Depresiasi rupiah kerap dibaca sebagai berita baik bagi eksportir. Namun bagi petani, peternak, dan pelaku usaha agribisnis skala kecil-menengah di hulu rantai pasok, cerita yang terjadi jauh lebih rumit dan jauh lebih menekan.
Rupiah kembali menembus level psikologis yang jarang dibayangkan banyak orang. Pada penutupan perdagangan 4 Juni 2026, nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp18.049 per dolar Amerika Serikat, level terlemah sepanjang Sejarah sebelum berangsur bergerak di kisaran Rp17.900–an hingga awal Juli 2026. Bagi sebagian besar masyarakat perkotaan, angka ini mungkin hanya deretan digit merah di layar bursa. Namun bagi jutaan petani dan peternak di Indonesia, angka tersebut adalah selisih nyata antara untung tipis dan gulung tikar.

Rupiah melemah lebih dari 7 persen sejak akhir Januari hingga menyentuh titik terlemah sepanjang sejarah pada awal Juni 2026, sebelum sedikit menguat di awal Juli.
Dua Wajah Depresiasi: Untung di Pelabuhan Ekspor, Rugi di Gudang Input
Secara teori ekonomi publik, pelemahan mata uang domestik memang menaikkan daya saing harga produk ekspor. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bahkan menyebut sejumlah pelaku usaha perkebunan besar justru menikmati kenaikan nilai ekspor ketika rupiah tertekan, karena hasil penjualan dalam dolar menjadi lebih besar saat dikonversi ke rupiah. Komoditas seperti sawit, kopi, dan kakao termasuk yang diuntungkan dari sisi ini.
Akan tetapi, narasi ini hanya benar untuk sebagian pelaku usaha, dan bahkan bagi mereka, keuntungan itu sering kali semu. Dosen Ekonomi Pembangunan Universitas Sumatera Utara, Arif Rahman, mengingatkan bahwa manfaat pelemahan rupiah tidak dirasakan merata oleh petani kecil, karena margin keuntungan mereka telanjur tergerus oleh kenaikan biaya produksi di hulu terlebih dahulu. Ini bukan sekadar teori; hitung-hitungan lapangan menunjukkannya dengan gamblang.
Hulu yang Bergantung pada Dolar
Persoalan mendasarnya adalah struktur input produksi agribisnis nasional yang masih sangat bergantung pada barang impor. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mencatat sekitar 70% bahan pakan ternak seperti bungkil kedelai masih dipenuhi dari impor, sehingga sektor peternakan rakyat menjadi salah satu yang paling cepat merasakan tekanan kurs.
Data lapangan pada Mei 2026 memperlihatkan harga jagung pakan telah menembus Rp7.000 per kilogram, sementara bungkil kedelai mencapai Rp8.700 per kilogram. Disaat bersamaan, harga urea di pasar internasional dilaporkan naik lebih dari 40% akibat gangguan rantai pasok global.
Nilai Tukar Petani sebagai Cermin Tekanan yang Sesungguhnya
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani, indikator yang membandingkan indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang mereka bayar, berada di level 125,24 pada April 2026, turun 0,09% dibandingkan bulan sebelumnya. Angka penurunannya memang kecil, tetapi arahnya konsisten, biaya yang harus dikeluarkan petani untuk produksi bertambah lebih cepat daripada kenaikan harga jual hasil panen mereka. Inilah yang oleh sejumlah ekonom disebut sebagai paradoks pelemahan rupiah bagi sektor pangan, yaitu biaya produksi naik, sementara daya beli masyarakat justru melemah, sehingga ruang bagi petani untuk menaikkan harga jual pun ikut terbatas.

Implikasi bagi Pelaku Usaha Agribisnis
Setidaknya ada 3 implikasi nyata yang perlu dicermati. Pertama, tekanan biaya produksi bersifat asimetris sepanjang rantai pasok agribisnis. pelaku usaha di hulu yang bergantung pada input impor menanggung kenaikan biaya secara langsung, sementara keuntungan dari pelemahan rupiah lebih banyak dinikmati oleh eksportir komoditas primer di hilir rantai nilai. Kedua, ketergantungan struktural pada pakan dan pupuk impor membuat sektor peternakan dan hortikultura rakyat menjadi kelompok paling rentan terhadap gejolak kurs. Ketiga, ruang fiskal pemerintah untuk menopang subsidi pupuk dan energi turut menyempit ketika rupiah tertekan, karena kewajiban pembayaran dalam denominasi dolar membengkak saat dikonversi ke rupiah.
Menata Ulang Ketahanan Agribisnis dari Hulu
Dari sudut pandang ekonomi publik, persoalan ini semestinya tidak direspons hanya dengan intervensi moneter jangka pendek dari Bank Indonesia. Diperlukan kebijakan struktural yang menekan ketergantungan sektor agribisnis nasional pada bahan baku impor, beberapa langkah yang layak dipertimbangkan antara lain, penguatan industri pakan ternak berbasis bahan baku lokal seperti jagung dan hasil pertanian domestik untuk mengurangi ketergantungan pada impor, percepatan pengembangan benih unggul nasional agar petani tidak terus bergantung pada benih impor, penguatan kelembagaan petani melalui koperasi dan korporasi petani agar posisi tawar mereka terhadap harga input maupun harga jual menjadi lebih kuat, serta perlindungan berkelanjutan terhadap subsidi pupuk dan energi yang tepat sasaran.
Penutup
Pelemahan rupiah pada akhirnya bukan sekadar berita ekonomi makro yang selesai dibaca dalam satu tarikan napas di layar bursa. Ia adalah persoalan ekonomi publik yang menembus dapur rumah tangga petani, kandang peternak, dan gudang pengolahan hasil pertanian. Selama struktur hulu agribisnis nasional masih bertumpu pada input impor, setiap gejolak kurs akan terus menjadi ujian bagi ketahanan pangan dan kesejahteraan pelaku usaha agribisnis, jauh sebelum manfaat dari sisi ekspor sempat dirasakan secara merata. Menjaga stabilitas rupiah karena itu sama pentingnya dengan membangun kemandirian input produksi agribisnis dari hulu ke hilir.
Catatan penulis: Data dan pernyataan dalam opini ini dihimpun dari Bank Indonesia, Badan Pusat Statistik, Kementerian Pertanian RI, serta pemberitaan investor.id, bisnis.com, kompas.com, detik.com, dan kompasiana.com sepanjang Januari–Juli 2026.











