NEWSFEED.ID, Magelang — Siapa sangka, usaha yang awalnya hanya didorong kebutuhan ekonomi kini justru berkembang menjadi bisnis menjanjikan. Itulah yang dialami Nuri, petani asal Desa Kaweron, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, yang sukses mengembangkan budidaya anggrek bernilai ekonomi tinggi melalui usahanya, Nuri Orchid.
Usaha yang dirintis sejak tahun 2006 ini kini tidak lagi skala kecil. Dengan sistem budidaya yang dikelola secara intensif menggunakan greenhouse, Nuri mampu memproduksi ratusan hingga ribuan anggrek setiap bulan dan menjangkau pasar luar daerah.
“Awalnya saya menanam anggrek karena faktor ekonomi, tapi ternyata hasilnya sangat menjanjikan,” ujarnya.
Nuri membudidayakan berbagai jenis anggrek, mulai dari varietas lokal hingga impor seperti dari Thailand, serta hasil persilangan sendiri. Salah satu yang menjadi andalan adalah dendrobium (dendro) kriting bunga hitam yang memiliki karakter unik dan nilai jual tinggi di pasaran.
Proses produksi dilakukan secara bertahap, dimulai dari pembibitan melalui teknik kultur jaringan atau anakan, kemudian dipindahkan ke pot kecil hingga siap jual. Dalam budidayanya, Nuri menggunakan media tanam seperti moss hitam serta pakis atau pinus yang telah melalui proses sterilisasi agar bebas dari hama dan penyakit.

Perawatan tanaman dilakukan secara menyesuaikan kondisi lingkungan, terutama tingkat kelembapan. Penyiraman tidak dilakukan setiap hari, melainkan disesuaikan dengan kondisi media. Sementara itu, ancaman hama seperti jamur, bakteri, kutu, dan tungau kerap muncul saat musim hujan. Untuk mengatasinya, dilakukan penyemprotan fungisida dan insektisida secara rutin.
Dengan luas lahan sekitar 1 hektar, usaha ini kini mampu menghasilkan sekitar 700 pot anggrek setiap bulan. Bahkan, berdasarkan data tahun 2024, total penjualan mencapai sekitar 32.000 softpot anggrek dalam satu tahun, menunjukkan skala usaha yang sudah cukup besar.
Dari sisi ekonomi, harga anggrek bervariasi tergantung jenis dan kualitas. Untuk dendro kriting dewasa, harga di tingkat reseller sekitar Rp55 ribu per pot. Dengan volume produksi yang tinggi, omzet yang dihasilkan dapat mencapai puluhan juta rupiah setiap bulan.
Permintaan pasar pun tergolong tinggi. Pembeli datang dari berbagai daerah, terutama Malang, dengan sistem pemasaran yang awalnya hanya mengandalkan promosi dari mulut ke mulut. Kini, Nuri juga mulai memanfaatkan media sosial untuk memperluas jangkauan pasar.
Menariknya, permintaan bahkan datang dari importir. Namun, tingginya permintaan tersebut belum sepenuhnya bisa dipenuhi karena keterbatasan tenaga kerja dan kapasitas produksi.
“Kadang kewalahan karena permintaan banyak, apalagi dari luar daerah bahkan ada yang minta dalam jumlah besar,” ungkapnya.
Di tengah peluang besar tersebut, tantangan tetap ada. Persaingan pasar yang semakin ketat menjadi salah satu hambatan utama. Selain itu, produktivitas juga bisa menurun pada momen tertentu seperti bulan puasa karena waktu kerja yang terbatas.
Meski begitu, Nuri terus berupaya menjaga kualitas tanaman, karena menurutnya kualitas sangat menentukan harga jual. Anggrek yang lebih rimbun, sehat, dan memiliki potensi bunga unggul akan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Usaha ini juga mulai memberikan dampak sosial dengan membuka lapangan kerja, meskipun saat ini baru melibatkan satu tenaga kerja wanita di bagian penanaman.
Bagi Nuri, pengalaman paling berkesan adalah saat penjualan meningkat pesat dan menghasilkan keuntungan besar. Hal itu menjadi bukti bahwa budidaya anggrek bukan hanya sekadar hobi, tetapi peluang bisnis yang sangat menjanjikan.
Dengan permintaan yang terus meningkat dan pasar yang masih terbuka luas, usaha anggrek seperti yang dijalankan Nuri memiliki prospek cerah sebagai salah satu sektor unggulan agribisnis tanaman hias di masa depan.
Penulis: Tim 3A, Mahasiswa Agribisnis 2023 Universitas Tidar











