ArtikelPendidikan

Pasir vs Batu: Menguak Rahasia Adaptasi Ekstrem Biota Laut di Pantai Tanjung Bunga

Avatar photo
42
×

Pasir vs Batu: Menguak Rahasia Adaptasi Ekstrem Biota Laut di Pantai Tanjung Bunga

Sebarkan artikel ini
Pantai Tanjung Bunga (Perpat Bay) Sebagai Lokasi Penelitian, Kota Pangkalpinang

NEWSFEED, Pangkalpinang — Pantai Tanjung Bunga yang terletak di Kecamatan Bukit Intan, Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, bukan sekadar destinasi wisata yang menawarkan pemandangan indah. Di balik garis pantainya, terdapat sebuah laboratorium alam yang menyajikan fenomena ekologi yang menakjubkan. Kawasan pesisir ini memiliki keunikan berupa dua tipe habitat yang letaknya berdampingan, yaitu area dengan substrat berpasir dan area dengan substrat berbatu.

Tulisan ilmiah ini lahir dari sebuah riset lapangan yang dikerjakan sebagai pemenuhan tugas Team Based Project (TBP) untuk mata kuliah Ekologi di Program Studi Biologi, Universitas Bangka Belitung. Proyek riset dan penyusunan artikel ini diselesaikan secara kolaboratif oleh Kelompok 5 yang beranggotakan Devanti Sindy Pratiwi, Kartika, Rintang Yolanda, dan Meryani. Seluruh rangkaian proyek akademik ini berjalan di bawah bimbingan dan arahan langsung dari tim dosen pengampu mata kuliah Ekologi, yaitu Dr. Eka Sari, S.Si., M.Si., Henri, S.Si., M.Si., dan Dr. Eddy Nurtjahya, M.Sc., serta diketahui oleh Koordinator Program Studi Biologi, Robika, S.Si., M.Si. Melalui pendekatan ilmiah, tim mahasiswa ini berhasil merekam perbedaan spesialisasi habitat yang sangat ekstrem di antara kedua zona tersebut.

Dua Dunia yang Berbeda Total: Infauna vs Epifauna

Kondisi Zona Pasir Vs Batu di Kawasana Pantai Tanjung Bunga (Perpat Bay), Pangkalpinang (18/04/2026).

Melalui metode purposive sampling dengan teknik transek kuadrat di lapangan, tim menemukan perbedaan taksonomi yang sangat mencolok di antara kedua habitat. Di area substrat pasir, tantangan utama bagi makhluk hidup adalah pergerakan sedimen yang dinamis akibat hempasan gelombang dan arus yang konstan. Vegetasi makro sangat minim di area terbuka ini, sehingga zona pasir didominasi oleh kelompok infauna atau hewan yang hidup membenamkan diri di dalam sedimen. Spesies yang ditemukan meliputi cacing laut Perinereis sp., kepiting Porcellana sp., serta gastropoda seperti Rhinoclavis sp. dan Nassarius pullus. Mereka beradaptasi dengan memiliki kemampuan menggali yang cepat demi berlindung dari suhu ekstrem dan pemangsa saat air surut.

Sebaliknya, substrat batu menyajikan tantangan mekanis yang keras berupa empasan ombak langsung dan paparan terik matahari yang menyengat. Di sini, dunianya dikuasai oleh kelompok epifauna atau organisme yang hidup menempel kuat di permukaan batu. Tim menemukan keberadaan gastropoda seperti Pirenella cingulata dan Telescopium telescopium, udang Alpheus heterochaelis, hingga gurita (Octopus sp.) yang bersembunyi di celah batuan. Satu-satunya spesies fleksibel yang ditemukan mampu hidup di kedua habitat ini adalah kepiting pasir Ocypode pallidula. Di area pasir ia menggali lubang, sementara di area batu ia memanfaatkan celah-celah sempit untuk bertahan hidup.

Si Merata vs Si Penguasa Ekstrem

Berdasarkan analisis statistik ekologi yang dilakukan oleh tim mahasiswa, perbedaan struktur komunitas di kedua substrat ini digambarkan lewat angka-angka yang menarik. Indeks Kesamaan Sorensen yang diperoleh hanya berkisar di angka 7 persen. Angka yang sangat rendah ini membuktikan bahwa hampir tidak ada tumpang tindih jenis biota antara pantai pasir dan batu karena keduanya menyediakan relung ekologi yang berbeda total. Dari segi keanekaragaman jenis menggunakan indeks Shannon-Wiener, substrat pasir memiliki indeks keanekaragaman sedang sebesar 1,34 karena sebaran individunya relatif merata di antara berbagai spesies. Sebaliknya, substrat batu memiliki tingkat keanekaragaman yang rendah yaitu 0,52.

Rendahnya keanekaragaman di substrat batu dipicu oleh adanya dominansi mutlak yang terekam melalui Indeks Dominansi Simpson sebesar 0,79. Angka ini dikuasai secara ekstrem oleh komunitas teritip Chthamalus stellatus yang memiliki nilai dominansi tunggal 0,789. Biota yang hidup menetap ini tumbuh berkoloni menutupi permukaan batu berkat sistem perekat dan struktur cangkang yang kokoh terhadap gempuran ombak. Sementara di area pasir, tingkat dominansinya rendah yaitu 0,32, yang mengindikasikan bahwa ruang hidup di sedimen pasir lebih toleran tanpa adanya persaingan tunggal yang ketat dari satu jenis penguasa habitat.

Faktor Pembatas Lingkungan

Selain struktur fisik dari lantai pantai, distribusi makhluk hidup di zona pasang surut Pantai Tanjung Bunga ini didikte secara ketat oleh faktor pembatas lingkungan atau faktor abiotik. Berdasarkan pengukuran langsung yang dilakukan oleh tim di lapangan, variasi kelembapan sedimen yang berkisar antara 4,2 hingga lebih dari 8, suhu udara rata-rata yang mencapai 28 derajat Celsius, serta fluktuasi tingkat keasaman tanah dengan pH berkisar dari kurang dari 3 hingga 6,0 bertindak sebagai filter alami yang keras. Organisme yang tidak memiliki adaptasi spesifik terhadap risiko kekeringan atau paparan panas saat air laut surut dipastikan tidak akan mampu bertahan hidup di lingkungan intertidal yang ekstrem ini.

Mengapa Penelitian Ini Penting bagi Kita?

Data ekologis yang dikumpulkan oleh kelompok mahasiswa Universitas Bangka Belitung ini bukan sekadar deretan angka di atas kertas, melainkan sebuah potret penting mengenai kondisi kesehatan ekosistem pesisir kita. Saat ini, pesisir Pangkalpinang menghadapi berbagai tekanan, baik dari dinamika alam maupun aktivitas antropogenik atau tindakan manusia. Karena pantai pasir dan pantai batu di kawasan Tanjung Bunga menyimpan kekayaan hayati unik yang berbeda satu sama lain, upaya konservasi dan kebijakan pengelolaan wilayah pesisir di masa depan harus dilakukan secara terintegrasi dan berkelanjutan demi menjaga daya dukung ekosistem laut Indonesia.

Dosen & Mahasiswa Peneliti: Dr. Eka Sari, S.Si., M.Si., Dr. Henri, S.Si., M.Si., Dr. Drs. Edi Nurtjahya, B.Sc., M.Sc., Devanti Sindy Pratiwi, Kartika, Rintang Yolanda, Meryani
Instansi: Program Studi Biologi, Fakultas Pertanian, Perikanan, dan Biologi, Universitas Bangka Belitung (UBB)

Editor: Fuad Parhan, Tim NewsFeed.id