NEWSFEED.ID, Tulungagung — Perkembangan teknologi digital membuat masyarakat semakin mudah berkomunikasi dan mendapatkan informasi. Media sosial seperti TikTok, Instagram, YouTube, dan X menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi generasi muda. Berbagai informasi dapat tersebar dengan cepat hanya dalam hitungan detik, termasuk konten dakwah dan ceramah keagamaan. Banyak pendakwah kini memanfaatkan media sosial sebagai sarana menyampaikan pesan-pesan kebaikan kepada masyarakat luas.
Namun, kemudahan tersebut juga membawa tantangan baru. Tidak sedikit perdebatan dan konflik muncul akibat perbedaan pendapat di media sosial. Kolom komentar yang seharusnya menjadi tempat berdiskusi sering berubah menjadi ruang pertengkaran antarwarganet. Perbedaan pandangan tentang agama, budaya, bahkan persoalan sehari-hari sering memicu saling hina dan ujaran kebencian. Kondisi ini menunjukkan bahwa penggunaan media sosial masih perlu disertai dengan sikap bijak dan kemampuan menjaga etika dalam berkomunikasi.
Beberapa waktu terakhir, media sosial sering diramaikan oleh potongan video ceramah yang viral di TikTok dan Instagram. Dalam video tersebut, seorang penceramah menyampaikan pendapatnya mengenai gaya hidup anak muda di era modern. Sebagian masyarakat mendukung isi ceramah tersebut karena dianggap mengingatkan tentang pentingnya menjaga akhlak. Namun, sebagian lainnya menilai cara penyampaiannya terlalu keras dan cenderung menyudutkan kelompok tertentu. Akibatnya, kolom komentar dipenuhi perdebatan panjang. Banyak pengguna media sosial saling membalas komentar dengan emosi hingga muncul kata-kata kasar dan sindiran yang memancing permusuhan.
Fenomena seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Di era digital, informasi sering diterima tanpa dipahami secara utuh. Potongan video singkat yang tersebar di media sosial terkadang menimbulkan kesalahpahaman karena tidak memperlihatkan penjelasan secara lengkap. Sayangnya, banyak warganet langsung memberikan komentar tanpa mencari informasi yang lebih jelas terlebih dahulu. Hal inilah yang sering membuat konflik antarwarganet semakin besar.
Melihat kondisi tersebut, sejumlah tokoh agama dan pendakwah muda mulai mengajak masyarakat untuk kembali menghadirkan dakwah yang damai dan menenangkan. Salah satu pendakwah yang dikenal dekat dengan anak muda adalah Habib Husein Ja’far Al Hadar. Ia sering menyampaikan bahwa dakwah seharusnya dilakukan dengan penuh kasih sayang dan tidak mudah menghakimi orang lain. Dalam berbagai podcast, video TikTok, maupun kajian di YouTube, Habib Husein mengingatkan bahwa tujuan dakwah adalah mengajak manusia menuju kebaikan, bukan mempermalukan atau menjatuhkan sesama.
Cara penyampaian Habib Husein yang santai dan mudah dipahami membuat banyak anak muda merasa nyaman mendengarkan dakwah. Ia sering berdiskusi dengan berbagai kalangan, termasuk anak muda yang memiliki pandangan berbeda. Pendekatan seperti ini dianggap lebih efektif karena mampu menciptakan suasana diskusi yang tenang dan terbuka. Banyak warganet juga memberikan tanggapan positif karena merasa dakwah yang lembut lebih menyentuh hati dibanding ceramah yang penuh amarah.
Selain Habib Husein, masyarakat juga mengenal Gus Baha sebagai sosok pendakwah yang sederhana dan menenangkan. Dalam ceramahnya, Gus Baha sering mengingatkan pentingnya menjaga ucapan dan tidak mudah menyalahkan orang lain. Ia juga menekankan bahwa perbedaan pendapat adalah hal yang wajar selama disikapi dengan saling menghormati. Ceramahnya yang ringan dan penuh humor membuat masyarakat lebih mudah memahami pesan agama tanpa merasa takut atau tertekan.
Peristiwa konflik antarwarganet akibat ceramah viral tersebut menjadi pelajaran penting bagi masyarakat. Media sosial memang memberikan kebebasan kepada siapa saja untuk berpendapat, tetapi kebebasan itu tetap harus disertai tanggung jawab. Menyampaikan komentar dengan emosi hanya akan memperkeruh suasana dan memperbesar perpecahan. Sebaliknya, sikap tenang dan saling menghargai dapat membantu menciptakan ruang digital yang lebih sehat.
Generasi muda juga memiliki peran besar dalam menciptakan budaya dakwah damai di media sosial. Saat ini, anak muda menjadi pengguna internet terbesar di Indonesia. Mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pembuat konten yang memiliki pengaruh luas. Karena itu, penting bagi generasi muda untuk menggunakan media sosial sebagai sarana menyebarkan pesan positif, motivasi, dan nilai-nilai kebaikan. Konten dakwah yang kreatif, santun, dan mudah dipahami dapat membantu mengurangi penyebaran ujaran kebencian di dunia digital.
Selain itu, masyarakat juga perlu membiasakan diri untuk memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya. Tidak semua konten yang viral memiliki informasi yang benar dan lengkap. Sikap hati-hati dalam menerima informasi sangat penting agar tidak mudah terprovokasi oleh potongan video atau berita yang belum jelas sumbernya. Dengan begitu, masyarakat dapat mengurangi terjadinya konflik yang disebabkan oleh kesalahpahaman di media sosial.
Dakwah damai bukan berarti menghilangkan ketegasan dalam menyampaikan kebenaran. Dakwah damai justru mengajarkan cara menyampaikan pesan agama dengan bijak, santun, dan penuh empati. Dalam kehidupan sehari-hari, dakwah tidak hanya dilakukan melalui ceramah di mimbar, tetapi juga melalui sikap dan perilaku yang baik kepada sesama. Menghargai perbedaan pendapat, menjaga tutur kata, dan tidak mudah menghina orang lain merupakan bagian dari dakwah yang dapat diterapkan oleh siapa saja.
Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat membutuhkan lebih banyak dakwah yang menenangkan dan membawa kesejukan. Media sosial seharusnya menjadi tempat berbagi ilmu, inspirasi, dan semangat kebaikan, bukan ruang untuk saling membenci. Jika masyarakat mampu menggunakan media sosial dengan bijak, maka teknologi dapat menjadi sarana mempererat persaudaraan dan menyebarkan nilai-nilai positif kepada banyak orang.
Melalui dakwah yang damai, masyarakat dapat belajar bahwa perbedaan tidak harus berakhir dengan permusuhan. Sikap saling menghormati dan kemampuan menjaga etika dalam berdiskusi menjadi kunci penting untuk menciptakan lingkungan digital yang lebih nyaman. Dengan demikian, dakwah di era modern tidak hanya menjadi sarana menyampaikan ajaran agama, tetapi juga menjadi jalan untuk membangun persatuan dan kedamaian di tengah kehidupan masyarakat yang semakin beragam.











