OpiniPendidikan

Penurunan Nilai Tukar Rupiah Mencapai 17 Ribu: Ancaman Bagi Masyarakat Indonesia

Avatar photo
258
×

Penurunan Nilai Tukar Rupiah Mencapai 17 Ribu: Ancaman Bagi Masyarakat Indonesia

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Uang Rupiah (Polina Tankilevitch/Pexels)

NEWSFEED.ID, JAKARTA — Apakah Anda merasakan harga kebutuhan pokok makin mahal akhir-akhir ini? Jika iya, Anda tidak sendirian. Naiknya harga berbagai barang bukan semata-mata disebabkan oleh inflasi dalam negeri, tapi juga akibat penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang kini menyentuh angka Rp17.000 per dolar. Ini bukan hanya angka di layar berita ekonomi—ini adalah angka yang berdampak langsung pada isi dompet masyarakat Indonesia.

Uang Rupiah di Dompet (Ahsanjaya/Pexels)

Mata uang rupiah yang melemah hingga Rp17.000 per dolar AS adalah sinyal kuat bahwa ada tekanan besar terhadap ekonomi nasional. Nilai tukar rupiah mencerminkan daya beli bangsa kita terhadap mata uang asing, terutama dolar AS yang menjadi mata uang utama dalam perdagangan internasional. Ketika rupiah melemah, maka otomatis biaya untuk membeli barang dari luar negeri menjadi lebih mahal.

Indonesia merupakan negara yang masih sangat bergantung pada impor bahan baku dan barang konsumsi penting, seperti kedelai, gandum, bahan bakar minyak, obat-obatan, dan barang-barang elektronik. Ketika rupiah melemah, biaya impor bahan-bahan tersebut meningkat secara signifikan. Hal ini kemudian berdampak langsung pada harga jual barang di dalam negeri yang harus ikut naik, dan ujung-ujungnya, masyarakat lah yang paling merasakan beban beratnya.

Kita ambil contoh kacang kadelai, sebagai bahan baku utama untuk tahu dan tempe, seperti yang diketahui tahu dan tempe merupakan makanan yang cukup digemari oleh rakyat Indonesia karena harganya yang cukup terjangkau. Sekitar 70-80% kebutuhan kedelai nasional dipenuhi lewat impor, terutama dari Amerika Serikat. Saat nilai tukar rupiah melemah dari, misalnya, Rp15.000 menjadi Rp17.000 per dolar, harga impor kedelai otomatis naik hingga 13% atau lebih, hanya karena perubahan kurs.

Kenaikan harga kedelai ini berdampak langsung pada produsen tahu dan tempe lokal. Agar tetap bertahan, mereka terpaksa menaikkan harga jual atau memperkecil ukuran produk. Karena itu, tidak mengherankan jika konsumen mengeluhkan harga tempe yang lebih tinggi, tahu yang lebih kecil, atau bahkan stok barang yang habis di toko konvensional.

Fenomena ini tidak berhenti pada kedelai saja. Barang kebutuhan lainnya seperti minyak goreng, terigu, dan bahkan bahan bakar minyak (BBM) juga akan ikut terpengaruh. Sebagian besar bahan bakar yang digunakan di Indonesia masih diimpor. Melemahnya rupiah menyebabkan harga BBM menjadi lebih mahal bagi pemerintah maupun swasta, sehingga potensi naiknya harga di SPBU menjadi kenyataan yang mengancam.

Naiknya harga BBM tentu akan memicu kenaikan biaya logistik, yang kemudian berdampak pada hampir seluruh harga barang dan jasa di Indonesia—dari sembako hingga biaya angkutan umum. Ini seperti efek domino: satu perubahan di kurs dolar bisa menggoyang stabilitas ekonomi rumah tangga masyarakat kecil.

Masyarakat berpenghasilan rendah dan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) menjadi kelompok yang paling terdampak. Kenaikan harga komoditas dan konsumen telah mengurangi daya beli mereka secara drastis. Sementara itu, pendapatan mereka sering kali tidak mengalami peningkatan yang sepadan.

Bayangkan seorang pedagang gorengan di pinggir jalan yang mengandalkan kedelai (untuk tahu isi), minyak goreng, dan tepung terigu. Ketika harga semua bahan naik karena melemahnya rupiah, ia dihadapkan pada pilihan sulit: menaikkan harga jual (dan kehilangan pelanggan) atau mempertahankan harga (dan mengorbankan margin keuntungan). Keduanya sama-sama buruk.

Meski kondisi ini tampak mengkhawatirkan, bukan berarti kita tidak memiliki pilihan. Pemerintah dan masyarakat harus sama-sama waspada dan responsif dalam menghadapi pelemahan rupiah. Berikut langkah yang dapat dilakukan dalam menghadapi lemahnya nilai tukar rupiah;

1. Diversifikasi Sumber Impor dan Ketahanan Pangan

Pemerintah perlu mempercepat program substitusi impor, terutama untuk komoditas pangan. Ketergantungan tinggi terhadap kedelai impor harus segera diatasi dengan mengembangkan produksi kedelai lokal. Insentif untuk petani kedelai lokal harus ditingkatkan, mulai dari penyediaan bibit unggul, subsidi pupuk, hingga jaminan pembelian hasil panen.

Selain itu, perlu dilakukan diversifikasi sumber impor agar tidak terlalu bergantung pada satu negara saja, sehingga fluktuasi harga global bisa lebih terkendali.

2. Stabilisasi Nilai Tukar dengan Kebijakan Moneter dan Fiskal yang Tepat

Bank Indonesia sebagai otoritas moneter harus tetap aktif dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar valas, pengaturan suku bunga, dan kerja sama internasional. Sementara itu, pemerintah perlu memastikan bahwa kebijakan fiskal tidak menambah tekanan pada defisit neraca pembayaran, serta menjaga kepercayaan investor asing terhadap pasar Indonesia.

3. Edukasi Masyarakat dan Penguatan UMKM

Di sisi masyarakat, edukasi tentang manajemen keuangan pribadi dan UMKM sangat penting. Pelaku usaha perlu dibekali kemampuan untuk menghadapi fluktuasi harga bahan baku, seperti strategi efisiensi produksi, penggunaan bahan substitusi lokal, hingga peningkatan daya saing produk.

Pemerintah juga perlu memberikan stimulus bagi UMKM yang terdampak pelemahan rupiah, misalnya melalui subsidi bunga pinjaman, pelatihan manajemen keuangan, dan akses pasar ekspor.

4. Dorong Produk Lokal dan Cinta Rupiah

Kampanye penggunaan produk lokal tidak hanya tentang nasionalisme, tapi juga strategi nyata untuk menekan tekanan terhadap rupiah. Semakin sedikit kita bergantung pada barang impor, semakin kuat posisi rupiah kita dalam jangka panjang.

Nilai tukar rupiah yang menembus angka Rp17.000 per dolar adalah sinyal serius yang harus disikapi secara rasional, cepat, dan tepat. Ini bukan saatnya untuk saling menyalahkan, melainkan saatnya untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat.

Sumber

Hasan, A. A., & Silaban, M. W. (2025, April 8). Nilai Tukar Rupiah Tembus Rp 17 Ribu, Ekonom: Alarm Serius bagi Otoritas Moneter dan Fiskal. Tempo. https://www.tempo.co/ekonomi/nilai-tukar-rupiah-tembus-rp-17-ribu-ekonom-alarm-serius-bagi-otoritas-moneter-dan-fiskal-1228922

Pgr. (1970, January 1). Harga BBM di Seluruh SPBU RI Resmi Naik, Berlaku 3 Februari 2025. CNBC Indonesia. https://www.cnbcindonesia.com/news/20250203072419-4-607359/harga-bbm-di-seluruh-spbu-ri-resmi-naik-berlaku-3-februari-2025

Santosa, A. (1). ANALISIS INFLASI DI INDONESIA. Proceeding SENDI_U. Retrieved from https://www.unisbank.ac.id/ojs/index.php/sendi_u/article/view/5062

Tempo, & Utama, P. (2023, December 15). Apa Itu Kebijakan Moneter? Berikut Pengertian, Tujuan, Jenis, dan Instrumennya. Tempo. https://www.tempo.co/ekonomi/apa-itu-kebijakan-moneter-berikut-pengertian-tujuan-jenis-dan-instrumennya-818340

Tv, M. (2025, April 5). Rupiah Akhirnya Jeblok hingga Tembus Rp17 Ribu, Ini Penyebabnya. https://www.metrotvnews.com. https://www.metrotvnews.com/read/NxGCGOMe-rupiah-akhirnya-jeblok-hingga-tembus-rp17-ribu-ini-penyebabnya

Penulis: Kayla Karomia, Mahasiswa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Jakarta.

Editor: Fuad Parhan, Tim NewsFeed.id