NEWSFEED.ID — Bundling adalah cara pemasaran di mana beberapa barang atau layanan digabungkan dan dijual sebagai satu set dengan harga yang lebih menarik daripada jika dibeli secara terpisah.
Bundling bertujuan untuk meningkatkan persepsi pelanggan, mendorong pembelian, dan memaksimalkan penjualan dan efisiensi pemasaran.
Salah satu strategi pemasaran yang dikenal sebagai “bundling produk” adalah penjualan berbagai produk dalam satu paket dengan harga yang lebih rendah dari total harga independen, menurut Reisinger (2004:2).
Melakukan promosi penjualan produk bundling adalah salah satu bentuk promosi penjualan yang sangat populer. Product bundling adalah strategi pemasaran dimana penjual menawarkan atau menjual sejumlah produk dalam satu produk atau satu harga. Product bundling juga sering disebut masyarakat Indonesia sebagai paket penjualan (Wijaya & Kinder, 2020).
Dari fokusnya bundling dibagi menjadi dua yaitu price bundling dan product bundling. Price bundling berarti menggabungkan dan menjual dua atau lebih produk terpisah dengan harga diskon dalam satu paket, tanpa mengintegrasikan kedua produk tersebut. Sebaliknya, product bundling berarti menggabungkan dan menjual dua atau lebih produk terpisah dengan harga tertentu (Wicaksono, 2015).
Sementara berdasarkan jenisnya, bundling dibagi menjadi dua yaitu Pure bundling dan Mixed Bundling. Pure Bundling adalah strategi pemasaran di mana beberapa produk atau layanan digabungkan menjadi satu paket dan dijual hanya sebagai satu kesatuan, tanpa memberikan opsi bagi konsumen untuk membeli produk secara terpisah.
Dalam pure bundling, semua item dalam paket harus dibeli bersama, sehingga tidak ada pilihan untuk membeli salah satu produk secara individu. Pure bundling juga sering disebut sebagai tying, yaitu keharusan bagi pembeli sebuah produk untuk membeli produk lain yang menjadi bagian dari produk utama.
Menurut European Commission dan US Antitrust Law, bundling dikatakan bukan merupakan tying kecuali jika terdapat larangan yang efektif bagi konsumen untuk memilih membeli produk secara terpisah, dengan kata lain, terdapat keterpaksaan untuk membeli yang dialami oleh konsumen (Wicaksono, 2015).
Sementara, Mixed bundling adalah strategi pemasaran di mana perusahaan menawarkan produk atau layanan baik secara individu maupun sebagai bagian dari paket bundel. Dengan demikian, konsumen memiliki fleksibilitas untuk memilih apakah mereka ingin membeli produk secara terpisah atau dalam paket yang lebih murah. Mixed bundling merujuk pada praktik penjualan dua atau lebih produk dalam bentuk bundle atau dapat pula tidak dalam bentuk bundle, artinya produk-produk tersebut dapat juga dijual secara individual (Wicaksono, 2015).
Bundling Happy Meal yang dilakukan oleh McDonald’s senantiasa dipandang kurang baik oleh sebagian orang karena dianggap menawarkan produk yang tidak menyehatkan kepada anak-anak. Hal ini dikarenakan beberapa item dalam Happy Meal masih mengandung gula dan lemak yang tinggi, sehingga perlu diperhatikan jumlah dan frekuensi konsumsinya. McDonald’s berupaya menawarkan produk yang baik dikonsumsi oleh anak-anak namun, meskipun ada pilihan yang lebih sehat, banyak menu cepat saji masih kurang dalam serat, vitamin, dan mineral yang penting untuk pertumbuhan anak.
Salah satu elemen penting dalam pemasaran adalah harga, yang mempengaruhi tingkat kepuasan pelanggan. McDonald’s terkenal karena harganya yang terjangkau. Paket hemat “Happy Meal” dan harganya yang terjangkau menarik pelanggan dari berbagai kelompok umur, terutama anak-anak.
Produk McDonald’s menjadi lebih mudah bagi banyak orang karena harganya yang terjangkau. Kualitas makanan dan pengalaman harus sesuai dengan harga yang harus dibayar. Menurut penelitian bauran pemasaran, McDonald’s berhasil menciptakan reputasi produk berkualitas tinggi dengan harga terjangkau, yang meningkatkan kepuasan pelanggan. Selain itu, mereka sering mengadakan promosi dan diskon sebagai cara untuk mempromosikan harga mereka yang menarik (Garoda, 2021).
Psikologis senantiasa menjadi salah satu hal yang dapat mempengaruhi masyarakat untuk membeli suatu produk dari berbagai dasar. Sikap heuristik yang berarti pembuatan keputusan secara cepat dari informasi yang belum sepenuhnya dimengerti dapat mempengaruhi pada keputusan dalam pembelian bundling sebuah produk. Bias Kognitif dapat membuat bundling produk efektif pada tingkat bawah sadar dengan mempengaruhi bahwa lebih murah selalu lebih baik.
Menurut Vineet Kumar dari Harvard Business School ia berpendapat bahwa penerapan bundling yang baik adalah dengan memberikan fleksibilitas kepada konsumen. Kumar menemukan bahwa strategi bundling produk yang lebih baik adalah dengan membiarkan pelanggan memilih produk mana yang akan dibeli bersama.
Dengan begitu, pembeli juga dapat merasa mandiri dalam menentukan harga. McDonald’s menerapkan bundling Happy Meal dengan beberapa ragam mainan yang berbeda, dengan demikian McDonald’s mencoba memberikan pilihan bundling kepada pelanggannya.
Penetapan harga dalam bundling Happy Meals di McDonald’s memanfaatkan konsep nilai yang dirasakan oleh konsumen. Dalam teori ekonomi dan pemasaran, konsumen cenderung membandingkan manfaat yang mereka terima dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan manfaat tersebut.
Dalam hal ini, bundling Happy Meals menggabungkan makanan dengan mainan dalam satu paket dengan harga yang terjangkau. Ini menciptakan persepsi nilai yang lebih tinggi, di mana konsumen merasa bahwa mereka mendapatkan lebih banyak untuk uang yang dibayarkan.











