Berita

Urban Farming Tak Lagi Soal Lahan, Dosen UPN Veteran Jatim Rancang Pola Bertani di Tengah Keterbatasan Waktu

Avatar photo
59
×

Urban Farming Tak Lagi Soal Lahan, Dosen UPN Veteran Jatim Rancang Pola Bertani di Tengah Keterbatasan Waktu

Sebarkan artikel ini
1000549970
Sumber: Dokumentasi Pribadi - Pemaparan materi oleh dosen UPN Veteran Jatim dalam kegiatan pengabdian masyarakat bersama anggota PR Fatayat NU Gunung Anyar Lor (19/07)

SURABAYA – Urban farming selama ini identik dengan keterbatasan lahan. Namun bagi sebagian masyarakat perkotaan, persoalannya tidak berhenti di situ. Waktu menjadi kendala yang sama besarnya ketika ingin memulai kegiatan produktif di rumah.

Kondisi tersebut juga dirasakan oleh anggota PR Fatayat NU Gunung Anyar Lor. Permasalahan ini teridentifikasi saat tim melakukan survei awal pada Februari 2026 dalam rangka penjajakan mitra. Hasil survei tersebut kemudian disusun menjadi proposal pengabdian yang dilaksanakan melalui skema Hibah Internal PKM-EDU Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur, dengan puncak kegiatan penyuluhan pada 19 Juli 2026. Sebagian besar peserta merupakan ibu rumah tangga, sementara sebagian lainnya bekerja di luar rumah.

“Kami ingin ada kegiatan yang bisa menghasilkan, tetapi jangan sampai menjadi beban baru bagi anggota. Lahannya terbatas, waktunya juga tidak banyak. Karena itu kami membutuhkan kegiatan yang memang sesuai dengan kondisi kami,” kata Ketua PR Fatayat NU Gunung Anyar Lor.

Masukkan dari peserta tersebut kemudian menjadi dasar tim dosen UPN Veteran Jawa Timur dalam menyusun materi penyuluhan. Tim yang dipimpin Intan Mega Maharani S.P., M.P, dosen Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian, tidak mengenalkan urban farming berdasarkan jenis budidaya, tetapi berdasarkan urutan waktu panen.

“Kalau hasil pertama datang terlalu lama, biasanya semangat peserta ikut turun. Karena itu kami menyusun materi agar peserta lebih dulu memperoleh hasil dalam waktu singkat sebelum masuk ke budidaya yang membutuhkan waktu lebih panjang,” kata Intan.

Penyuluhan diawali dengan budidaya microgreen yang dapat dipanen sekitar tujuh hingga empat belas hari setelah tanam. Tahap berikutnya adalah sayuran hidroponik yang umumnya dipanen dalam waktu tiga hingga enam minggu, bergantung pada jenis tanaman. Setelah itu peserta diperkenalkan pada budikdamber dengan masa panen sekitar tiga hingga empat bulan.

Urutan tersebut disusun agar peserta tidak menunggu terlalu lama untuk melihat hasil pertama. Setelah microgreen dipanen, peserta mulai memasuki siklus budidaya berikutnya melalui hidroponik. Budikdamber menjadi tahap terakhir dengan masa pemeliharaan yang lebih panjang sekaligus nilai ekonomi yang lebih besar.

Selama ini banyak pelatihan urban farming memperkenalkan berbagai teknik budidaya secara terpisah. Dalam kegiatan di Gunung Anyar Lor, ketiga komoditas justru disusun sebagai satu rangkaian berdasarkan waktu panen. Pendekatan itu menyesuaikan dengan kondisi peserta yang harus membagi waktu antara pekerjaan rumah tangga, pekerjaan utama, dan aktivitas organisasi.

Kasus di Gunung Anyar Lor menunjukkan bahwa tantangan urban farming di kawasan perkotaan mulai bergeser. Persoalannya bukan hanya menyediakan ruang untuk menanam, tetapi juga merancang kegiatan yang tetap dapat dijalankan di tengah ritme hidup masyarakat yang semakin padat.

  • Intan Mega Maharani
  • UPN Veteran Jawa Timur
  • megammaharani@gmail.com
  • 081230285703
  • 1000549987
    1000549987
  • Setuju
Editor: Fuad Parhan, Tim NewsFeed.id