Pendidikan

Ma’rifatul Insan, Potensi Manusia dan Makna Ibadah

Avatar photo
170
×

Ma’rifatul Insan, Potensi Manusia dan Makna Ibadah

Sebarkan artikel ini
Teks Khutbah Jum'at: Hakikat Manusia dalam Islam - Gerakan Dakwah Pencerahan
Ilustrasi seorang pria tengah menengadahkan tangan dalam doa. Aktivitas spiritual ini mencerminkan proses ma’rifatul insan, yakni kesadaran manusia sebagai makhluk berakal yang senantiasa mencari kebenaran dan petunjuk dalam hidupnya.

Ma’rifatul Insan dan Potensi Manusia Sebagai Makhluk

Kata ma’rifat didefinisikan sebagai pengetahuan. Sasarannya yaitu kebenaran, ma’rifat bisa diartikan dalam 2 arti yaitu ma’rifat secara praktis berarti ilmu pengetahuan yang bisa membedakan antara baik dan buruknya perilaku manusia. Sedangkan ma’rifat secara teoritis merupakan ilmu pengetahuan yang realistis serta tidak dibuat-buat.(Hakam Abbas, 2013)

Tidak hanya sekedar pengetahuan akan tetapi harus dilaksanakan dengan tujuan hidup yang sesuai dengan ketentuan. sedangkan kata Al-insan didefinisikan sebagai ciptaan Allah yang mempunyai akal dan bisa berpikir sehingga kemajuan dan perkembangan dapat dilihat dan dipelajari oleh makhluk.

Al insan merupakan makhluk ciptaan Allah yang memiliki ilmu, dengan menggunakan ilmunya ia bisa membedakan salah dan benar, hakikatnya ia mempunyai adab dengan tidak mengambil dan merampas yang bukan haknya. Al insan juga mempunyai sikap ramah serta mudah dalam bergaul dan bersahabat dengan lingkungan, akan tetapi al insan bukan makhluk yang sempurna, ia terkadang khilaf dan mudah digoda oleh syaithon

Al-Qur’an menyebut kata al-insan sejumlah 43 surat diantaranya ada 65 kali, manusia diartikan di dalam Al-Quran sebagai al insan. dalam Al-Qur’an nama al insan biasanya dipergunakan sebagai gambaran kekhususan dan proses penciptaan manusia

Kelebihan al-insan yang biasa disebut manusia sebagai ciptaan Allah dibagi menjadi tiga. Pertama, manusia ciptaan Allah yang diberi akal untuk berfikir. Kedua, manusia yang dapat dipercaya dan selalau jujur (amanah). Ketiga, manusia sebagai ciptaan Allah selalu bertanggung jawab. hal inilah yang menjadikan keistimewaan makhluk ciptaan Allah yaitu al-insan.(Muhammad Tholchah Hasan, 2013)

Pengistilahan Al insan yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah sebagai berikut:

  1. Dalam surah Q.S. At-Thariq ayat 5 mengistilahkan al-insan untuk selalu memikirkan keagungan Allah SWT
  2. Al-Qur’an mengistilahkan al-insan terkait kekurangan manusia
  3. Al-Qur’an mengistilahkan al-insan terkait keburukan manusia disebabkan hasutan syaithan.
  4. Al-Qur’an mengistilahkan al-insan terkait kebaikan manusia.
  5. Al-Qur’an mengistilahkan al-insan terkait kondisi manusia ketika datangnya hari akhir.

Dapat diimplikasikan dari mengistilahkan al-insan bahwa manusia harus selalu mengasah dan meningkatkan derajat iman, ilmu dan amal shalehnya dengan menggunakan akal sebagai mana mestinya, tugas manusia sepanjang hidupnya adalah belajar dan mengamalkan ilmu sehingga bermanfaat bagi sesama dan diridhoi oleh Allah, itulah kodrat manusia sebagai khalifah di bumi.

Dari pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Ma’rifatul insan adalah tahapan diri dalam mengenal dirinya sendiri. Secara istilah ma’rifatul insan adalah sebuah proses mulai dari mengenal dan mendalami ciptaan Allah berupa manusia, karena manusia adalah makhluk sempurna yang diciptakan Allah dibandingkan makhluk-makhluk lainnya.

”siapa mengenal dirinya, niscaya ia akan dapat mengenal Tuhannya, sebaliknya, orang yang tidak mengenal dirinya, maka ia tidak dapat mengenal Tuhannya”(Zakaria Adham, 2015)

Merasa lemah dan berharap hanya kepada Allah, yakin dan percaya akan perintah-Nya, Allah, serta merasa bahwa Allah lah satu-satunya tuhan yang berhak untuk disembah, sikap tersebut berarti mengenal pada Tuhannya. Ketika manusia merasa bahwa mengenal Tuhanya berarti sudah mengenal dirinya sendiri, jika belum mengenal dirinya sendiri berarti belum mengenal akan adanya Tuhan.

Oleh karena itu, Ketika belum mengenal dirinya hendaknya belajar agar menal keadaan diri dan kebesaran Allah, sehingga timbullah cinta kepada Allah dan berharap hanaya rahmatat dan ridho Allah demi kehidupan di akhirat kelak.(Zakaria Adham, 2015).

Potensi Manusia Sebagai Makhluk

Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang mempunyai potensial, dengan potensial yang ada pada manusia menjadikan kualitas sumber daya individu semakin meningkat, dilihat dari segi biologis perkembangan dan pertumbuhan manusia bisa dilihat dari fisik pertama lemah kemudian menjadi kuat dan akan melemah kembali dan pada akhirnya meninggal (Akmal Hawi, 2014). Dengan potensi yang diberikan oleh Allah, manusia akan bisa mengembangan potensi tersebut dengan sendirinya manusia merupakan makhluk potensial. Allah memberikan potensi kepada manusia secara sempurna. Sehingga potensi-potensi yang ada pada manusia bisa dikembangkan.

Dilihat secara fisik tumbuh dan kembangnya manusia secara mental, terjadinya kematangan dan perubahan. Semua itu merupakan sebagian dari potensi yang dianugrahkan kepada manusia. Tuhan memberikan potensi kepada makhluk sesuai dengan batas kadar kemampuan makhluk, Karena menurut Hasan Langgulung jika tidak sesuai dengan batas kadar kemampuan makhluk, maka manusia akan mengaku bahwa dirinya Tuhan.(Khamsinah, 2013)

Potensi mental pada diri manusia berguna untuk mengembangkan serta meningkatkan drajat sumber daya itu sendiri. Potensi inilah yang dinilai sebagai pengarahan penciptanya, sehingga mampu melakukan perannya sebagai ciptaan Allah, dari kehidupan yang dituntun oleh agama yang benar.

Agama Islam menuntun manusia agar memanfaatkan potensi yang diberikan oleh Allah secara seimbang. Jika penggunaan akal yang berlebih mempunyai manfaat material yang pesat, tetapi rendah dalam rohaniah, maka akan merusak diri dan menjadikan manusia dalam kesombongan intelektual. Penggunaan potensi pada diri manusia harus diserasikan dalam mempertahankan kemampuan diri sebagai ciptaan Allah yang paling sempurna yaitu keserasian makhluk beragama berbudaya dan psiko fisik.

Manusia memiliki empat potensi utama secara fitrahnya yang meliputi, yaitu potensi naluri, potensi inderawi, potensi akal, dan potensi keagamaan. Keempat potensi di atas dijelaskan pada potensi dasar manusia, yaitu: jasmani, akal, nafs, dan roh. Potensi naluriah dan potensi inderawi terdapat dalam diri manusia sebagai makhluk biologis, sedangkan potensi akal dan potensi keagamaan termuat dalam roh. (Khamsinah, 2013).

Potensi-potensi yang ada di atas merupakan potensi yang masih berupa dorongan dasar yang muncul secara alami, sehingga perlu adanya pemeliharaan, penjagaan, pengembangan secara terarah agar mencapai tujuan sebenarnya.

Apabila manusia tidak mengembangkan potensi yang dimilikinya, maka ia akan kurang mermanfaat dalam menjalani kehidupan. Oleh sebab itu, perlu adanya usaha dalam mengembangkan potensi diri yaitu dengan Pendidikan. (Khamsinah, 2013) Dengan kegiatan Pendidikan, manusia dapat mengasah dan menggunakan akal fikiranya dengan sebaik- baiknya.

Manusia mempunyai kewajiban dalam mengembangkan potensi bagi dirinya sendiri Kewajiban mengembangkan potensi itu merupakan beban dan tanggung jawab manusia kepada Allah. (Khamsinah, 2013).

Gagasan dan Pemikiran Zakiah Daradjat mengenai Ma’rifatul Insan dan Potensi Manusia sebagai Makhluk

Pemikiran dan gagasan Zakiah Daradjat mengenai hakikatnya manusia sebagai makhluk yaitu yang telah di susun dalam bukunya yang berjudul Ilmu Pendidikan Islam.Adapun pembahasan dalam buku itu adalah semua tentang manusia dan kehidupannya. Di antaranya yaitu :

1. Manusia sebagai Makhluk yang Mulia

Dalam bukunya Zakiah menyatakan bahwa Allah menciptakan manusia yaitu sebagai pemeluk dan melaksanakan ajaran. Ajaran dimaksud adalah ajaran yang sudah Allah sampaikan melalui perantara para Nabi-nabi dan Rasul-rasul-Nya, untuk melaksanakan ibadah, Allah menganugerahkan manusia dengan al-aqlu (akal) dan ikhsas (perasaan) untuk menerima ilmu dan meningkatkan sains (ilmu pengetahuan) dan kultur (kebudayaan) yang dimilikinya.

Dalam kemampuannya dalam berfikir, manusia dapat menuntut ilmu dan mengembangkannya dalam kehidupan. Bukan hanya tentang ilmu agama tetapi tentang kehidupan , sosial (lingkungan), dan umum lainnya.(Zakiah Daradjat, 2017)

Dengan alasan inilah mengapa Zakiah menyatakan bahwasannya manusia makhluk ciptaan Allah yang mulia, yaitu yang mempunyai akal, perasaan, dan ilmu pengetahuan yang dapat berkembang dan dikembangkan.

2. Manusia sebagai Khalifah di Bumi

Hakikatnya manusia diciptakan dalam Islam adalah sebagai Khalifatullahi Fil Ardhi yaitu manusia makhluk yang diberikan kepercayaan oleh allah untuk mengelola dan menjaga bumi. (Akhmad Alim, 2014) Tujuannya tergantung dengan akibat apa yang dilakukan manusia, manusia diberikan kelebihan dalam penciptaannya berupa kakuatan akal dan fikiran. Jadi manusia sebagai ciptaan Allah sebagai mahluk yang sempurna harus menempatkan dirinya sesuai dengan hakikat manusia.

Allah memberikan manusia amanah dan tanggung jawab sebagai penghuni dunia yang didasarkan asas dan kelayakan. Karena Allah tahu hanya manusia yang mampu untuk menerima tanggung jawab tersebut. Manusia ditugaskan dan bertanggung jawab sebagai khalifah dianugrahi banyakk hal kelebihan sebagai modal menjadi khalifah dibumi.

Sesuai dengan tugas yang diberikan manusia akan dapat nilai baik apabila dapat melaksanakan tugas dengan baik akan mendapatkan ganjaran dari Allah. Sedangkan apabila manusia tidak dapat malaksanakan tugas dengan baik akan mendapatkan hukuman sebagai ganjarannya, karena manusia diberika pilihan untuk melakukan dengan jalan yang benar dan jalan yang sesat.

Maka demikian, tugas kekhalifahan mengharuskan makhluk untuk melakukan tugas atau perintah Allah sesuai dengan yang diperintahkan. Bilamana tidak melakukan tugas dengan baik berarti melanggar terhadap tugas mansuia sebagai khalifah dan mendapatkan hukuman.

3. Manusia sebagai Makhluk Pedagogik

Makhluk Pedagogik adalah mahluk ciptaan Allah yang mempunyai kemampuan untuk menjadi seorang pendidik dan dididik. (Zakiah Daradjat, 2017) Mahluk tersebut ialah manusia. Ciptaan Allah yang dapat jadi pendidik dan dididik hingga mampu menjadi khalifah fil Ardhi. Allah memberikan manusia fitrah berupa kemampuan untuk dapat berfikir melalui pendidikan agar menjadi khalifah fil Ardhi dengan baik dan meiliki potensi untuk berkembang atau mengembangkan apa saja yang ada dibumi.

Walaupin demikian, apabila kemampuan tidak dikembangkan maka makna kehidupan tidak ada. Sebab itu manusia harus berkembang dengan pendidikan gara mampu menjadi khalifah yang baik. Manusia diibaratkan sebuah kertas putih belum ada coretan apapun meskipun manusia dilahirkan dengan pembawaan yang mampu untuk berkembang sendiri, akan tetapi tetap harus melalui proses-proses agar manusia dapat berkembang maju yaitu dengan proses pendidikan (Zakiah Daradjat, 2017).

Tanggung jawab manusia kepada Allah yaitu dengan mengembangkan potensi. Kenyataanya tertulis dalam sejarah bahwa manusia itu secara potensial adalah makhluk yang memang pantas dibebani kewajiban dan tanggung jawab, mampu menerima dan melaksanakan ajaran Allah dengan baik. Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah usaha dan kegiatan pembinaan manusia secara pribadi. Adapun materi, tujuan dan prinsip serta cara pelaksanaanya bisa dipahami dalam petunjuk-pentunjuk yang Allah sampaikan melalui para Rasul-Nya.

Analisis Studi Ma’rifatul Insan

Pembahasan tentang manusia dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu:

1. Manusia adalah Makhluk Berakal

Pada diri manusia terdapat beberapa hal yang sangat tak ternilai dengan harga, Dalam diri manusia terdapat sesuatu yang tidak ternilai harganya, sebagai anugrah Allah yang tidak ada pada mahluk lainnya, yaitu Al Aqlu.(Zakiah Daradjat, 2012) apabila manusia tidak dibekali dengan akal, maka perbuatan dan keadaanya sakan sama dengan hewan.

Adanya akal, semua organ manusia, pergerakan, dan diamnya, seluruhnya sangat berarti dan berharga. Akal digunakan untuk berfikir dan memperhatikan semua benda yang terlihat maupun yang tersembunyi, mampu terfikirkan manfaatnya, jadi melalui akal tersebut benda-benda dapat dimanfaatkan dengan selayaknya dan benda-benda yang ada dibumi ni tidak akan sia-sia bagi manusia.

Oleh karena itulah, Allah memerintahkan manusia untuk menggunakan akal untuk berfikir. Apabila akal rusak, maka benda-benda yang ada dibumi tidak akan ada manfaatnya bagi manusia.

2. Timbulnya Ilmu Pengetahuan

Timbulnya ilmu pengetahuan, dikarenakan kebutuhan kehidupan manusia untuk hidup bahagia. Dalam mencapai kebahagiaan tersebut manusia menggunakan akal dan fikiran untuk menciptakan hal-hal yang membuatnya bahagia. Dari pemikiran manusia tersebut, maka munculah berbagai macam ilmu pengetahuan seperti: Ilmu langit ( Atronomi), Ilmu Pertanian (agriculture), perikanan (fisheri), humaniora, kesehatan, ilmu hukum sosial, ilmu bahasa, ilmu pasti alam, dan teknologi (Iptek) dan lain sebagainya.(Zakiah Daradjat, 2012)

3. Hak dan Kewajiban Manusia

Hak berupa tuntutan yang sah dan sesuai dengan kewajiban dalam hukum Islam. Sementara itu kata wajib merujuk pada konsep pekerjaan yang berpotensi mendapat pahala jika dilakukan serta mengandung konsekuensi sanksi hukum jika ditinggalkan.

Pada konteks hukum Islam terdapat empat macam hak manusia. Hak-hak tersebut seperti hak Tuhan, hak diri sendiri, hak terhadap orang lain, Hak atas harta yang diberikan Tuhan guna kepentingannya, dan ia diberi kuasa untuk menggunakannya bagi keperluan hidupnya.(Zakiah Daradjat, 2012). Masing-masing hak terkait dengan hak seseorang.

Artinya bahwa semua hak itu harus diberikan pada waktu yang sama dan tidak boleh dipaksakan. Penjelasan terperinci dari keempat hak-hak diatas dapat diamati sebagai berikut. Pertama, hak Tuhan berupa mengimaninya dan tidak menyekutukannya sehingga kita harus menerima petunjuk, mentaati, dan menyembah-Nya.

Kedua, hak terhadap diri sendiri. Pada konteks ini mengacu pada hak pribadi seseorang, yaitu hak jasmani dan rohaninya. Syariat Islam bertujuan untuk kebahagiaan manusia, karena mengajarkan manusia akan haknya. Mansuia diselamatkan dari segala macam bahaya seperti minuman yang memabukkan, makan daging babi, barang beracun, binatang yang kotor, bangkai dan lain-lain.

Hal ini disebabkan semua benda-benda tersebut mempengaruhi manusia dari hal-hal yang merusak kesehatan, merusak moral, fikiran, dan rohaninya. Selain itu, syariat mewajibkan dan memerintahkan menguasai, mengatur, memiliki, kawin untuk kehormatan dirinya. Melarang memaksakan diri, menyuruh mendekatkan diri kepada Tuhan dengan tidak menjauhi urusan dunia serta bertaqwa kepada Tuhan dengan mengikuti ajaran-Nya.

Ketiga, hak terhadap orang lain. Hak ini cenderung mengacu kepada hukum agama memerintahkan agar manusia memenuhi keinginan pribadinya dengan tidak melampaui

batas, dan merusak hak orang lain. Pada konteks hak ini, manusia dilarang berbuat dusta. Hal ini disebabkan orang yang berbuat dusta adalah membohongi diri sendiri. Salain itu, manusia juga tidak diperbolehkan menipu sesama karena, hal tersebut merupakan kesalahan. Dengan berdusta, manusia akan ditimpa bahaya karena dusta adalah sumber bahaya bagi orang lain.

Keempat, hak atas harta yang diberikan Tuhan untuk kepentingan dirinya. Berbeda dengan ketiga hak diatas, hak ini merujuk pada usaha memelihara dan memanfaatkannya hak tersebut di jalan Allah. Usaha ini dilakukan dalam usaha mengharap Ridho-Nya.

4. Manusia sebagai Khalifah di Bumi

Manusia dijadikan kahilfah di bumi mengandung maksud bahwa manusia berperan sebagai penguasa dalam mengatur dan mengendalikan segala sesuatu yang ada di bumi. (Zakiah Daradjat, 2012). Dengan demikian, kemakmuran dan ketentramannya Maka ditangan manusialah terletak terletak ditangan manusia. Akan tetapi hal ini juga berlaki sebaliknya, perbuatan manusia juga dapat menyebabkan dunia ini menjadi rusak karena mengabaikan amanat Allah.

Sebagai pedoman hidup pengelolaan dan pelaksanaan tugas manusia, Allah menurunkan agama-Nya. Melalui petunjuk agama, manusia dapat menjalankan tugasnya. Hal ini disebabkan agama menjelaskan dua jalan, yaitu jalan kebahagian dan jalan bahaya. Jalan kebahagiaan dianjurkan untuk dilakukan manusia , sedangkan jalan kebahayaan dituntut menjauhinya.

Analisis Ma’rifatul Insan Terhadap Potensi Manusia sebagai Makhluk

Allah menciptakan manusia dengan derajat tinggi. Oleh sebabnya, karakteristik yang dimiliki manusia tidak akan ditemukan atau dimiliki oleh makhluk lain, yaitu:

  • Aspek Kreasi

Fisik atau tubuh manusia terbentuk sedemikian rupa dan tidak bisa disamakan dengan makhluk yang lainnya. Selain digunakan untuk makan, tangan manusia bisa menjadikan sesuatu yang bisa bermanfaat bagi keberlangsungan kehidupan manusia,

  • Aspek Ilmu

Manusia diciptakan oleh Allah dengan sangat kesempurnaan dan diberikan beberapa kelebihan yang tidak dimiliki oleh makhluk Allah lainnya, yaitu akal. Alam diciptakan oleh Allah dengan maksud yaitu untuk manusia mempelajari dan menggunakan alam dengan semestinya. Modal utama manusia dalam mencari ilmu adalah dengan akal, manusia bisa menciptakan suatu kebudayaan dan peradaban.

Dengan akal yang diberikan Allah manusia mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya dalam menggali potensi alam ini dan memanfaatkannya untuk kemaslahatan umat manusia. Adapun hewan mempunyai keterbatasan, hewan hanya mempunyai insting untuk bertahan dan tidak dapat dikembangkan.

  • Aspek Kehendak

Allah memberikan kehendak kepada manusia untuk memilih kehidupannya. Adapun makhluk lain diberikan oleh Allah yakni pola kehidupan yang sudah baku, misalnya malaikat termasuk salah saatu makhluk yang tidak pernah berbuat kesalahan, dosa dan sombong, lain halnya dengan setan dan iblis yang selalu terus menerus menggoda manusia untuk selalu berbuat dosa.

  • Pengarahan Akhlak

Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah memiliki misi atau tujuan yakni menyempurnakan akhlak manusia. Dengan manusia mempunyai Akhlak maka akan terhindar dari perilaku jahat. Tindak kejahatan yang dilakukan manusia salah satunya disebabkan oleh pengaruh lingkungan karena pada dasar sifat manusia adalah baik, sehingga perlunya pendidikan untuk manusia agar mempunyai akhlak yang baik.(Ujam Jaenudin, 2012).

Apabila potensi pada manusia tidak dikembangkan, maka akan kurang bermakna dalam kehidupannya. Oleh sebab itu, perlunya pengembangan potensi yang dimiliki manusia yaitu dilaksnakannya kegiatan pendidikan. Dengan adanya pendidikan dan pengajaran yang diberikan kepada manusia maka potensi itu akan berkembang.

Menurut Jalaluddin, perlunya pendekatan – pendekatan dalam rangka mengembangkan potensi fitrah yang dimiliki manusia, yaitu:

1. Pendekatan Filosofis

didalam konteks pandangan filsafat yang bersumber kepada hakikat penciptaan manusia, pengembangan potensi naluri beragama kepada manusia di tujukan dalam hal pengabdian kepadaa Allah. Sedangkan ungkapan rasa syukur diberikan dalam bentuk penghayatan terhadap nilai-nilai akhlak yang terkandung di dalamnya serta mampu diimplementasikan dalam sikap dan perilaku maupun batiniah.(Akmal Hawi, 2014)

2. Pendekatan Kronologis

Pendekatan kronologis merupakan suatu pendekatan perkembangan melalui pentahapan bimbingan proses pendidikan Islam, bimbingan yang diberikan kepada manusia harus sesuai dengan hukuman perkembangan, yang secara umum sama.(Akmal Hawi, 2014)

3. Pendekatan Fungsional

Pendekatan dengan pengembangan potensi yang dimiliki manusia dilihat dari hubungannya dengan fungsi potensi itu masing-masing. Seperti dorongan untuk makan, Dorongan naluri makan dan minum bertujuan untuk dikembangkan agar manusia bisa memelihara kelanjutan hidup kedepanya. Sedangkan dorongan seksual dibimbing dan diarahkan untuk menjaga kelanjutan perkembangan jenisnya. Demikian juga dengan dorongan fungsi indrawi, dorongan akal maupun dorongan ketundukan (beragama).(Akmal Hawi, 2014)

4. Pendekatan sosial

Manusia adalah makhluk social yang harus bisa menempatkan dirinya dan bisa berperan sesuai statusnya dalam bermasyarakat. Dalam konteks pendekatan sosial, perlunya binaan dan bimbingan potensi manusia agar bisa diselaraskan dengan kebutuhan lingkungan sosial masing-masing. Tiga point yang harus diperhatikan dalam mengembangkan potensi yang dimiliki oleh manusia dalam proses pendidikan yaitu pendidikan di dalam keluarga, pendidikan formal atau sekolah, pendidikan dalam lingkungan bermasyarakat.(Akmal Hawi, 2014).

Makna Ibadah

Ibadah merupakan fondasi utama dalam ajaran Islam. Bukan sekadar ritual keagamaan, ibadah mencerminkan hubungan spiritual dan ketundukan total seorang hamba kepada Allah SWT. Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat Islam memuat banyak ayat yang menjelaskan makna, bentuk, dan tujuan ibadah dalam kehidupan manusia. Tulisan ini mengulas makna ibadah berdasarkan penafsiran Al-Qur’an dan para ulama.

Makna Bahasa dan Istilah Ibadah

Secara bahasa, kata ibadah berasal dari akar kata Arab ‘ʿabada’, yang bermakna tunduk, patuh, dan menyembah. Menurut para ahli bahasa, akar kata ini memiliki dua makna yang  tampak  berlawanan:
1. Kerendahan dan kelembutan, yang menghasilkan makna hamba atau abd.
2. Kekuatan dan keteguhan, yang digambarkan seperti anak panah yang kuat dan tepat sasaran.
Sedangkan secara istilah, ibadah berarti segala bentuk kepatuhan dan penghambaan manusia kepada Allah SWT, baik melalui ibadah ritual maupun aktivitas sehari-hari yang diniatkan untuk mencari ridha-Nya.

Ibadah dalam Perspektif Al-Qur’an

Dalam Al-Qur’an, kata ‘ibadah’ dan turunannya disebut lebih dari 270 kali dalam berbagai bentuk.  Ada  dua  istilah  utama  yang  digunakan:
– ‘Ibadah’: umum, meliputi segala bentuk pengabdian kepada Allah.
– Nusuk: lebih khusus, biasanya merujuk pada ritual haji dan penyembelihan kurban.
Beberapa ayat yang menekankan pentingnya ibadah antara lain:
– QS. An-Nisa: 36 – “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan  sesuatu  apapun…”
– QS. Al-An’am: 162 – “Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk  Allah…”
– QS. Az-Zariyat: 56 – “Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
Quraish Shihab menegaskan bahwa ibadah bukan hanya ritual semata (mahdhah), tetapi mencakup seluruh aktivitas yang diniatkan karena Allah inilah yang disebut sebagai ibadah ghair mahdhah.

Tujuan dan Manfaat Ibadah dalam Kehidupan

1. Meningkatkan Ketakwaan

Ibadah menjadi jalan utama untuk mencapai derajat taqwa, sebagaimana disebut dalam QS. Al-Baqarah: 21.

2. Menghapus Dosa

Dalam QS. Hud: 114, Allah menjelaskan bahwa amal kebaikan (termasuk ibadah) dapat menghapus dosa-dosa masa lalu.

3. Sebagai Sarana Ujian

Ibadah juga merupakan ujian ketaatan manusia kepada Allah, sebagaimana dalam QS. Al-Insan: 2.

Ibadah adalah Kebutuhan Hamba, Bukan Kebutuhan Allah

Dalam hadits Qudsi, Allah berfirman bahwa ketaatan atau kedurhakaan manusia tidak akan menambah atau mengurangi kekuasaan-Nya. Ibadah murni adalah kebutuhan manusia untuk mendapatkan rahmat, ampunan, dan kebahagiaan.

Penutup

Dalam dunia yang semakin materialistik, memahami dan mengamalkan konsep ma’rifatul insan, potensi manusia, dan makna ibadah menjadi kebutuhan mendesak. Ketiganya bukan sekadar konsep teoritis, melainkan prinsip hidup yang membentuk jati diri manusia seutuhnya. Pendidikan menjadi alat utama untuk menyadarkan manusia tentang jati dirinya sebagai makhluk Allah dan mendorongnya untuk menjalani kehidupan yang bermakna — dunia dan akhirat.

Daftar Pustaka

Akhirin. (2015). Pengembangan Potensi Anak Perspektif Pendidikan Islam. Jurnal Tarbawi, 12(2).

Akhmad Alim. (2014). Sains dan Teknologi Islami. Remaja Rosdakarya.

Akmal Hawi. (2014). Seluk Beluk Ilmu Jiwa Agama. PT. Raja Grafindo Persada. Amos Neolaka. (2017). Landasan Pendidikan. Kencana.

Burga, M. A. (2019). Hakikat Manusia Sebagai Makhluk Pedagogik. Al-Musannif: Jurnal Pendidikan Islam dan Keguruan, 1(1), 19.

Hakam Abbas. (2013). Pengertian Ma’rifat. hakamabbas.blogspot.com. http://hakamabbas.blogspot.com/2013/10/jenis-jenis-makrifat.html

Irawan. (2019). POTENSI MANUSIA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN. Islamika :

Jurnal Agama, Pendidikan dan Sosial Budaya, Vol 13 No, 10.

Khamsinah, S. (2013). Hakikat Manusia Menurut Pandangan Islam dan Barat. Al-Musannif: Journal of Islamic Education and Teacher Training, 12(1), 19–31.

Masni, H. (2018). Urgensi Pendidikan Dalam Mengembangkan Potensi Diri Anak. Jurnal Ilmiah Dikdaya, 8(2), 275. https://doi.org/10.33087/dikdaya.v8i2.110

Muhammad Tholchah Hasan. (2013). Dinamika Kehidupan Religius. PT. Listafariska Putra.

Zakiah Daradjat. (2012). Dasar-Dasar Agama Islam. Bulan Bintang. Zakiah Daradjat. (2017). Ilmu Pendidikan Islam. Bumi Aksara.

Penulis: Rizal Ainun Yaqin (312210069), Muhammad Aldyansyah (312210073), Caswita (312210106), Teddy Prayoga (312210117), Mahasiswa Fakultas Teknik, Program Studi Teknik Informatika, Universitas Pelita Bangsa

Editor: Fuad Parhan, Tim NewsFeed.id