NEWSFEED.ID, Tulungagung — Di tengah perkembangan zaman yang semakin maju, dakwah Islam menghadapi tantangan yang tidak ringan. Kemajuan teknologi dan hadirnya media sosial memang membawa banyak manfaat dalam penyebaran ilmu agama. Ceramah kini dapat diakses dengan mudah melalui berbagai platform digital. Masyarakat tidak perlu lagi datang langsung ke majelis ilmu untuk mendengarkan kajian karena semuanya bisa diperoleh melalui media sosial. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul persoalan yang mulai dirasakan oleh banyak kalangan, yaitu krisis prioritas dalam dakwah.
Dakwah yang seharusnya menjadi sarana mengajak manusia menuju kebaikan perlahan mengalami pergeseran tujuan. Saat ini, tidak sedikit dakwah yang lebih menonjolkan sensasi dibandingkan isi pesan yang disampaikan. Sebagian pendakwah lebih sibuk membangun popularitas, mengejar jumlah penonton, serta mencari perhatian publik daripada memikirkan dampak ilmu yang diberikan kepada masyarakat. Akibatnya, dakwah sering kali berubah menjadi perdebatan yang memicu perpecahan dan saling menyalahkan.
Fenomena tersebut sangat mudah ditemukan di media sosial. Banyak potongan video ceramah yang sengaja dibuat dengan judul provokatif agar menarik perhatian pengguna internet. Isi ceramah yang seharusnya menenangkan dan memberikan solusi justru dipenuhi sindiran terhadap kelompok tertentu. Tidak jarang masyarakat lebih tertarik pada dakwah yang penuh kontroversi dibandingkan dakwah yang menyejukkan hati. Kondisi ini menunjukkan bahwa orientasi dakwah mulai bergeser dari pembinaan umat menuju pencarian popularitas.
Padahal, Islam mengajarkan bahwa dakwah harus dilakukan dengan hikmah dan kelembutan. Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nahl ayat 125 yang artinya, “Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” Ayat tersebut menegaskan bahwa dakwah bukanlah sarana untuk menjatuhkan orang lain, melainkan upaya mengajak masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik.
Selain itu, krisis prioritas dakwah juga terlihat dari kurangnya perhatian terhadap persoalan umat yang sebenarnya lebih penting. Banyak generasi muda saat ini mengalami krisis moral, pergaulan bebas, kecanduan media sosial, hingga rendahnya pemahaman agama. Persoalan seperti inilah yang seharusnya menjadi fokus utama dakwah. Namun kenyataannya, sebagian dakwah justru lebih banyak membahas perbedaan kecil yang tidak terlalu mendesak bagi kehidupan masyarakat.
Di sisi lain, masyarakat juga memiliki tanggung jawab dalam menyikapi fenomena tersebut. Umat Islam harus lebih bijak dalam memilih sumber dakwah dan tidak mudah terpengaruh oleh konten yang hanya mengejar sensasi. Dakwah yang baik bukanlah dakwah yang paling ramai diperbincangkan, melainkan dakwah yang mampu memberikan ilmu, memperbaiki akhlak, serta menumbuhkan rasa persaudaraan.
Para pendakwah juga perlu kembali menata niat dalam berdakwah. Dakwah bukan sekadar profesi atau jalan untuk mendapatkan ketenaran, melainkan amanah besar untuk menyampaikan ajaran Islam. Seorang dai seharusnya menjadi teladan dalam sikap, ucapan, dan perilaku. Ketika dakwah dilakukan dengan niat yang tulus, maka pesan yang disampaikan akan lebih mudah diterima oleh masyarakat.
Pada akhirnya, dakwah memiliki peran penting dalam membangun kehidupan umat yang damai dan bermartabat. Oleh karena itu, prioritas dakwah harus dikembalikan pada tujuan utamanya, yaitu memperbaiki akhlak, memperkuat iman, dan menjaga persatuan umat. Jika dakwah terus terjebak dalam kepentingan popularitas dan perdebatan yang tidak bermanfaat, maka nilai luhur dakwah akan semakin memudar. Sebaliknya, apabila dakwah dilakukan dengan bijaksana dan penuh keikhlasan, maka dakwah akan kembali menjadi cahaya yang membawa ketenangan dan harapan bagi masyarakat.











