ArtikelPendidikan

Tanpa Instruksi, Tanpa Buku: Belajar Cukup dengan Melihat

Avatar photo
33
×

Tanpa Instruksi, Tanpa Buku: Belajar Cukup dengan Melihat

Sebarkan artikel ini

NEWSFEED.ID, Jambi — Pernahkan kamu menyadari bahwa tiba-tiba kamu memiliki kebiasaan baru, mungkin teknik mencatat, atau gaya bicara tertentu yang sangat mirip dengan teman atau orang yang kamu sukai? Padahal, orang tersebut tidak pernah secara formal mengajari kamu dan kamu pun tidak pernah membaca panduannya di buku mana pun.

Apa yang baru saja terjadi bukan sekedar kebetulan atau inspirasi sesaat. Dalam ilmu Psikologi itu adalah Observational Learning. Nah, pada artikel ini kita akan membahas secara mendalam mengenai Observational Learning.

Siapa Albert Bandura?

Sebelum membahas teorinya, ada baiknya kita mengenal sosok di balik gagasan besar ini. Albert Bandura lahir pada tahun 1925 di Kanada dan sejak muda sudah menunjukkan ketertarikan mendalam pada ilmu psikologi. Ia menempuh pendidikan doktoralnya di Universitas Iowa, mengambil jurusan psikologi klinis, dan berhasil meraih gelar Ph.D pada tahun 1952.

Setelah menyelesaikan pelatihan post-doktoral selama setahun di bidang klinis, Bandura bergabung dengan Universitas Stanford pada tahun 1953. Di situlah ia menghabiskan sebagian besar kariernya bahkan hingga menjadi Profesor David Starr dalam bidang ilmu pengetahuan sosial, salah satu posisi akademik paling bergengsi di universitas tersebut. Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Jurusan Psikologi di Stanford, dan pada tahun 1974 terpilih sebagai Ketua American Psychological Association, organisasi psikologi terbesar di Amerika Serikat.

Sepanjang kariernya, Bandura menghasilkan sejumlah karya yang sangat berpengaruh, di antaranya Adolescent Aggression (1959), Social Learning and Personality Development (1963), Principles of Behavior Modification (1969), Aggression: A Social Learning Analysis (1973), serta Social Learning Theory (1977). Ia juga menerima penghargaan The Distinguished Scientist sebagai pengakuan atas kontribusinya yang luar biasa dalam dunia psikologi. Lewat penelitian-penelitian panjangnya, Bandura mengembangkan pendekatan Social Learning untuk memahami kepribadian manusia — sebuah pendekatan yang sampai hari ini masih sangat relevan (Tarsono, 2018).

Apa itu Observational Learning?

Pada tahun 1977, Albert Bandura memperkenalkan prinsip-prinsip teori pembelajaran sosialnya yang secara fundamental mengubah cara kita memahami proses belajar. Sebelumnya, teori behaviorisme mendominasi dengan asumsi sederhana, manusia belajar karena stimulus dan respons. Teori behaviorisme menekankan bahwa satu-satunya perilaku yang layak dipelajari adalah perilaku yang dapat diamati secara langsung, dan bahwa penguatan serta hukuman memiliki efek langsung pada pembelajaran (Ambriyani dkk., 2025).

Bandura tidak sepenuhnya menolak gagasan itu, namun ia menambahkan klaim penting bahwa manusia juga bisa belajar tanpa pengalaman langsung. Cukup dengan mengamati orang lain bertindak dan melihat konsekuensi dari tindakan itu, seseorang sudah bisa menyerap pengetahuan dan mengubah perilakunya. Teori ini menegaskan bahwa manusia belajar melalui proses pengamatan, bukan melalui stimulus tertentu yang dikondisikan (Irama dkk., 2024).

Inilah yang membedakan observational learning dari classical conditioning maupun operant conditioning. Dalam observational learning, proses mental seperti perhatian, ingatan, dan penilaian diri memainkan peran utama. Manusia bukan sekadar merespons lingkungan tetapi mereka juga aktif memproses apa yang mereka lihat, lalu memutuskan apakah akan menirunya atau tidak (Pramudiantoro, 2025).

Empat Rahasia di Balik Proses Meniru

Bandura menegaskan bahwa Observational Learning tidak terjadi secara otomatis hanya dengan melihat seseorang. Ada empat tahap kognitif yang harus dilalui agar proses ini berjalan efektif. Keempat tahap ini bekerja secara berurutan dan saling bergantung satu sama lain.

Atensi (Attention): Memperhatikan yang Layak Diperhatikan

Seseorang harus terlebih dahulu menaruh perhatian pada model sebelum proses belajar apapun bisa dimulai. Tidak semua orang yang kita lihat akan kita tiru, hanya mereka yang berhasil menarik atensi kita.

Atensi tidak muncul begitu saja. Menurut Bandura, faktor-faktor seperti status sosial, kompetensi dan relevansi perilaku sangat menentukan apakah seseorang layak untuk dijadikan model pengamatan atau tidak.

Dilingkungan kampus, seseorang mahasiswa mungkin akan lebih memperhatikan cara belajar temannya yang memiliki IPK tinggi atau organisasi yang sukses karna dianggap relevan dengan tujuannya.

Retensi (Retention): Menyimpan Sebelum Meniru

Setelah memperhatikan, pengamat harus mampu menyimpan informasi perilaku yang dilihat kedalam memori. Tanpa retensi, pengamat hanya akan berlalu begitu saja tanpa meninggalkan jejal yang bisa direproduksi.

Bandura membedakan dua bentuk represntasi mental dalam tahap retensi, yaitu imaginal representation (gambaran visual dari perilaku yang diamati) dan verbal representation (penerjemahan pengamatan menjadi aturan dalam kata-kata yang bisa diingat dan diterapkan). Misalnya, saat kamu melihat seseorang yang menggunkan sistem warna merah untuk menandakan poin penting dan warna hijau untuk contoh, otak kamu akan menyimpan aturan tersebut dalam bentuk kata-kata yang mudah diingat untuk dipraktikkan nanti.

Reproduksi (Reproduction): Dari Bayangan Menjadi Tindakan

Pada tahap ini, pengamat mencoba mempraktikkan perilaku yang telah ia amati dan simpan. Reproduksi adalah jembatan antara pengetahuan dan tindakan nyata. Di sinilah banyak orang salah paham, mereka mengira hasil pengamatan harus langsung menghasilkan tiruan yang sempurna. Kenyataannya tidak demikian. Reproduksi pertama hampir selalu tidak sempurna dan itu wajar, bahkan merupakan bagian yang normal dari proses belajar dan tidak bisa dilewati. Yang terpenting adalah keberanian untuk mencoba.

Motivasi (Motivation): Penguat yang Membuat Kita Terus Melakukan

Tahap terakhir dan paling menetukan apakah perilaku yang telah direproduksi akan dipertahankan, diulang, atau justru ditinggalkan. Ini adalah tahap yang mengubah percobaan menjadi kebiasaan.

Bandura membedakan dua bentuk penguatan, yaitu external reinforcement seperti pujian, pengakuan atau nilai positif dari orang lain dan internal reinforcement yaitu motivasi yang muncul ketika kita melihat orang lain mendapat penghargaan atas perilaku tertentu, sehingga kita pun terdorong untuk melakukan hal yang sama.

Mengapa Kita Lebih Memilih Meniru Teman Daripada Mengikuti Instruksi?

Kampus adalah laboratorium alami bagi Observational Learning. Disana, ada ratusan individu dengan latar belakang, kebiasaan, dan strategi belajar yang berbeda-beda hidup berdampingan setiap hari. Peluang untuk mengamati model perilaku, baik yang positif maupun negatif terjadi hamper tanpa henti.

Menariknya kita cenderung paling banyak belajar dari orang yang levelnya mirip dengan kita, bukan yang jaraknya terlalu jauh. Hal ini sejalan dengan Social Comparison Theory yang dicetuskan oleh Leon Festinger (1954) yang menyatakan bahwa manusia secara naluri membandingkan dirinya dengan orang lain yang dianggap sebanding untuk mengevaluasi kemampuan dan perilakunya sendiri.

Catatan Kritis: Ketika Observational Learning Membawa Risiko

Observational learning bukan tanpa risiko. Justru karena prosesnya begitu alami dan sering tidak disadari, dampak negatifnya pun bisa muncul tanpa kita sadari.

Pertama, ada bahaya meniru perilaku yang salah. Jika model yang diamati menunjukkan perilaku negatif seperti menunda-nunda tugas, mencontek, atau bersikap tidak jujur dan perilaku itu tampak “berhasil” di mata pengamat, maka proses observational learning justru bisa memperkuat kebiasaan buruk tersebut.

Kedua, ada risiko konformitas yang berlebihan. Ada kalanya seseorang meniru begitu banyak dari satu model hingga kehilangan cara belajarnya sendiri. Padahal, tujuan akhir dari belajar bukan menjadi salinan orang lain, melainkan mengembangkan diri secara unik.

Bandura sendiri menegaskan bahwa kemampuan kognitif manusia memungkinkan kita tidak sekadar meniru, tetapi juga mengevaluasi, memilih mana yang relevan, mana yang perlu dimodifikasi, dan mana yang lebih baik ditinggalkan. Melalui kemampuan mental-kognitifnya, individu mampu menyeleksi fenomena sosial dan tingkah laku yang harus ditiru atau dihindari, bukan bergantung pada stimulus yang dikondisikan semata (Azizah dkk., 2021).

Refleksi: Siapa Yang Sedang Kamu Amati?

Observational Learning bekerja setiap hari di sekitar kita, baik di ruang kelas, di perpustakaan, di media sosial, bahkan dalam percakapan singkat di koridor kampus. Kita terus-menerus menyerap, menyimpan, dan meniru perilaku orang-orang di sekitar kita, seringkali tanpa menyadarinya.

Yang perlu kita sadari adalah proses ini tidak pernah netral. Siapa yang kita amati, dan perilaku apa yang kita nilai layak untuk ditiru, akan secara diam-diam membentuk kebiasaan, cara berpikir, dan karakter kita sebagai pelajar.

Maka pertanyaan yang layak direnungkan adalah siapa role model yang paling memengaruhi cara kamu belajar hari ini? Dan perilaku apa yang sudah kamu serap dari mereka yang tanpa benar-benar kamu sadari?

Referensi

  • Ambriyani, N., Hasan Palawa, A., Dahliani, & Anugrah, M. R. (2025). Teori Pembelajaran Sosial. Pediaqu: Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora, 4(4), 7334–7346. https://publisherqu.com/index.php/pediaqu/article/view/3155
  • Artino, A. R. (2012). Academic self-efficacy: from educational theory to instructional practice. Perspectives on Medical Education, 1(2), 76–85. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3540350/
  • Azizah, U., Hermawan, A. H., & Erihadiana, M. (2021). Implementasi Teori Belajar Sosial Albert Bandura Pada Kurikulum Darurat Covid-19. Forum Paedagogik, 12(1), 1–14. https://jurnal.uinsyahada.ac.id/index.php/JP/article/view/3498
  • Britannica. (2026). Observational learning. Encyclopædia Britannica. https://www.britannica.com/science/observational-learning
  • Irama, D., Sutarto, S., & Rizal, S. (2024). Implementasi Teori Belajar Sosial Menurut Albert Bandura dalam Pembelajaran PAI. Jurnal Literasiologi, 12(4). https://jurnal.literasikitaindonesia.com/index.php/literasiologi/article/view/819
  • Pramudiantoro, K. (2025). Upaya Guru dalam Mengimplementasi Teori Belajar Sosial Albert Bandura di Kelas. Jurnal Ilmiah Pendidikan, 11(1). https://ejournal.unisai.ac.id/index.php/jiat/article/download/1037/801
  • Tarsono. (2018). Implikasi Teori Belajar Sosial (Social Learning Theory) dari Albert Bandura dalam Bimbingan dan Konseling. Psympathic: Jurnal Ilmiah Psikologi.
  • Universitas Binus. (2021). Implementasi Teori Belajar Sosial dalam Pandangan Albert Bandura dan Lev Vygotsky. PGSD Binus. https://pgsd.binus.ac.id/2021/07/08/implementasi-teori-belajar-sosial-dalam-pandangan-albert-bandura-dan-lev-vygotsky/
  • Wang, X., Zhu, S., Maguire, P., Liu, X., Pang, W., Li, Y., & Hu, X. (2024). The effects of peer interaction on learning outcome of college students in digital environment. Computers in Human Behavior. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0191491X2400083X
Firman Setiawan

Penulis: Rizka Khansa Shafira (G1C124025), Napiza Az Zahra (G1C124021), Awlia Aqin Milanda Putri (G1C124032)

Mahasiswa Prodi Psikologi, Universitas Jambi

Dosen Pengampu:
1. ⁠Dessy Pramudiani, S.Psi., M.Psi., Psikolog
2. Ayu Ulivia, M.Pd.
3. Annisa Andriani, M.Psi., Psikolog.
4. Azkya Milfa Laensadi, S.Psi., M.Si.

Editor: Fuad Parhan, Tim NewsFeed.id