NEWSFEED.ID, Semarang – Mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) menghadirkan inovasi nyata dalam program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Tahun 2025. Salah satu karya menarik datang dari Aura Damayanti, mahasiswa Sekolah Vokasi Program Studi Teknologi Rekayasa Otomasi, yang tergabung dalam Kelompok 2 Tim KKN-T 105 Plamongansari.
Di bawah bimbingan dosen Fakultas Ilmu Budaya, Fajrul Falah, S.Hum., M.Hum. dan Riris Tiani, S.S., M.Hum., Aura merancang prototype pengering maggot semi otomatis sebagai bentuk dukungan terhadap budidaya maggot yang baru mulai dikenalkan kepada warga di Balai RW 5, Kelurahan Plamongansari, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang.

Maggot—larva dari lalat Black Soldier Fly—dikenal sebagai pakan ternak berprotein tinggi dan solusi ramah lingkungan untuk pengolahan limbah organik. Meskipun tergolong baru, warga sudah mulai menunjukkan ketertarikan, terutama setelah mengetahui bahwa budidaya ini memiliki potensi bisnis dengan profit tinggi dan tingkat persaingan yang masih rendah. Hal ini membuka peluang besar bagi masyarakat untuk memulai usaha yang menjanjikan dari skala rumah tangga.

Namun, salah satu tantangan utama dalam budidaya ini adalah proses pengeringan maggot. Tanpa pengeringan yang baik, maggot sulit disimpan lama dan nilai jualnya menurun. Aura menjawab tantangan tersebut dengan merancang alat pengering semi otomatis berbasis thermostat STC-1000, dilengkapi heater paralel yang menjaga suhu tetap stabil secara otomatis. Sistem ini mematikan pemanas saat suhu cukup, dan mengaktifkannya kembali saat suhu turun—hemat energi dan mudah digunakan.
“Prototype alat ini dibuat supaya proses pengeringan maggot jadi lebih cepat, efisien, dan nggak ribet. Jadi warga bisa fokus ke pengelolaan usaha tanpa harus khawatir soal pengeringan manual,” jelas Aura.
Selain mendesain alat, Aura juga melakukan sosialisasi kepada warga RW 5 tentang pentingnya proses pascapanen seperti pengeringan, serta bagaimana maggot bisa menjadi produk bernilai jual tinggi bila dikemas dan dipasarkan secara benar.
“Harapannya, warga nggak cuma budidaya aja, tapi juga mulai mikir lebih jauh. Kalau prosesnya rapi, produknya bersih dan siap jual, maggot ini bisa jadi peluang bisnis nyata,” tambahnya.
Inovasi ini menjadi contoh penerapan ilmu otomasi dalam konteks pemberdayaan masyarakat. Diharapkan desain ini dapat direalisasikan dan digunakan oleh pelaku budidaya lokal, sekaligus membuka inspirasi untuk memulai usaha berkelanjutan berbasis teknologi dan lingkungan.











