Opini

Word of Mouth: Beli Karena Iklan atau Karena Kata Teman?

Avatar photo
159
×

<i>Word of Mouth:</i> Beli Karena Iklan atau Karena Kata Teman?

Sebarkan artikel ini
Tiga orang berdiskusi sambil menunjuk laptop, menggambarkan bagaimana keputusan pembelian di era digital kerap dipengaruhi oleh review, rekomendasi, dan testimoni dari orang terdekat atau ulasan daring—bentuk modern dari word of mouth yang kini lebih dipercaya daripada iklan.

NEWSFEED.ID — Pernah nggak sih, kamu niat beli sesuatu gara-gara teman cerita kalau produknya bagus banget? Atau malah batal beli karena baca ulasan jelek dari pembeli lain? Di zaman sekarang, keputusan beli orang ternyata nggak cuma dipengaruhi iklan atau diskon gede, tapi juga dari “katanya”.

Meskipun brand berlomba-lomba bikin promo, endorse selebgram, sampai bikin campaign heboh di media sosial, kenyataannya banyak calon konsumen yang justru lebih percaya sama cerita pengalaman orang lain. Apalagi kalau yang cerita adalah teman sendiri atau keluarga yang udah pakai duluan. Inilah kekuatan word of mouth.

Word of mouth atau promosi dari mulut ke mulut memang bukan hal baru. Tapi sekarang bentuknya jauh lebih luas. Kita nggak perlu ngobrol langsung buat tahu pengalaman orang lain. Tinggal buka ulasan di e-commerce, scroll komentar di Instagram, atau lihat video review di TikTok, semua informasi sudah tersedia.

Menurut Nielsen, 92% konsumen lebih percaya pada rekomendasi dari orang yang mereka kenal dibanding bentuk iklan lainnya. Ini nunjukin kalau testimoni dan review jujur punya dampak yang besar dalam pengambilan keputusan pembelian. Bahkan, kadang satu komentar negatif saja bisa bikin orang ragu buat checkout.

Fenomena ini juga dirasakan di pembelian online. Karena nggak bisa lihat barang secara langsung, calon pembeli biasanya ngandelin ulasan orang lain. Misalnya, sebelum beli skincare, banyak yang baca dulu review dari beauty enthusiast, lihat before-after, atau tanya di forum kecantikan. Di sinilah terjadi “word of mouth versi digital”.

Sebagus apapun iklan yang dibuat brand, kepercayaan konsumen tetap bisa datang dari cerita orang-orang terdekat mereka. Jadi, kalau kamu punya produk atau bisnis, jangan remehkan kekuatan testimoni. Kadang, satu review jujur bisa lebih ngena daripada seribu banner promo. Karena pada akhirnya, “katanya” bisa jadi alasan utama kenapa orang mau beli.

Penulis: Lydia Prifta

Editor: Fuad Parhan, Tim NewsFeed.id