“Teman-Teman Pada Nongkrong, Masa Aku Nggak Ikut?”
Bayangkan teman-teman kampus mengajak nongkrong di kafe populer dengan harga minuman yang cukup mahal. Meskipun sebenarnya tidak membutuhkan, banyak mahasiswa tetap ikut karena takut ketinggalan obrolan, tidak masuk dalam lingkaran pertemanan, atau dianggap kurang gaul.
Fenomena ini semakin sering terjadi, mulai dari nongkrong di kafe, mengikuti tren fashion, menonton konser, hingga membeli gadget terbaru. Akibatnya, banyak aktivitas yang sebenarnya hanya keinginan terasa seperti kebutuhan. Pertanyaannya: apakah semua itu benar-benar kebutuhan, atau sekadar ikut?
Sebelum menjawab, kita perlu kenalan dulu dengan satu istilah yang mungkin sudah tidak asing: FOMO.
Apa Itu FOMO?
FOMO adalah singkatan dari Fear of Missing Out, rasa takut ketinggalan sesuatu yang dilakukan atau dialami orang lain. Istilah ini dipopulerkan oleh peneliti Dr. Andrew Przybylski dari Universitas Oxford, yang dalam studinya di tahun 2013 mendefinisikan FOMO sebagai:
“…pervasive apprehension that others might be having rewarding experiences from which one is absent…”
Sederhananya: takut kalau orang lain lagi asyik-asyiknya, sementara kamu nggak ada di sana.
Kebutuhan vs. Keinginan: Bedanya Nggak Sesederhana yang Dikira
Kebutuhan
Kebutuhan adalah hal yang benar-benar harus dipenuhi agar kamu bisa berfungsi dengan baik makan, tempat tinggal, biaya kuliah, transportasi ke kampus, dan kesehatan. Ini sifatnya esensial.
Keinginan
Keinginan adalah hal yang ingin kamu miliki atau lakukan, tapi hidup tetap bisa berjalan normal tanpa itu. Bukan berarti keinginan itu salah tapi keinginan yang dikejar tanpa pertimbangan bisa merusak kondisi finansial.
Contoh nyata dalam kehidupan mahasiswa:
| Kebutuhan | Keinginan (FOMO-driven) |
| Makan nasi di warung makan (Rp10–15rb) | Ngopi di café hits (Rp45–60rb) |
| Beli kuota internet untuk kuliah daring | Upgrade HP baru biar konten-nya estetik |
| Beli buku teks / fotokopi materi kuliah | Beli merchandise idol / outfit tren TikTok |
| Bayar kost atau pondokan | Sewa penginapan di kota lain buat staycation |
| Naik angkot/bus ke kampus | Ojek online biar lebih “kekinian” |
Tentu saja sesekali ngopi di café atau beli baju baru bukan hal yang salah. Yang jadi masalah adalah ketika itu dilakukan karena tekanan sosial, bukan karena kamu memang mampu dan menginginkannya dengan sadar.
Mengapa Mahasiswa Gampang Terjebak FOMO Finansial?
1. Tekanan Sosial & Gengsi
Di lingkungan pertemanan, banyak orang merasa harus selalu mengikuti tren agar tidak dianggap berbeda atau tertinggal. Penelitian dalam Jurnal Insan Pendidikan dan Sosial Humaniora (2023) menunjukkan bahwa FOMO berpengaruh signifikan terhadap perilaku mahasiswa, terutama dalam mendorong konformitas terhadap tren gaya hidup.
2. Pengaruh Media Sosial
Media sosial sering menampilkan momen terbaik kehidupan seseorang sehingga dapat menciptakan standar gaya hidup yang tidak realistis. Penelitian Silooy & Titaley dalam ARU Journal (2025) menemukan bahwa FOMO dan gaya hidup digital meningkatkan perilaku konsumtif, sedangkan pengendalian diri membantu mengurangi kecenderungan tersebut.
3. Rendahnya Literasi Keuangan
Banyak mahasiswa belum pernah diajarkan cara mengelola keuangan secara formal. Mereka tidak tahu cara membuat anggaran, menabung, atau membedakan aset dari liabilitas.
| Literasi Keuangan Indonesia (SNLIK OJK & BPS, 2024) | |
| Indeks literasi keuangan nasional Indonesia 2024 | 65,43% |
| Skor OECD Indonesia 2023 (di bawah rata-rata global 60,3) | 57 poin |
| Kelompok pelajar/mahasiswa masuk kategori literasi keuangan RENDAH | Ya ✓ |
Sumber: OJK & BPS, Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024
OJK dalam SNLIK 2024 secara eksplisit menyebut pelajar/mahasiswa sebagai salah satu kelompok dengan literasi keuangan terendah, dan menargetkan kelompok ini sebagai prioritas edukasi ke depan.
4. Konformitas & Identitas Diri
Mahasiswa yang masih berada dalam tahap pencarian jati diri cenderung lebih mudah terpengaruh lingkungan dan tren. Riset Pusat Riset Kependudukan BRIN (2024) menunjukkan bahwa FOMO menjadi salah satu faktor yang mendorong perilaku konsumtif berlebih di kalangan anak muda.
Dampak Nyata: Bukan Sekadar Dompet Tipis
Kalau FOMO dibiarkan mengendalikan keputusan finansial, dampaknya bisa lebih serius dari sekadar kehabisan uang sebelum akhir bulan.
- Uang cepat habis tanpa disadari karena sering digunakan untuk mengikuti tren, nongkrong, atau membeli hal-hal yang sedang viral.
- Sulit menabung, bahkan sebagian mahasiswa rela mengorbankan anggaran penting demi mengikuti tren, menurut survei Co-Creation Journal (2025).
- Berisiko terlilit utang, karena penggunaan fitur paylater atau pinjaman online untuk memenuhi gaya hidup yang melebihi kemampuan finansial. Penelitian di Jurnal Ilmiah Sain dan Teknologi (2024) menunjukkan FOMO berpengaruh signifikan terhadap penggunaan pinjaman online di kalangan mahasiswa.
- Menimbulkan stres dan kecemasan finansial, terutama ketika kondisi keuangan tidak mampu mendukung gaya hidup yang ingin dipertahankan. The Conversation Indonesia (2025) melaporkan bahwa FOMO dapat memicu depresi pada sebagian anak muda.
Cara Keluar dari Jebakan FOMO Finansial
Kabar baiknya: FOMO bisa dikelola. Kamu nggak harus jadi orang paling hemat se-kampus, tapi kamu bisa jadi lebih sadar finansial. Ini beberapa langkah konkret yang bisa dimulai sekarang:
1. Bikin Anggaran Sederhana Tiap Bulan
Setiap awal bulan, catat semua pemasukan dengan membagi pemasukan untuk kebutuhan, tabungan, dan hiburan agar pengeluaran lebih terkontrol.
2. Kenali Pemicumu
dengan bertanya apakah suatu keinginan muncul karena kebutuhan atau hanya takut ketinggalan tren. Jika ragu, tunda keputusan selama 24 jam.
3. Kurangi Paparan Konten Pemicu
Membatasi media sosial dan menghindari akun yang membuatmu sering membandingkan diri dengan orang lain.
4. Temukan Identitas yang Tidak Tergantung Konsumsi
Fokus pada kegiatan positif seperti mengembangkan keterampilan, berolahraga, atau bergabung dalam komunitas yang bermanfaat.
5. Tingkatkan Literasi Keuangan
Melalui buku, konten edukasi, atau aplikasi pencatat keuangan agar lebih bijak dalam mengelola uang dan mengambil keputusan finansial.
Kamu Tidak Harus Ada di Mana-Mana
FOMO sering membuat seseorang merasa harus mengikuti tren demi mendapatkan kebahagiaan, padahal pengeluaran yang didorong oleh tekanan sosial tidak selalu membawa kepuasan dan bahkan bisa menimbulkan masalah keuangan. Menjadi bijak secara finansial bukan berarti tidak boleh bersenang-senang, melainkan mampu menikmati kehidupan sosial sesuai kemampuan tanpa rasa cemas atau bersalah.
Karena itu, sebelum mengambil keputusan finansial, penting untuk bertanya pada diri sendiri apakah pengeluaran tersebut benar-benar merupakan kebutuhan, keinginan yang disadari, atau hanya akibat rasa takut tertinggal (FOMO). Dengan begitu, keputusan keuangan yang diambil akan lebih sehat dan terarah.











