NEWSFEED.ID, JAKARTA — Perubahan cuaca ekstrem yang terus terjadi di berbagai wilayah Indonesia mendorong Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk meningkatkan literasi iklim masyarakat, terutama melalui berbagai saluran komunikasi resmi. Hal ini dilakukan sebagai respons atas masih rendahnya pemahaman masyarakat terhadap peringatan dini cuaca yang kerap dianggap remeh.
Cuaca ekstrem belakangan ini semakin sering terjadi. Hujan lebat disertai angin kencang di Jakarta, suhu panas ekstrem di wilayah Nusa Tenggara Timur, hingga banjir bandang di Sumatera Barat menandakan bahwa Indonesia tidak sedang baik-baik saja dalam menghadapi krisis iklim. Namun, informasi yang disampaikan BMKG terkadang tidak sampai dengan optimal ke masyarakat luas.
Selama menjalani program magang di BMKG, saya melihat secara langsung bagaimana lembaga ini menyebarkan peringatan dini dan edukasi mitigasi bencana melalui media sosial, aplikasi Info BMKG, bahkan tayangan running text di televisi. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang belum sepenuhnya memahami atau bahkan mempercayai informasi tersebut.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menegaskan bahwa literasi iklim sangat penting untuk membangun kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim global.
“Perubahan iklim global menyebabkan anomali-anomali yang harus kita waspadai dan adaptasi harus dilakukan secara cepat dan tepat,” ujar Dwikorita dalam keterangan tertulis yang dirilis BMKG, Sabtu (21/6/2025).
Ia juga menyatakan bahwa BMKG berkomitmen mendampingi masyarakat dan pemangku kepentingan untuk memahami data cuaca dan iklim secara presisi agar setiap kebijakan dan aktivitas masyarakat dapat berbasis data ilmiah.
“BMKG akan terus berkomitmen mendampingi masyarakat dan pemangku kepentingan dalam membaca perubahan cuaca dan iklim dengan lebih presisi, agar setiap langkah ke depan bisa lebih bijak dan berbasis data,” tambahnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa mitigasi bencana tidak bisa hanya dilakukan dari sisi kebijakan dan infrastruktur, tetapi juga dari sisi komunikasi. Masyarakat yang paham akan informasi cuaca bisa mengambil keputusan yang lebih bijak dan cepat dalam menghadapi potensi bencana.
Literasi iklim bukan hanya tugas BMKG semata, tetapi menjadi tanggung jawab bersama. Pemerintah daerah, institusi pendidikan, media massa, serta komunitas lokal perlu terlibat aktif dalam menyebarkan pemahaman tentang pentingnya merespons informasi cuaca dengan tepat.
Saya berharap, melalui kolaborasi lintas sektor dan penguatan komunikasi publik yang berbasis data ilmiah, kesadaran masyarakat terhadap isu iklim dapat meningkat secara signifikan. Sebab, adaptasi terhadap cuaca ekstrem bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Penulis: Bintang Fauzan











