JATENGKU.COM, Surabaya — Di balik keputusan final dalam menentukan sebuah tumor bersifat jinak atau ganas, terdapat sosok yang jarang terlihat di ruang perawatan. Sosok yang menentukan nasib pasien ini adalah dokter Sp.PA atau spesialis Patologi Anatomik.
Sebagai “pemegang pelatuk” penegakan diagnosis akhir, tugas mereka meliputi pemeriksaan histopatologi, sitologi cairan, sitologi pap smear, FNAB (Fine Needle Aspiration Biopsy), pemeriksaan dengan teknik imunohistokimia,sebagai dasar pilihan terapi dan membantu dalam autopsi klinik.
Dokter Sp.PA adalah dokter spesialis yang berkonsentrasi dalam menganalisis suatu perubahan morfologi sel dan jaringan yang menjadi dasar bagi klinisi untuk melakukan penanganan dan pengobatan secara tepat sasaran. Jalur pendidikannya dimulai dari menyelesaikan pendidikan kedokteran, kemudian melanjutkan program pendidikan dokter spesialis (PPDS) di bagian program pendidikan Patologi Anatomik dan lulus uji kompetensi sehingga berhak menyandang gelar Sp.PA. Selama pendidikan calon Sp.PA mempelajari teknik preparasi jaringan, interpretasi histopatologis, sitologi, serta teknik molekuler dan imunohistokimia yang kini menjadi bagian penting dalam penentuan diagnosis tumor.
Di Rumah Sakit Bhayangkara H.S Samsoeri Mertojoso Surabaya, tugas sehari-hari seorang Sp.PA meliputi penerimaan spesimen/ bahan operasi bisa berupa bahan biopsi jaringan, cairan, hingga berupa bahan amputasi, processing jaringan baik dengan pewarnaan rutin hingga pewarnaan khusus.
Pemeriksaan patologi anatomik terdiri dari pemeriksaan secara makroskopis, mikroskopis untuk melihat perubahan morfologi sel dan jaringan. Ketika diperlukan, mereka menggunakan imunohistokimia atau tes molekuler untuk membedakan subtipe tumor. Informasi ini sering kali digunakan oleh klinisi dalam menentukan pilihan terapi pasien seperti kemoterapi, atau terapi target.
“Dokter Sp.PA itu seperti pemegang pelatuk sebuah tembakan. Kami yang mengarahkan tembakan tersebut untuk menentukan tindakan selanjutnya terhadap pasien, dengan menentukan tumor tersebut diklasifikasikan sebagai tumor jinak atau ganas.” – dr. Theresia Fifi Judikristiani, Sp. PA
Peran Sp.PA juga meluas ke tindakan intraoperative, yaitu prosedur pemeriksaan potong beku atau frozen section procedure yang merupakan tindakan cepat yang antara lain sebagai penentuan staging tumor pada kasus keganasan penyakit tertentu, sehingga dapat memberikan informasi ke klinisi untuk mengambil keputusan di meja operasi. Selain itu, dokter Sp.PA rutin berpartisipasi dalam rapat multidisipliner atau tumor board bersama para sejawat bedah onkologi, radiologi, dan tim klinis lain untuk menyusun rencana terapi komprehensif berdasarkan temuan patologi.
Di luar diagnosis, Sp.PA bertanggung jawab atas manajemen laboratorium patologi anatomik. Mereka memastikan kualitas preparat, akurasi hasil, dan kepatuhan terhadap standar akreditasi. Mereka juga membimbing residen, mengembangkan protokol pemeriksaan, serta terlibat dalam penelitian klinis yang meningkatkan ketepatan diagnosis, terapi dan prognosis pasien.
Peran dokter Sp.PA adalah sebagai penentu dan penghubung antara temuan secara klinis, radiologis, dan patologi anatomik yang sangat berpengaruh pada kehidupan berkelanjutan milik pasien. Dari meja mikroskop hingga meja operasi dan rapat multidisipliner, Sp.PA memegang tanggung jawab besar dalam menegakkan diagnosis yang akurat. Ketelitian ilmiah, kerjasama tim, dan komitmen terhadap mutu dan keselamatan pasien wajib diapresiasi karena menjadi elemen yang tak ternilai dalam layanan kesehatan modern saat ini.
Penulis: Valdo Seifer Owen Tanubrata











