Jakarta — Di tengah hiruk-pikuk kegiatan 17 Agustus yang dipenuhi semangat kebangsaan, ada kisah personal yang merangkum tekad, kerja keras, dan harapan generasi muda. Namanya Githa Shaquila Azzahra, siswi kelas 8 SMP Labschool Cibubur yang terpilih menjadi Ketua Umum MPK periode 2026–2027. Perjalanannya bukan sekadar kemenangan dalam pemilihan; melainkan proses panjang yang memadukan pembelajaran, disiplin, dan kepedulian terhadap sesama.
Sejak awal tahun ajaran, Githa aktif mengikuti berbagai kegiatan sekolah. Rekan-rekannya mengenang sosoknya sebagai pribadi yang tenang, cermat, dan mudah berempati. Ketertarikannya pada organisasi siswa bukan datang mendadak. Ia mulai belajar memimpin dari tugas-tugas kecil: mengkoordinir proyek kelas, menjadi panitia kegiatan kebersihan, hingga memimpin diskusi kelompok. Semua pengalaman itu membentuk fondasi yang kokoh ketika ia memutuskan mencalonkan diri ke MPK.
Proses seleksi untuk posisi OSIS/MPK di SMP Labschool Cibubur terkenal ketat. Para calon harus melalui serangkaian tahapan seleksi yang menguji integritas, kemampuan komunikasi, serta ide-ide program yang realistis dan berdampak. Githa menyiapkan diri dengan matang: bekerja sama dengan teman-teman untuk merumuskan visi misi, melatih public speaking, dan memperdalam pemahaman tentang isu-isu sekolah seperti kebersihan, disiplin, dan kegiatan ramah lingkungan. Latihan fisik intensif selama dua minggu sebelum acara LALINJU, tradisi lari lintas juang yang menjadi momen pelantikan, juga menjadi bagian penting dari persiapannya. Rute lari 8 km dari Taman Rekreasi Wiladatika ke sekolah menguji ketahanan fisik sekaligus solidaritas antar calon pengurus.
Saat hari pelantikan tiba, Githa tampil tidak hanya sebagai kandidat yang mampu bertahan di jalur lari, tetapi juga sebagai figur yang mampu menyatukan. Dalam sambutannya, ia menyampaikan visi MPK sebagai “wadah kolaborasi yang berintegritas dan penuh empati.” Ia menekankan pentingnya mendengarkan suara siswa, mengapresiasi usaha, dan berkontribusi nyata dalam membangun kedisiplinan serta kepedulian lingkungan. Visi tersebut mendapat sambutan hangat dari rekan-rekannya dan pembina sekolah.
Githa dan rekan-rekannya kemudian memilih nama organisasi periode mereka: PANCADASA RAKSHA DHINAKARA (CAKRA), yang diartikan sebagai pemimpin angkatan 15 yang melindungi, bersinar, serta membawa manfaat. Nama ini menjadi penanda komitmen kolektif mereka untuk menjalankan program-program yang inklusif dan berdampak. Rencana awal mereka meliputi program kebersihan dan penghijauan sekolah, kegiatan literasi untuk adik kelas, serta kampanye kedisiplinan berorientasi solusi.
Bagi Githa, menjadi ketua MPK bukan sekadar titel. Ia memandang posisi ini sebagai tanggung jawab moral untuk menjadi jembatan antara siswa dan pihak sekolah. Kebijakan kecil yang membawa perubahan—misalnya menyediakan titik sampah organik di area kantin atau mengadakan sesi dialog bulanan antara pengurus dan siswa—adalah contoh langkah nyata yang ingin ia wujudkan. Teman-teman seangkatan berharap semangat kolaboratif ini akan memperkuat ikatan antar siswa dan mendorong iklim belajar yang lebih hangat.
Kisah Githa mengingatkan kita bahwa kepemimpinan efektif lahir dari kombinasi pengalaman, niat baik, dan kesiapan bekerja bersama. Di usia 13 tahun, ia menunjukkan bahwa generasi muda mampu memegang peranan penting dalam membentuk budaya sekolah. Perjalanan Githa baru dimulai, namun jejak awalnya menunjukkan arah yang penuh harapan: kepemimpinan yang mendengar, bekerja, dan memberi manfaat.
- Liince Media
- Tim Liince Media
- riofa1927@gmail.com
- 081249928482
-
263120 - Setuju













