NEWSFEED.ID, SEMARANG – Dalam rangka mewujudkan pertanian sehat dan berkelanjutan Tim KKN Universitas Diponegoro Tahun 2025 yang tergabung dalam Tim 85 RW 01 Kelurahan Tambangan, Kecamatan Mijen menggelar sosialisasi program kerja Multidisiplin 1 bertema Optimalisasi Pengolahan Pangan Lokal Untuk Generasi Sehat dan Multidisiplin 2 bertema Pemanfaatan dan Pengolahan Limbah Plastik Melalui Program 3R yang diadakan di Balai Pertemuan RW 01 pada tanggal 20 Juli 2025 dengan sasarannya yaitu Kelompok Tani Ternak Ngudi Makmur.
Program ini difokuskan berisi tentang pertanian sehat berkelanjutan berbasis pemanfaatan lokal, pengendalian hama ramah lingkungan, dan berprinsip 3R. Program kerja yang diselenggarakan terdapat tiga kegiatan yaitu Edukasi Pestisida Nabati yang disampaikan oleh Rafi Dwizena Anggoro mahasiswa Biologi Universitas Diponegoro, Pembuatan Perangkap Hama Serangga Ramah Lingkungan (Yellow Sticky Trap) yang disampaikan oleh Nalista Dwi Anggraeni mahasiswa Agroekoteknologi Universitas Diponegoro, dan Sosialisasi Pembuatan Tempe Jagung yang disampaikan oleh Ahmad Dzaky Ranggajaya mahasiswa Kimia Universitas Diponegoro.
Rafi Dwizena Anggoro, mahasiswa Biologi Universitas Diponegoro menjalankan kegiatan sosialisasi dalam program Kuliah Kerja Nyata Tim 85 RW 01 Kelurahan Tambangan, Kecamatan Mijen, dengan program yang berjudul “Tanaman Sehat, Gizi Hebat”, Rafi menyampaikan materi penyuluhan teori tentang penggunaan pestisida nabati, yang diharapkan dapat menjadi alternatif ramah lingkungan bagi petani lokal. Dalam penyuluhannya, Rafi memaparkan bahwa bahan-bahan alami seperti daun pepaya, cabai, bawang putih, dan kulit bawang merah dapat dimanfaatkan untuk membuat pestisida yang aman bagi manusia dan lingkungan, serta lebih murah dibandingkan pestisida kimia.
“Pestisida nabati adalah ramuan pengendali hama yang dibuat dari bahan alami. Pestisida ini lebih ramah lingkungan, lebih aman bagi para petani, dan cocok untuk pertanian sehat dan berkelanjutan dibandingkan menggunakan pestisida kimia yang dapat membahayakan lingkungan” ujar Rafi di hadapan para Kelompok Tani Ngudi Makmur RW 01 Tambangan.
Walaupun hanya berupa penyuluhan teori, materi yang disampaikan mendapat perhatian dari kelompok tani ternak Ngudi Makmur sehingga kelompok tani menginginkan diadakan demonstrasi tata cara pembuatan pestisida nabati sehingga para petani bisa membuatnya sendiri di rumah
“Materi yang disampaikan sangat menarik dan mudah dipahami. Kami jadi tahu bahwa bahan-bahan alami seperti kulit bawang, cabai, dan daun pepaya ternyata juga bisa dibuat jadi pestisida alami. Harapannya ke depan bisa ada praktik langsung, jadi kami bisa lebih paham cara pembuatannya dan kami siap untuk membantu mempersiapkan bahan bahannya juga” ujar Bapak Sukarno, Ketua RW 01 Tambangan.
Edukasi ini menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pertanian sehat dan berkelanjutan, sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya lokal. Rafi berharap di masa mendatang para petani dapat mulai mempertimbangkan penggunaan pestisida nabati sebagai alternatif yang lebih aman, terjangkau, dan ramah lingkungan. Rafi juga meyakini bahwa dengan beralih ke pestisida nabati, petani tidak hanya melindungi tanaman dari serangan hama, tetapi juga melindungi kesehatan tanah, lingkungan sekitar, dan konsumen hasil dari panen para petani.
Sementara itu, Nalista Dwi Anggraeni memperkenalkan Yellow Sticky Trap, perangkap hama serangga ramah lingkungan berbahan botol bekas yang diwarnai kuning dan dilapisi lem khusus. Nalista menjelaskan bahwa warna kuning mampu menarik perhatian hama terbang seperti wereng, kutu daun, lalat buah, dan thrips, sehingga hama akan menempel dan sulit lepas. Perangkap ini dinilai efektif menekan populasi hama tanpa pestisida kimia, mudah dibuat dari bahan sederhana, dan mendukung prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle).
Pemaparan materi berlangsung interaktif dan hidup, terlihat dari peserta yang antusias dan aktif mengajukan berbagai pertanyaan. Selain pemaparan materi, dilakukan pula demonstrasi pembuatan perangkap secara langsung menggunakan bahan-bahan sederhana yang mudah didapatkan.
Sebagai bentuk dukungan, mahasiswa KKN membagikan Yellow Sticky Trap yang telah dibuat kepada petani untuk dipasang di lahan mereka. Petani diajak memasang perangkap pada area lahan mereka sebagai langkah pencegahan sekaligus pengendalian populasi hama secara berkelanjutan. “Alat dan bahan yang dibutuhkan mudah untuk didapatkan dan cukup murah. Setelah ini saya akan mencoba memasang di lahan tanam saya,” ujar salah satu petani sambil memegang perangkap yang baru saja diterimanya.
Sebagai bukti nyata efektivitasnya, mahasiswa KKN sempat berbincang dengan salah satu anggota kelompok tani beberapa hari setelah sosialisasi. Beliau menyampaikan bahwa Yellow Sticky Trap yang dipasang di lahan budidaya sudah berhasil menangkap berbagai jenis serangga. Hal ini membuktikan bahwa metode ini dapat menjadi solusi praktis dan ramah lingkungan dalam mengurangi populasi hama tanpa bergantung pada pestisida kimia.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal penerapan teknologi sederhana namun efektif, sehingga hasil panen petani di RW 01 Kelurahan Tambangan dapat lebih optimal dan berkualitas.
Pada saat yang sama, antusiasme warga terhadap pembuatan tempe jagung sangat tinggi. Hal ini dikarenakan mayoritas warga setempat memproduksi jagung sebagai hasil pertanian utama mereka. Pada sosialisasi ini ada beberapa hal penting yang disampaikan seperti proses produksi, variasi tempe dengan bahan utama lain, dan olahan yang dapat dibuat dengan tempe jagung ini.
Peserta sosialisasi yang terdiri dari anggota Kelompok Tani RW 01 Kelurahan Tambangan terlihat antusias mengikuti sosialisasi ini, bahkan beberapa menyatakan tertarik untuk mencoba memproduksi tempe jagung secara mandiri. Menurut mereka, inovasi ini dapat menjadi peluang usaha rumahan sekaligus memperkaya variasi pangan lokal di masyarakat.
“Tempe jagung ini berpotensi sebagai pangan lokal yang dapat dijadikan ciri khas Kelurahan Tambangan. Kelurahan Tambangan juga tidak mau kalah dengan daerah lain yang telah memproduksi tempe lezat dengan bahan utama yang diambil dari daerahnya masing-masing. Tempe jagung ini kalau bisa ingin kami kembangkan lebih lanjut.” Ujar salah satu anggota kelompok tani.
Dengan sosialisasi tempe jagung ini harapannya tujuan utama dari locavore KKNT UNDIP dapat tercapai serta memaksimalkan potensi pangan lokal yang ada di Kelurahan Tambangan khususnya di RW 01.
Penulis: Nalista Dwi Anggraeni, Ahmad Dzaky Ranggajaya, Rafi Dwizena Anggoro
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL):
1. Dr.techn. Asep Muhamad Samsudin, S.T.,M.T.
2. Prof. Dr.Ing. Ir. Suherman, S.T., M.T











