap terjaga. Survei internal perusahaan menunjukkan tingkat employee engagement mencapai 85,13 dan masuk dalam kategori ‘Sangat Terlibat’, meski aspek kesejahteraan finansial masih menjadi perhatian utama karyawan. Kondisi ini menunjukkan bahwa transformasi tenaga kerja tidak hanya berkaitan dengan digitalisasi dan efisiensi perusahaan, tetapi juga menyangkut bagaimana perusahaan menjaga keseimbangan antara produktivitas, pengembangan kompetensi, dan kesejahteraan pekerja.

Adaptasi melalui transformasi yang dilakukan TelkomGroup memperlihatkan bahwa perencanaan tenaga kerja di era digital tidak serta merta hanya berfokus pada kuantitas pekerja namun juga pada sisi kualitas pekerja melalui penyesuaian kompetensi supaya sesuai dengan kebutuhan industri. Penguatan kemampuan digital, analisis data, dan pemanfaatan teknologi berbasis AI menjadi bagian penting dalam mendukung daya saing perusahaan.

Selain meningkatkan efisiensi perusahaan, transformasi digital juga berpotensi menimbulkan kesenjangan keterampilan (skill gap) bagi pekerja yang belum mampu mengikuti perkembangan teknologi. Pekerja dengan kemampuan konvensional berisiko tergeser apabila tidak mendapatkan pelatihan yang memadai.

Untuk menghadapi perubahan kebutuhan tenaga kerja industri digital dan kesenjangan ketrampilan (skill gap), perusahaan perlu memperkuat program reskilling dan upskilling secara berkelanjutan supaya pekerja memiliki kompetensi yang sesuai sehingga mampu beradaptasi dengan teknologi baru. Perusahaan dapat berkolaborasi dengan perguruan tinggi atau lembaga pelatihan kerja guna menciptakan SDM berkualitas, bertalenta digital, siap kerja sesuai kebutuhan industri.

Transformasi yang dilakukan TelkomGroup pada akhirnya memperlihatkan bahwa digitalisasi tidak hanya mengubah model bisnis perusahaan, tetapi juga mengubah cara perusahaan memandang sumber daya manusia. Di era AI dan ekonomi digital, perusahaan kini tidak lagi hanya berfokus pada jumlah tenaga kerja, melainkan pada kemampuan pekerja untuk terus belajar, beradaptasi, dan berkembang, melainkan membangun talenta yang mampu bertahan, beradaptasi, dan berkembang di tengah perubahan teknologi yang berlangsung cepat.

Penulis: Aulia Hafidz, Eqfal Rizki Andika, Iska Agustina, Santika Pramitasari, Syakirah Ramadhani Putri Kurniawan, Retno Febriyastuti Widyawati, S.E., M.Sc.

Editor: Fuad Parhan, Tim NewsFeed.id