ArtikelOpini

Harmoni di Tengah Perbedaan: Gereja Paroki dan Masjid Sabilillah Malang Wujudkan Kerukunan Nyata

Avatar photo
39
×

Harmoni di Tengah Perbedaan: Gereja Paroki dan Masjid Sabilillah Malang Wujudkan Kerukunan Nyata

Sebarkan artikel ini

NEWSFEED.ID, Malang — Kawasan Blimbing, Malang, menyimpan sebuah potret indah tentang bagaimana perbedaan dapat berjalan beriringan. Berdiri kokoh secara berdampingan, Masjid Sabilillah dan Gereja Katolik Paroki Santo Albertus de Trapani kini menjadi simbol toleransi yang hidup dan nyata di tengah masyarakat. Kehadiran dua rumah ibadah megah ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan cerminan dari kuatnya akar kedamaian dan harmoni antarumat beragama yang terjaga erat di Kota Malang.

Secara geografis, posisi masjid dan gereja besar yang saling berhadapan langsung ini menyajikan bukti visual yang kuat bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang untuk hidup rukun. Selama bertahun-tahun berdampingan, kawasan ini sepi dari gesekan, tidak pernah ada keluhan maupun konflik berbasis agama yang mencoreng lingkungan setempat. Sebaliknya, masyarakat di sekitar Blimbing berhasil membuktikan bahwa ruang publik yang inklusif dapat melahirkan rasa saling hormat dan menjaga ketenteraman bersama secara konsisten.

Kerja sama nyata antara Gereja Paroki dan Masjid Sabilillah Malang tercermin melalui berbagai bentuk solidaritas yang dilakukan secara konsisten. Pada momen hari besar keagamaan, kedua pihak saling meminjamkan lahan parkir guna membantu kelancaran ibadah jemaat dan masyarakat, seperti halaman masjid yang digunakan saat perayaan Natal maupun Paskah, serta halaman gereja yang dipakai ketika pelaksanaan Shalat Id. Tidak hanya itu, pihak gereja juga pernah memundurkan jadwal kegiatan internal sebagai bentuk penghormatan terhadap pelaksanaan Shalat Idul Fitri. Semangat kebersamaan semakin terlihat ketika Gereja Katolik turut menyumbangkan hewan kurban berupa kambing pada perayaan Idul Adha sebagai simbol solidaritas antar umat beragama. Dukungan warga sekitar pun menjadi bagian penting dalam menjaga kerukunan tersebut, di mana masyarakat secara sukarela membantu mengatur parkir dan lalu lintas di area gereja setiap Sabtu dan Minggu.

Semangat toleransi juga diwujudkan melalui berbagai kegiatan sosial inklusif yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang perbedaan agama. Gereja secara rutin mengadakan layanan sosial terbuka seperti pembagian sembako, pemeriksaan kesehatan gratis, seminar, hingga bantuan pengurusan dokumen kependudukan seperti KK dan KTP bagi warga sekitar. Selain itu, terdapat Program Rombong Kasih yang dilaksanakan setiap hari Rabu dengan membagikan makanan gratis kepada masyarakat umum, termasuk para pengemudi ojek online. Di sisi lain, pihak masjid turut melibatkan para remaja lingkungan sekitar dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan tanpa membedakan latar belakang keyakinan. Kegiatan-kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial mampu menjadi jembatan kuat dalam menjaga keharmonisan antar umat beragama.

Tradisi silaturahmi lintas agama menjadi salah satu fondasi kuat dalam menjaga hubungan harmonis antara Gereja Paroki dan Masjid Sabilillah Malang. Kedua pihak secara rutin saling mengunjungi dan memberikan ucapan pada hari-hari besar keagamaan masing-masing, baik saat Idulfitri, Natal, maupun perayaan keagamaan lainnya. Tradisi tersebut tidak hanya mempererat hubungan antar lembaga, tetapi juga membangun kedekatan secara personal antar pengurus dan masyarakat sekitar. Kehangatan interaksi yang terjalin selama bertahun-tahun menjadi contoh nyata bagaimana toleransi dapat tumbuh melalui komunikasi, penghormatan, dan kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari.

Komunikasi yang terbuka dan tidak terputus menjadi kunci utama terjaganya kerukunan di kawasan ini. Pengurus Masjid Sabilillah menegaskan bahwa sikap saling memahami dan menjaga hubungan antar lembaga adalah fondasi utama. Tokoh agama gereja pun senada, menekankan bahwa komunikasi dua arah memungkinkan setiap potensi konflik diselesaikan lewat musyawarah sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

Peran tokoh agama turut menjadi pilar penting dalam menopang kerukunan ini. Masjid Sabilillah memiliki akar sejarah panjang sejak Kiai Maskur hingga Kiai Thalhah yang pernah menjabat Menteri Agama era Presiden Abdurrahman Wahid dan aktif di Lembaga Kerukunan Beragama (LKB). Dari sisi gereja, tokoh agama aktif di Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan terus mendorong umatnya untuk tidak hidup eksklusif, melainkan memberi dampak nyata bagi seluruh masyarakat.

Adapun gangguan yang pernah terjadi justru berasal dari pihak luar, bukan dari internal kedua komunitas. Hal ini mempertegas bahwa relasi keduanya sehat dan bebas dari diskriminasi, karena nilai kesetaraan dan saling menghargai telah tertanam kuat di kedua belah pihak.

Ke depan, keduanya berharap semangat ini terus diwariskan. Masjid berpesan agar komunikasi tidak terputus dan setiap masalah diselesaikan dengan prinsip tabayyun. Gereja berharap kawasan Blimbing bisa menjadi ruang belajar toleransi yang hidup, terutama bagi generasi muda dan mahasiswa yang datang ke Malang.

Pengalaman kedua lembaga ini membuktikan bahwa nilai kesatuan Pancasila bukan sekadar slogan. Perbedaan agama, jika dikelola dengan komunikasi yang tulus dan niat baik, justru mampu menjadi kekuatan bersama dalam membangun masyarakat yang harmonis.

Firman Setiawan

Penulis: Dinar Agustian, Khansa Labibah Ataullah, Fadel Rizquna Ihsani, Lesindia Ramadhani Arifin, Muhammad Chairus Sholihin

Mahasiswa Program Studi Manajemen Angkatan 2025, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya

Editor: Fuad Parhan, Tim NewsFeed.id