NEWSFEED.ID, BALI — Satupadu Indonesia melaksanakan program inisiatif mengajar di Rumah Edukasi (Rukasi) Merah Putih, Desa Pemuteran, Rendang, Karangasem, Bali pada tanggal 3 dan 10 Agustus 2025. Kegiatan ini melibatkan 15 relawan dan menjangkau lebih dari 100 anak dari berbagai tingkatan pendidikan, dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Program ini sebetulnya adalah salah satu program kerja prioritas dari Satupadu Indonesia. Satupadu Indonesia sendiri merupakan layanan yang membantu organisasi nirlaba atau badan amal untuk mengumpulkan dana dari berbagai sumber, seperti individu, perusahaan, yayasan, atau pemerintah, untuk mendukung tujuan sosial mereka.
“Awalnya program ini dirancang karena keresahan kolektif aja sih, bareng sama teman-teman pengurus Satupadu tahun lalu,” Ujar Arista, Ketua Pelaksana dari program yang diberi nama Satupadu Voluntrip ini.
“Tujuannya pengen berbagi ke adik-adiknya. Biar mereka juga dapat kesempatan mengakses pendidikan berkualitas bagi anak-anak di daerah terpencil yang minim fasilitas belajar. Makanya program ini terbuka bebas untuk siapapun yang mau berbagi dengan sesama.” Sebut Yoni salah satu committee pelaksana kegiatan. “Kita gak ambil untung sama sekali. Uang yang dikumpulin ya uang makan buat bareng-bareng aja sama transportasi buat pulang-pergi” tambah Devani yang juga menjadi committee pada kegiatan ini.
Tak seperti biasanya, implementasi program voluntrip kali ini berada dalam naungan United Nations Association Indonesia (UNAI) dalam rangka memperingati International Youth Day. “Karena program kali ini lolos pendanaan UNAI, makanya skemanya pakai seleksi, nggak seperti yang sebelum-sebelumnya,” ujar Arista saat menyampaikan harapannya. Sesuai dengan ketentuan proposal program yang terseleksi, mereka yang tersaring dalam special chapter kali ini mayoritas memiliki latar belakang pendidikan dan kesehatan.
Selain mengajar, rangkaian kegiatan voluntrip kali ini juga menghadirkan inovasi pembelajaran yang lebih kreatif dan menyenangkan. Para volunteer merancang panduan gamifikasi pembelajaran, games interaktif berupa ular tangga edukatif berisi soal-soal kewarganegaraan, keragaman budaya, self-awareness, dan refleksi diri, penyusunan buku saku kesehatan, hingga pembuatan media belajar lainnya, serta pengumpulan donasi berupa alat kesehatan (sabun, sampo, sikat gigi, pasta gigi) serta alat tulis dan buku cerita yang kemudian disalurkan kepada anak-anak di Rukasi.

Lewat kegiatan ini, para volunteer menyaksikan langsung bagaimana realita pendidikan yang penuh tantangan di wilayah Pemuteran, Karangasem, Bali. “Pengalaman kemarin itu adalah sebuah pengalaman yang membuka hati. Awalnya, saya datang dengan niat sederhana untuk berbagi ilmu dan wawasan, namun sambutan hangat dari anak-anak di sana mengajarkan saya makna yang lebih dalam,” ujar Abi, salah satu volunteer termuda pada program kali ini.
Dalam satu hingga dua kali pertemuan, para volunteer diberikan kesempatan untuk, tidak hanya datang dan ikut berpartisipasi dalam proses belajar-mengajar serta bermain dengan adik-adik di Rukasi, tetapi juga mengembangkan diri mereka dalam prosesnya. “Semoga kedepannya kegiatan ini bisa diperluas ke daerah-daerah lain di Bali, sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh lebih banyak masyarakat.” Sebut Adnyani dalam sesi kesan pesan yang dilangsungkan di akhir kegiatan.
Penulis: Deis Azka Nabila A











