Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terus meningkat di Indonesia mulai memunculkan persoalan baru di dunia ketenagakerjaan. Tekanan mental pada generasi muda atau Gen Z kini semakin terlihat di tengah kondisi kerja yang penuh ketidakpastian. Banyak pekerja muda merasa cemas karena peluang kerja semakin sempit sementara persaingan kerja terus meningkat setiap tahun. Situasi di dunia kerja membuat sebagian besar Gen Z sulit merasa aman terhadap masa depan karier mereka. Akhirnya dunia kerja saat ini menuntut produktivitas tinggi dan memberikan tekanan besar terhadap kondisi psikologis pekerja muda.
Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN) mencatat sebanyak 126.160 pekerja mengalami PHK sepanjang 2024 hingga Oktober 2025. Mayoritas korban PHK berasal dari sektor padat karya seperti tekstil, garmen, dan industri sepatu. Jawa Tengah menjadi wilayah dengan angka PHK tertinggi kemudian disusul Jawa Barat dan Banten. Data PHK menunjukkan bahwa ancaman kehilangan pekerjaan masih menjadi persoalan serius bagi tenaga kerja Indonesia, terutama generasi muda yang baru memasuki dunia kerja. Banyak pekerja muda akhirnya memilih bertahan di lingkungan kerja yang penuh tekanan demi menjaga kestabilan penghasilan mereka.
Lonjakan PHK terjadi ketika sektor manufaktur Indonesia sedang mengalami pertumbuhan. Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia meningkat menjadi 51,2 pada Oktober 2025 dan menandakan aktivitas industri berada dalam fase ekspansi. Banyak perusahaan tetap memilih melakukan efisiensi dan otomatisasi produksi sehingga pertumbuhan industri belum mampu menciptakan lapangan pekerjaan secara optimal. Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Muhammad Rizal Taufikurahman, menyebut situasi itu sebagai fenomena jobless recovery yaitu kondisi ketika pertumbuhan ekonomi tidak diikuti peningkatan kesempatan kerja bagi masyarakat.
Tekanan kerja yang semakin tinggi mulai memberikan dampak besar terhadap kesehatan mental pekerja muda. CNBC Indonesia melaporkan bahwa sebanyak 52 persen karyawan mengalami kelelahan kerja kronis atau burnout dan Gen Z menjadi kelompok yang paling merasakan dampaknya. Menurut Model Job Demand–Resources (JD-R), keseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan sumber daya yang dimiliki memengaruhi kesehatan mental tenaga kerja muda. Akibatnya, memiliki tuntutan kerja yang tinggi tanpa dukungan yang memadai dapat menyebabkan stres dan penurunan kesehatan mental. Beban kerja yang semakin berat membuat banyak karyawan mengalami kelelahan mental serta kesulitan membagi waktu antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Tekanan kerja yang terus meningkat akhirnya membuat sebagian pekerja muda kehilangan motivasi kerja dan merasa terjebak dalam lingkungan kerja yang tidak sehat.
Fenomena quarter life crisis kini semakin sering dialami oleh pekerja Gen Z di Indonesia. Fakta bahwa generasi muda mengalami gangguan kesehatan mental bukan hanya masalah kesehatan tetapi juga masalah kebijakan ketenagakerjaan yang membutuhkan peraturan dan program perlindungan pekerja. Tekanan kerja yang tinggi, ancaman PHK, dan persaingan kerja yang semakin ketat membuat banyak pekerja muda kehilangan motivasi serta merasa tidak memiliki arah yang jelas. Generasi muda tidak lagi memandang pekerjaan hanya sebagai sumber penghasilan karena mereka membutuhkan lingkungan kerja yang aman dan mampu menjaga kesehatan mental pekerja. Perusahaan dan pemerintah perlu menciptakan lingkungan kerja yang lebih manusiawi agar generasi muda dapat bekerja tanpa harus mengorbankan kondisi psikologis mereka.
Nama Penulis : Abid Kakarendra, Farlihan Nur Wiyoga Ligar, Dr.Dyah Maya Nihayah, S.E., M.Si. , Retno Febriyastuti Widyawati, S.E., M.Sc.













