ArtikelPendidikan

Sampah vs Biota: Potret Ambang Batas Daya Dukung Ekosistem di Pesisir Pantai Perpat, Pangkalpinang

Avatar photo
32
×

Sampah vs Biota: Potret Ambang Batas Daya Dukung Ekosistem di Pesisir Pantai Perpat, Pangkalpinang

Sebarkan artikel ini
8
Pantai Perpat sebagai Lokasi Penelitian, Pangkalpinang

NEWSFEED.ID, PangkalpinangMahasiswa Program Studi Biologi Universitas Bangka Belitung (UBB) telah melaksanakan penelitian ekologi di kawasan Pantai Perpat, Kelurahan Air Itam, Kecamatan Bukit Intan, Pangkalpinang, melalui kegiatan Team Based Project (TBP).

Penelitian ini berjalan di bawah bimbingan Dr. Eka Sari, S.Si., M.Si., Henri, S.Si., M.Si., dan Dr. Drs. Eddy Nurtjahya, B.Sc., M.Sc., dengan fokus utama pada analisis dampak aktivitas manusia terhadap kondisi habitat dan keberadaan organisme indikator.

Dalam riset ini, kelompok mahasiswa yang beranggotakan Sinta, Anisa Safitri, Danvi Arzela Fitri, dan Pela Veriska mengamati secara mendalam bagaimana aktivitas antropogenik seperti pariwisata, pemukiman, dan pertambangan telah menurunkan kualitas lingkungan pesisir akibat akumulasi sampah yang signifikan.

Hasil penelitian mengungkap bahwa perilaku manusia dalam mengelola limbah dan memanfaatkan sumber daya laut menjadi faktor utama penyebab anjloknya populasi organisme yang berperan vital sebagai bioindikator.

Sampah yang kami dapatkan di Lokasi Penelitian.

Melalui penggunaan metode purposive sampling, tim mengidentifikasi total 269 item sampah yang mencerminkan pola aktivitas manusia yang berbeda di setiap lokasi. Di Lokasi 1, beban sampah relatif rendah (69 item) dengan nilai kelimpahan 0, 345 item/m², yang didominasi oleh plastik kresek serta botol plastik.

Namun di Lokasi 2, aktivitas Tambang Inkonvensional (TI) dan limbah nelayan menyebabkan tumpukan sampah mencapai 118 item atau 0, 59 item/m², didominasi oleh plastik kresek serta puing jala nelayan yang dibuang sembarangan. Sementara itu, aktivitas pariwisata di Lokasi 3 berkontribusi besar terhadap pencemaran limbah padat, ditemukan memiliki 82 item sampah dengan dominasi mutlak botol dan gelas plastik mencapai 59, 76% akibat tingginya aktivitas pariwisata.

Tingginya angka ini membuktikan bahwa rendahnya kesadaran masyarakat dan wisatawan dalam membuang sampah telah melampaui kemampuan alami lingkungan untuk melakukan pembersihan diri atau homeostasis.

Kondisi Lokasi 2 yang menjadi titik pengambilan paling kritis.

Dampak dari aktivitas manusia ini tidak hanya terbatas pada sampah padat, tetapi juga pencemaran cair yang merusak ekosistem secara permanen. Di Lokasi 1, ekosistem terpantau masih relatif stabil dengan jumlah biota mencapai 72 individu, yang terdiri atas ikan, siput, kepiting, dan capung, serta memiliki indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’) tertinggi sebesar 1,011.

Lokasi 2 menjadi titik paling kritis karena kontaminasi oli dari mesin tambang dan sedimentasi TI yang menyebabkan substrat berubah menjadi lumpur gelap anoksik. Akibatnya, tercatat kekosongan biota secara mutlak (0 individu) karena lingkungan tersebut tidak lagi layak huni bagi makhluk hidup.

Di Lokasi 3, genangan minyak dari aktivitas perkapalan atau tambang di permukaan air juga ditemukan bersifat toksik bagi biota pesisir, sehingga hanya menyisakan beberapa organisme tahan polusi seperti cacing laut Polychaeta dengan indeks keanekaragaman rendah sebesar 0,561.

Data kualitatif dari wawancara warga setempat, Ibu Kustini, mengonfirmasi bahwa air laut kini jauh lebih keruh dan hasil tangkapan seperti kepiting menurun drastis sejak maraknya aktivitas tambang dan penumpukan sampah pengunjung.

Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menegaskan bahwa Pantai Perpat tengah mengalami penurunan kualitas lingkungan yang serius akibat tekanan antropogenik yang melampaui batas keseimbangan alami. Berdasarkan landasan teori Eugene P. Odum, akumulasi limbah padat dan cair ini telah menurunkan daya dukung (carrying capacity) lingkungan sehingga tidak lagi mampu mendukung kehidupan biota secara optimal.

Sebagai langkah strategis, diperlukan upaya konservasi yang terintegrasi, mulai dari restorasi habitat melalui rehabilitasi mangrove di zona kritis, penegakan regulasi ketat terhadap operasional tambang untuk menekan polusi cair, hingga penyediaan fasilitas tempat sampah terpilah bagi masyarakat.

Pengelolaan kawasan pesisir secara berkelanjutan dan penguatan partisipasi warga menjadi kunci utama dalam menjaga agar fungsi ekologis Pantai Perpat tetap dapat dipertahankan di masa mendatang.

Disusun oleh:

  • Dr. Eka Sari, S.Si., M.Si.
  • Henri, S.Si., M.Si.
  • Dr. Drs. Eddy Nurtjahya, B.Sc., M.Sc.
  • Sinta
  • Anisa Safitri
  • Danvi Arzela Fitri
  • Pela Veriska

Program Studi Biologi, Universitas Bangka Belitung, Bangka, Indonesia

Editor: Fuad Parhan, Tim NewsFeed.id