NEWSFEED.ID, Samarinda — Jujur, kalau ditanya apakah saya pernah merasa kewalahan, jawabannya jelas pernah. Apalagi sejak saya kuliah di Universitas Mulawarman jurusan manajemen, aktivitas saya bukan cuma soal akademik, tapi juga tetap aktif di dance yang sudah saya jalani sejak SMA.
Salah satu momen yang paling saya ingat adalah saat harus membagi waktu antara latihan dan tugas kuliah. Waktu itu, jadwal latihan cukup padat karena saya terbiasa berada di tim yang serius mengejar target. Saya pernah ngerasain pulang latihan dengan kondisi badan sudah capek banget, tapi tetap harus buka laptop untuk menyelesaikan tugas yang deadline-nya mepet. Rasanya campur aduk, antara lelah, malas, tapi juga takut kalau tidak dikerjakan.
Saya juga bukan tipe orang yang langsung bisa disiplin dari awal. Dulu saya sering menunda pekerjaan dengan alasan “nanti saja masih sempat” Tapi kenyataannya, kebiasaan itu justru bikin saya makin stres karena tugas jadi menumpuk. Dari situ saya mulai sadar kalau cara seperti itu tidak bisa dipertahankan terus.
Pelan-pelan saya belajar mengatur waktu dengan cara saya sendiri. Bukan dengan jadwal yang terlalu kaku, tapi lebih ke memahami ritme aktivitas saya. Misalnya, saya usahakan menyelesaikan tugas lebih awal sebelum latihan, supaya setelah pulang saya bisa istirahat tanpa beban. Walaupun tidak selalu berhasil, tapi setidaknya saya sudah berusaha lebih teratur dibanding sebelumnya.

Pengalaman saya di dunia dance juga berpengaruh besar. Saat dipercaya menjadi bagian penting dalam tim dan pernah merasakan menang dalam kompetisi seperti DBL East Kalimantan, saya belajar bahwa hasil tidak pernah datang secara instan. Semua butuh proses, latihan, dan konsistensi. Hal itu tanpa sadar saya terapkan juga dalam kehidupan kuliah.
Menurut saya, menjalani dua hal sekaligus seperti ini memang tidak mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin. Justru dari situ saya merasa lebih berkembang, karena dipaksa untuk bertanggung jawab terhadap pilihan sendiri. Saya belajar bahwa rasa capek itu wajar, tapi bukan alasan untuk berhenti.
Dari semua yang saya jalani, saya menyadari bahwa manajemen waktu bukan sekadar teori yang dipelajari di kelas. Bagi saya, itu adalah sesuatu yang benar-benar saya rasakan dan pelajari setiap hari. Dan mungkin, proses inilah yang justru membentuk saya menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih siap menghadapi tantangan ke depan.











