NEWSFEED.ID, Serang — Bagi Gen Z, QRIS bukan lagi sekadar alat bayar, melainkan gaya hidup. Akan tetapi, apakah kemudahan yang sama dirasakan oleh para lansia? Mari kita selidiki bagaimana QRIS membawa dampak yang luar biasa, sekaligus tantangan adaptasinya bagi generasi yang lebih senior.
Perkembangan teknologi digital telah merubah cara masyarakat bertransaksi, termasuk dalam sistem pembayaran. Salah satu inovasi utama adalah penggunaan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) sebuah standar nasional yang ditujukan untuk menciptakan ekosistem keuangan yang lebih inklusif dan efisien yang diperkenalkan oleh Bank Indonesia pada tahun 2019.

Meskipun QRIS telah digunakan dengan baik oleh generasi muda, tetapi masih rendah di kalangan lansia. Salah satu faktor yang mempengaruhi penggunaan QRIS di kalangan lansia adalah keterbatasan literasi digital banyak lansia yang sulit memahami cara memindai scan code, memasukan pin, dan memastikan saldo mencukupi di dalam dompet digital. Serta banyak juga lansia yang kenyamanan nya sudah melekat pada kebiasaan bertransaksi menggunakan uang tunai karena terlihat nyata dan lebih mudah di hitung.
QRIS adalah Quick Response Code Indonesian Standard dibaca “Kris” merupakan standar QR Code Pembayaran yang ditetapkan oleh Bank Indonesia untuk digunakan dalam memfasilitasi transaksi pembayaran di Indonesia. QRIS dikembangkan oleh industri sistem pembayaran bersama dengan Bank Indonesia agar proses transaksi dengan QR Code dapat lebih cepat, mudah, murah, aman, dan andal. (BI). Dengan satu QR Code, pengguna dapat melakukan pembayaran dari berbagai aplikasi seperti GoPay, OVO, DANA, ShopeePay, LinkAja, hingga mobile banking.

Salah satu sasaran utama dari pengguna QRIS adalah Generasi Z (1997-2010) atau dikenal juga dengan sebutan generasi digital native karena menjadi generasi pertama yang terhubung dengan teknologi dan digital dari sejak dilahirkan (Lanier, 2017). Penggunaan QRIS diminati oleh era generasi Z masa kini. Karena dianggap lebih memudahkan dalam pembayaran transaksi pembelian cukup hanya dengan scan QRIS sudah dapat melakukan pembelian.
Keunggulan QRIS bagi Gen Z:
- Praktis dan Cepat, gen z tidak perlu lagi membawa dompet karena dengan sekali scan, memasukan pin, dan transaksi selesai.
- Hemat waktu, gen z yang terbiasa multitasking bisa melakukan pembayaran dalam hitungan detik.
- Universal, bisa digunakan melalui lintas seperti e-wallet atau mobile banking.
Tetapi bagaimana penggunaan QRIS untuk lansia? Banyak lansia yang masih mengeluh terhadap pembayaran digital Karena dari beberapa lanisa banyak yang belum pernah menggunakan smartphone. Masih ingat kah kalian berita seorang lansia yang ingin membeli roti tetapi di tolak oleh UMKM karena system perusahaan menerapkan payment hanya bisa melalui QRIS?
Terdapat seorang Lansia ingin membeli roti, tetapi UMKM menolak permintaannya karena ada Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan tentang kebenaran tindakan tersebut dari perspektif moral, sosial, dan prinsip pelayanan konsumen. Akibatnya, analisis lebih lanjut diperlukan untuk mengimbangi kepatuhan terhadap SOP dengan nilai kemanusiaan, keadilan, dan tanggung jawab pelaku usaha dalam memberikan pelayanan kepada seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok lansia.
Bagi UMKM mohon dapat membantu lansia tetap berbelanja dengan memberikan kebijakan pelayanan yang lebih inklusif dan fleksibel tanpa mengabaikan Standar Operasional Prosedur (SOP). Mereka dapat menawarkan pendampingan khusus, menyederhanakan proses transaksi, dan menyediakan metode pembayaran alternatif seperti uang tunai yang mudah dipahami oleh para lansia. Sehingga pelayanan tetap efektif, efisien, dan dapat diakses secara adil untuk semua pelanggan, termasuk orang lanjut usia.











