NEWSFEED.ID, MALAYSIA –Di panggung Youth Innovation Forum yang megah di Universiti Teknologi Malaysia (UTM), sorak sorai riuh menyambut nama Afin Bastian Nugroho, seorang mahasiswa Akuntansi dari Politeknik Negeri Semarang (Polines).
Bukan tanpa alasan, pemuda yang akrab disapa Bastian ini baru saja meraih dua medali emas sekaligus: The Best Delegate dan The Most Sustainability Campaign. Sebuah apresiasi global yang kontras dengan pengalaman pahitnya di lingkungan sendiri.
Perjalanan Bastian adalah paradoks inspiratif tentang bagaimana sebuah ide yang pernah dicibir dan ditentang di lingkupnya sendiri, kini justru bersinar dan dihargai di kancah internasional. Metode advokasinya yang unik, yaitu pembangunan berkelanjutan melalui seni, telah membawanya dari status ’public enemy lokal’ menjadi inspirasi global.
Sejak duduk di bangku kuliah jurusan Akuntansi di Politeknik Negeri Semarang, Bastian telah dikenal sebagai sosok yang vokal dan progresif. Ia meyakini bahwa seni, baik melalui media sosial maupun offline, memiliki kekuatan luar biasa untuk mengutarakan aspirasi pembangunan dan memicu kesadaran. Namun, gagasannya ini seringkali berbenturan dengan tradisi di lingkup sendiri, bahkan di lingkup publik yang lebih luas.
“Dulu, pernah melakukan street art/social media campaign yang menyuarakan isu politik dan sosial, responsnya selalu kontra. Banyak yang menganggapnya provokatif, tidak pada tempatnya, atau bahkan mengganggu,” kenang Bastian.
“Saya pernah diminta untuk takedown karya, memberikan klarifikasi, dan bahkan ada risiko tinggi kepada fisik karena dianggap melanggar aturan, terutama di negara-negara yang punya sensor ketat. Di kampus sendiri, saya pernah merasa seperti public enemy karena banyak yang culture shock dengan cara saya berekspresi, padahal cara berekspersi yang saya lakukan sudah ada di beberapa kampus yang lebih maju daripada kampus sendiri, jadi saya merasa senang menjadi public enemy”
Namun, tekanan dan penolakan tersebut membuatnya Bastian semakin semangat. Ia percaya pada kekuatan pesannya. Kegigihan Bastian akhirnya membuahkan hasil. Ia terpilih sebagai salah satu delegasi Indonesia di Youth Innovation Forum yang prestisius, diselenggarakan di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) pada 4 Juli 2025.
Di forum ini, Bastian berkesempatan berdialog langsung dengan Sherlina Kaur, Education Manager at UN Sustainable Development Solutions Network, berdiskusi dan mencari Solusi untuk aspirasi pembangunannya yang out-of-the-box menggunakan sarana seni.

Alih-alih ditentang di lingkungan sendiri, argumen, serta pertanyaan Bastian yang memadukan seni dengan pembangunan berkelanjutan justru mendapat sambutan luar biasa. Pendekatannya yang segar dan berani di tengah platform global ini berhasil mencuri perhatian juri. Para peserta dan panelis terkesan dengan bagaimana Bastian mampu mengemas pesan-pesan dan pertanyaan yang dapat terngiang-ngiang di kepala delegasi. Ini adalah validasi bahwa seni bisa menjadi jembatan menuju solusi.
“Saya tidak pernah menyangka bahwa cara yang dulu pernah saya lakukan di kampus sendiri dan mendapat banyak penolakan, kini justru diapresiasi di level internasional,” tutur Bastian. “Ini membuktikan bahwa setiap suara, sekecil apapun, memiliki potensi untuk membawa perubahan, asalkan kita gigih dan percaya pada apa yang kita sampaikan, tanpa adanya kekerasan. Medali ini bukan hanya untuk saya, tapi untuk setiap individu yang berani berbeda demi perubahan.”
Kisah Afin Bastian Nugroho adalah pengingat kuat bahwa inovasi dan keberanian seringkali datang dengan risiko penolakan. Namun, dengan kegigihan dan keyakinan pada visi, seseorang dapat mengubah penentang menjadi pengagum, dan batas-batas lokal menjadi panggung global.
Keberhasilan Bastian di Malaysia bukan hanya tentang medali, tetapi tentang kemenangan sebuah aspirasi yang dulu dianggap ‘public enemy’, kini malah menjadi mercusuar inspirasi bagi pemuda di negeri sendiri untuk tidak berhenti berkreasi dan menyuarakan perubahan. Ia adalah bukti nyata bahwa seni dan inovasi bisa menjadi alat revolusi, asalkan ada keberanian untuk memulainya
”Tidak dapat dipungkiri, bahwasanya hal yang saya lakukan dulu tidak dapat dibenarkan 100%, hal tersebut menjadi evaluasi, trial and eror dan saya perbaiki hal tersebut disini, tapi saya senang suasana politik di miniatur negara menjadi lebih hidup” ujar Bastian.











