NEWSFEED.ID, Denpasar – Tim mahasiswa Universitas PGRI Semarang mengunjungi lokasi pengolahan sampah di Desa Serangan, Denpasar Selatan, pada 30 Juni lalu, dalam rangkaian program International Community Service (ICS). Kunjungan ini bertujuan mempelajari langsung bagaimana warga setempat mengolah sampah canang sari, salah satu elemen budaya khas Bali yang digunakan dalam kegiatan adat umat Hindu Bali, menjadi pupuk kompos.
Canang sari adalah sarana persembahyangan harian umat Hindu Bali yang dibuat dari bunga, janur, dan bahan alami lainnya. Karena dipersembahkan setiap hari, sisa canang yang sudah tidak terpakai lama-kelamaan menumpuk menjadi sampah dalam jumlah besar.
Secara fisik, lokasi pengolahan sampah di Serangan tidak jauh berbeda dari tempat pembuangan sampah pada umumnya. Saat tim ICS tiba, tercium bau yang sedikit menyengat dari tumpukan sampah yang menumpuk di area tersebut.
Di lokasi, tim bertemu dengan petugas kebersihan yang sedang memilah sampah, serta beberapa orang lain yang tengah mengolah canang sekaligus memberi penjelasan singkat mengenai proses pembuatan kompos dari sampah tersebut.

Salah satu pengelola menyebutkan bahwa per harinya, lokasi ini bisa menerima sekitar lima ton sampah canang. Dari jumlah tersebut, sekitar dua ton dapat diolah menjadi pupuk kompos setelah melalui serangkaian tahapan pengolahan.
Angka ini menggambarkan besarnya volume sampah organik yang dihasilkan dari aktivitas keagamaan warga sehari-hari, sekaligus menunjukkan bahwa tidak seluruh sampah yang masuk dapat langsung menjadi kompos, melainkan harus melewati proses pengolahan bertahap terlebih dahulu.
Berdasarkan pengamatan visual tim di lokasi serta penjelasan singkat yang diberikan, secara umum sampah canang melalui lima tahapan sebelum menjadi pupuk kompos siap pakai:
- Pemilahan: memisahkan bahan organik canang (bunga, janur) dari unsur anorganik seperti staples dan plastik pembungkus.
- Pencacahan: memperkecil ukuran bahan organik agar lebih cepat terurai.
- Pengomposan: cacahan sampah dicampur bahan pengurai, lalu difermentasi.
- Pematangan: proses penguraian berlangsung hingga tekstur dan bau sampah berubah menjadi kompos matang.
- Pengayakan: kompos matang diayak agar siap digunakan sebagai pupuk tanaman.
Melalui rangkaian tahapan inilah, dari lima ton sampah canang yang masuk setiap hari, sekitar dua ton di antaranya berhasil diolah menjadi pupuk kompos siap pakai.

Pengalaman ini membuka mata kami akan besarnya volume sampah organik yang dihasilkan dari aktivitas masyarakat sehari-hari, sekaligus pentingnya dukungan dan edukasi berkelanjutan bagi para pengelola di lapangan. Kami berharap upaya seperti ini terus mendapat perhatian, baik dari masyarakat maupun pemerintah setempat.
Artikel disusun oleh mahasiswa Universitas PGRI Semarang berdasarkan hasil observasi lapangan dalam kegiatan International Community Service (ICS) di Desa Serangan, Bali, 30 Juni 2026.
Profil Penulis:
- Nadiati (Universitas PGRI Semarang, Prodi Bisnis Digital)
- Nabella Bunga Rastya (Universitas PGRI Semarang, Prodi Bisnis Digital)
- Salsa Sinta Fatarani (Universitas PGRI Semarang, Prodi Bisnis Digital)
- One Mayra Siti Nur Aisyah (Universitas PGRI Semarang, Prodi Bisnis Digital)











