ArtikelKesehatan

Saat Kemasan Menjual Janji, Fakta Gizi Menyampaikan Bukti

Avatar photo
60
×

Saat Kemasan Menjual Janji, Fakta Gizi Menyampaikan Bukti

Sebarkan artikel ini

NEWSFEED.ID, Jakarta — Ketika berdiri di depan rak minimarket, konsumen dihadapkan pada beragam pilihan makanan dan minuman dengan kemasan yang menarik serta berbagai klaim kesehatan yang menggoda. Mulai dari ‘tinggi protein’, ‘rendah lemak’, hingga ‘kaya vitamin’, semuanya seolah menawarkan pilihan yang lebih baik. Namun, di balik strategi pemasaran tersebut, terdapat satu bagian yang justru sering luput dari perhatian, yaitu informasi nilai gizi. Padahal, informasi inilah yang dapat membantu masyarakat memahami kandungan sebenarnya dari produk yang dikonsumsi dan mengambil keputusan yang lebih bijak bagi kesehatan.

Perubahan gaya hidup masyarakat modern telah mengubah pola konsumsi pangan secara signifikan. Kesibukan aktivitas sehari-hari membuat makanan dan minuman kemasan menjadi pilihan yang praktis. Di sisi lain, kemudahan tersebut juga membawa tantangan baru berupa meningkatnya konsumsi gula, garam, dan lemak yang sering kali tidak disadari oleh konsumen.

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa obesitas pada penduduk usia dewasa masih menjadi masalah kesehatan yang cukup tinggi. Kondisi ini perlu menjadi perhatian karena obesitas merupakan faktor risiko berbagai penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, dan stroke.

Berbagai penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa literasi gizi berperan penting dalam membentuk perilaku konsumsi masyarakat.

Septilia dan FD (2024) menemukan adanya hubungan antara pengetahuan membaca label makanan kemasan dengan status gizi remaja. Hafifah, Indrawati, dan Hatussaadah (2025) melaporkan bahwa tingkat pengetahuan berhubungan dengan perilaku membaca label gizi. Sementara itu, Sugihartin dan Purnasari (2025) menunjukkan bahwa kemampuan membaca informasi nilai gizi berkaitan dengan frekuensi konsumsi minuman berpemanis. Temuan-temuan tersebut menegaskan bahwa pemahaman terhadap label pangan dapat memengaruhi pilihan makanan sehari-hari.

Di tengah maraknya promosi pangan kemasan, konsumen sering kali lebih tertarik pada klaim yang ditampilkan di bagian depan kemasan dibandingkan informasi yang terdapat pada tabel gizi. Padahal, klaim seperti ‘tinggi serat’, ‘rendah lemak’, atau ‘mengandung vitamin’ hanya menggambarkan sebagian kecil dari karakteristik produk. Fakta gizi merupakan sumber informasi yang lebih objektif karena menunjukkan jumlah energi, protein, karbohidrat, lemak, gula, dan natrium yang terkandung dalam produk. Informasi ini membantu konsumen memahami apa yang sebenarnya dikonsumsi, bukan sekadar mempercayai pesan pemasaran yang ditampilkan produsen.

Cara Membaca Label Gizi dengan Benar

  1. Perhatikan takaran saji karena seluruh informasi gizi dihitung berdasarkan satu porsi sajian.
  2. Cek jumlah energi atau kalori untuk mengetahui kontribusi produk terhadap kebutuhan energi harian.
  3. Amati kandungan gula. Kementerian Kesehatan RI menganjurkan konsumsi gula maksimal 50 gram per hari.
  4. Perhatikan kandungan natrium (garam) karena konsumsi berlebih dapat meningkatkan risiko hipertensi.
  5. Periksa kandungan lemak, terutama lemak jenuh dan lemak trans.
  6. Pahami Persen Angka Kecukupan Gizi (%AKG). Nilai 5% atau kurang tergolong rendah, sedangkan 20% atau lebih tergolong tinggi.
  7. Baca daftar komposisi. Bahan yang ditulis pertama menunjukkan jumlah terbanyak dalam produk.
  8. Jangan hanya terpaku pada klaim kemasan. Pastikan setiap klaim dikonfirmasi melalui informasi nilai gizi.

Agar lebih mudah diingat, terapkan prinsip 3C: Cek Takaran Saji, Cek Gula-Garam-Lemak, dan Cek Komposisi Bahan.

Solusi atau Rekomendasi

Meningkatkan literasi gizi membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Sekolah dan perguruan tinggi dapat memperkuat edukasi mengenai label pangan. Tenaga kesehatan dan ahli gizi dapat memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan informasi yang benar dan mudah dipahami. Di tingkat individu, masyarakat perlu membiasakan diri membaca informasi nilai gizi sebelum membeli produk. Selain itu, penting untuk mengingat pedoman GGL dari Kementerian Kesehatan RI, yaitu membatasi konsumsi gula maksimal 50 gram, garam 5 gram, dan lemak 67 gram per hari. Informasi pada label pangan dapat membantu masyarakat mengontrol asupan tersebut.

Penutup

Pada akhirnya, kesehatan tidak hanya ditentukan oleh keputusan besar, tetapi juga oleh pilihan kecil yang dilakukan setiap hari. Membaca label gizi mungkin hanya membutuhkan waktu kurang dari satu menit, tetapi kebiasaan tersebut dapat membantu seseorang memahami apa yang benar-benar masuk ke dalam tubuhnya. Ketika kemasan menjual janji, fakta gizi menyampaikan bukti. Dan di tengah banyaknya pilihan pangan yang tersedia, bukti adalah dasar terbaik untuk membuat keputusan yang lebih sehat.

Referensi

  1. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, Kementerian Kesehatan RI.
  2. Septilia, M., & FD, T.Y. (2024). Hubungan Pengetahuan Membaca Label Makanan Kemasan dan Kepatuhan Membaca Label Makanan Kemasan dengan Status Gizi pada Remaja.
  3. Hafifah, H., Indrawati, I., & Hatussaadah, S.F. (2025). Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Perilaku Membaca Label Gizi pada Remaja di SMKN 6 Kota Jambi.
  4. Sugihartin, R.H., & Purnasari, G. (2025). Hubungan Pengetahuan Gizi dan Kemampuan Membaca Informasi Nilai Gizi dengan Frekuensi Konsumsi Minuman Kemasan Berpemanis.
  5. Dwijayanti, I., & Mutiarani, A.L. (2025). Peningkatan Literasi Makanan Terkait Informasi Nilai Gizi pada Label Makanan Kemasan.
Firman Setiawan

Penulis: Zulvia Sinta Maulidyana, S.Gz

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Dietisien

Editor: Fuad Parhan, Tim NewsFeed.id