NEWSFEED.ID, JAKARTA – Kami, mahasiswa dari Universitas Mercu Buana, baru saja menyelesaikan sebuah kegiatan yang sangat menarik dan bermakna. Bersama tim, kami meneliti bagaimana toleransi dan keberagaman terjaga di kawasan Pecinan Glodok, salah satu pusat perdagangan yang penuh warna di Jakarta.
Selama proses ini, kami langsung terjun ke lapangan, berbincang dengan para pedagang yang mewakili beragam latar belakang budaya dan agama. Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah saat kami mewawancarai seorang ibu muslim yang menjual pernak-pernik khas Imlek, seperti amplop angpao, pakaian tradisional Imlek, hingga dekorasi lainnya.

Ketika kami bertanya tentang pengalamannya, beliau dengan santai berkata, “Di sini sudah biasa, karena kita saling menghormati.”
Pernyataan ini benar-benar menggambarkan bagaimana kuatnya rasa saling menghormati di Glodok. Kami melihat langsung bahwa perbedaan budaya, agama, dan tradisi tidak menjadi penghalang, tetapi justru menjadi kekuatan yang menyatukan.
Selain wawancara, kami juga mengamati kehidupan sehari-hari di kawasan ini. Para pedagang yang berasal dari latar belakang berbeda tampak bekerja sama dengan harmonis.
Tidak hanya itu, konsumen dari berbagai kalangan pun terlihat nyaman berbelanja tanpa memandang perbedaan. Semua ini semakin memperkuat pandangan kami bahwa Glodok adalah contoh nyata keberagaman yang hidup dan tumbuh secara alami.

(Vellicia Afrilly) “Pecinan Glodok adalah tempat yang sangat unik dan bersejarah. Kawasan ini tidak hanya terkenal dengan budaya Tionghoa yang kental, seperti kelenteng dan kuliner tradisionalnya, tapi juga menjadi bukti keberagaman di Jakarta. Sayangnya, modernisasi membuat beberapa nilai budaya di Glodok perlahan memudar. Saya rasa kita perlu menjaga kawasan ini, supaya warisan sejarah dan budaya yang ada di sana tidak hilang. Glodok bukan hanya bagian dari masa lalu, tapi juga identitas kota yang perlu dilestarikan.” Opini dari Mahasiswa Mercu Buana.
Dari apa yang kami temui di Glodok, kami belajar bahwa toleransi tidak hanya sebatas kata-kata. Di sini, toleransi benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
(Gisya Aurelitha) “Setelah mengunjungi Pecinan Glodok, saya menyadari bagaimana masyarakat dari berbagai latar belakang etnis dan agama dapat hidup berdampingan. Kehidupan sosial di sana menunjukkan bahwa perbedaan tidak menjadi penghalang untuk saling menghormati dan bekerja sama. Warung-warung kecil hingga tempat ibadah menjadi simbol persatuan.” Opini dari Mahasiswa Mercu Buana.Sebagai mahasiswa, pengalaman ini memberikan pelajaran berharga bagi kami tentang pentingnya saling menghormati di tengah keberagaman.
(Christiano Ben) “Pecinan Glodok bukan sekadar destinasi wisata kuliner atau sejarah, tetapi sebuah cerminan hidup dari bagaimana budaya Tionghoa dan Indonesia beradaptasi, berbaur, dan menciptakan identitas baru yang unik. Di balik hiruk-pikuk pasar dan bangunan tua, Glodok menyimpan pelajaran tentang daya tahan budaya di tengah modernisasi. Bagi saya, yang menarik dari Glodok adalah bagaimana tradisi tetap hidup bukan hanya melalui makanan atau arsitektur, tetapi melalui interaksi sosial yang terjadi di sana. Misalnya, pasar tradisional di Glodok menjadi ruang di mana bahasa Hokkian, Mandarin, dan Indonesia bercampur, menciptakan ‘bahasa jalanan’ yang hanya bisa ditemukan di tempat seperti ini. Ini adalah bukti bahwa budaya tidak hanya dipertahankan, tetapi terus berkembang sesuai konteks zaman.” Opini dari mahasiswa Mercu Buana.
(Excel Violano Gunawan) “Pecinaan Glodok menawarkan keanekaragaman budaya yang luar biasa, dengan perpaduan tradisi Tionghoa, Betawi, dan berbagai suku lainnya. Meskipun berbeda-beda, masyarakat Pecinaan Glodok hidup berdampingan dengan harmonis, mencerminkan semangat toleransi dan kesatuan. Keberagaman suku dan agama menjadi daya tarik wisatawan, mendukung perekonomian lokal dan mempromosikan budaya Indonesia. Interaksi antar-suku dan agama memfasilitasi pertukaran budaya, pengetahuan dan pemahaman.” opini dari mahasiswa mercu buana.
(Muhammad Syafiq Legowo) “menurut saya Pecinan Glodok adalah destinasi wisata yang menarik bagi mahasiswa yang ingin mengenal lebih dekat tentang budaya Tionghoa dan sejarah Jakarta. Kekayaan budaya, kuliner yang lezat, dan potensi penelitian yang besar membuat kawasan ini menjadi tempat yang layak untuk dikunjungi. Namun, perlu diingat bahwa beberapa kekurangan seperti kemacetan dan kurangnya fasilitas umum perlu diperhatikan.” opini dari mahasiswa Mercu Buana.

(Galang Oktaviano) “Kawasan Pecinan Glodok adalah bagian bersejarah Jakarta yang mencerminkan perpaduan budaya Tionghoa dan lokal. Dikenal dengan aktivitas perdagangan yang dinamis, area ini dipenuhi toko elektronik, pasar tradisional, dan restoran autentik yang menyajikan hidangan khas Tionghoa seperti bakmi dan dim sum. Bangunan-bangunannya memiliki arsitektur khas Tionghoa dengan dominasi warna merah dan emas, serta klenteng bersejarah seperti Jin De Yuan yang menjadi pusat keagamaan dan budaya” opini dari mahasiswa Mercu Buana.
(Nicholas Gilbert) “Toleransi di Pecinan Glodok mencerminkan nilai-nilai Pancasila, terutama sila pertama dan ketiga. Sebagai kawasan multikultural, Glodok menunjukkan bagaimana masyarakat dari berbagai latar belakang agama dan budaya hidup berdampingan secara harmonis. Praktik toleransi ini terlihat dalam saling menghormati tradisi, seperti perayaan Imlek, Ramadan, dan Natal, yang dirayakan bersama dengan semangat persatuan. Nilai Pancasila terwujud ketika keberagaman di Glodok dirayakan sebagai kekuatan, bukan pemisah, menjadikannya contoh nyata implementasi toleransi di tengah keragaman Indonesia.” Opini dari mahasiswa Mercu Buana.
(Misael Anugrah Christian)“Menurut saya pecinaan glodok itu sangat menarik untuk dikunjungi oleh masyarakat karena disana sangat tinggi akan toleransi yang dimana mereka saling hidup berdampingan walaupun disana kebanyakan menjual yang non halal.ada pula masyarakat yang menjual perlengkapan natal, imlek dan sebagainya tetapi dia bukan dari agama tersebut yang melakukan perayaan tersebut.”Opini dari mahasiswa Mercu Buana .
(Kurniawan) “Saya merasa toleransi adalah hal yang sangat diutamakan di daerah ini, tidak peduli suku, ras, agama, mereka saling hidup berdampingan” opini mahasiswa Mercu Buana.
Kami berharap, apa yang kami temukan di Glodok bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat luas. Jika toleransi bisa tumbuh dengan begitu kuat di kawasan yang penuh keberagaman ini, tentu hal yang sama juga bisa terjadi di tempat lain. Mari bersama-sama menjaga keberagaman sebagai kekayaan dan kekuatan bangsa kita.











