OpiniPendidikan

Harga Emas Meroket: Perspektif Bank Syariah Indonesia (BSI)

Avatar photo
107
×

Harga Emas Meroket: Perspektif Bank Syariah Indonesia (BSI)

Sebarkan artikel ini

NEWSFEED.ID, Bogor — Harga emas global terus mencatatkan rekor tertinggi dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan harga emas ini menarik perhatian banyak pihak, mulai dari investor, analis ekonomi, hingga masyarakat umum. Lonjakan harga emas ini dipicu oleh berbagai faktor kompleks yang saling terkait, dan memiliki dampak signifikan bagi perekonomian global serta strategi investasi.

Namun, fenomena ini tidak hanya dilihat sebagai tren investasi semata. Dalam perspektif perbankan syariah, emas memiliki posisi yang unik — tidak hanya sebagai komoditas investasi, tetapi juga sebagai instrumen keuangan yang sejalan dengan prinsip nilai intrinsik, keadilan, dan keberlanjutan.

Harga emas telah mencatat kenaikan yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir di Indonesia. Misalnya:

  • Harga emas batangan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (Antam) naik dari sekitar Rp 1.524.000/gram di awal tahun ke sekitar Rp 1.902.000/gram per Mei 2025, atau naik ± 24,8% YTD.
  • Pada 23 September 2025, BSI mencatat harga emas Antam mencapai Rp 2.164.000/gram.

Kenaikan ini mendorong aktivitas di segmen emas pada bank syariah, khususnya BSI, agar semakin aktif menyediakan produk berbasis emas.

BSI menilai emas sebagai instrumen investasi yang sesuai dengan prinsip syariah, memiliki nilai intrinsik dan berfungsi sebagai penyimpan nilai (store of value). Karena itu, ketika harga emas naik, minat masyarakat terhadap produk-emas bank syariah meningkat. Sebagai contoh: saldo emas digital di BSI Emas Digital tumbuh 231% YoY hingga Maret 2025.

Mas telah menjadi alat ukur nilai (miqdar al-qimah) dan penyimpan kekayaan (store of value) sejak zaman Nabi Muhammad ﷺ. Karena nilainya yang stabil, emas juga dianggap sebagai pelindung terhadap inflasi (hedge against inflation).

Bank syariah seperti BSI, Bank Muamalat, dan Bank Mega Syariah memandang bahwa kenaikan harga emas merupakan refleksi dari:

  • Penurunan nilai riil mata uang,
  • Kecenderungan investor mencari instrumen aman,
  • Dan peningkatan kesadaran masyarakat akan instrumen keuangan berbasis aset nyata (asset-backed finance).

Kenaikan harga emas diiringi peningkatan literasi investasi syariah. Banyak masyarakat mulai tertarik membuka rekening emas digital atau cicilan emas di bank syariah karena:

  • Modal awal rendah (mulai Rp 50 ribu),
  • Proses digital mudah melalui aplikasi,
  • Dan sesuai prinsip syariah tanpa bunga atau spekulasi.

Data OJK 2025 menunjukkan bahwa literasi keuangan syariah nasional meningkat dari 39,11% menjadi 43,8%, sebagian besar didorong oleh popularitas produk emas dan reksadana syariah.

Kenaikan harga emas juga meningkatkan nilai aset dan margin keuntungan bank syariah dari portofolio pembiayaan emas. Selain itu, karena emas cenderung stabil terhadap inflasi, portofolio ini berfungsi sebagai penyeimbang risiko (hedging) terhadap volatilitas sektor lain.

BSI misalnya mencatat kontribusi bisnis emas terhadap total aset retail sebesar 4,2%, meningkat dari 2,5% pada 2024. Ini membantu menjaga stabilitas pendapatan di tengah perlambatan sektor pembiayaan konsumtif.

Kesimpulan

Kenaikan harga emas yang meroket sejak 2024 hingga 2025 bukan sekadar fenomena pasar, melainkan momentum penting bagi perbankan syariah Indonesia untuk memperkuat posisinya. Dalam pandangan syariah, emas bukan hanya instrumen investasi, melainkan simbol stabilitas, keadilan, dan nilai riil dalam ekonomi.

Melalui produk seperti BSI Gold, gadai emas syariah, dan tabungan emas digital, bank syariah berhasil menarik minat generasi muda, memperluas inklusi keuangan, serta menciptakan diversifikasi pendapatan yang stabil.

Namun, keberlanjutan pertumbuhan ini sangat bergantung pada:

  • Kedisiplinan bank dalam menjaga kepatuhan syariah,
  • Inovasi teknologi digital yang aman,
  • Dan edukasi masyarakat agar memahami bahwa investasi emas syariah bukan sekadar tren, tetapi juga bagian dari keuangan Islam yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Referensi Data dan Sumber:

  1. Bank Syariah Indonesia (BSI) Laporan Keuangan Triwulan II & III 2025
  2. OJK Statistik Perbankan Syariah Juni 2025
  3. Republika.co.id (Mei 2025) – “Investasi Emas di BSI Tembus Rp 16,43 Triliun”
  4. Kontan.co.id (Juli 2025) – “Pembiayaan Bisnis Emas BSI Melesat 88,25%”
  5. Bisnis.com (April 2025) – “Saldo Emas Digital BSI Naik 231% YoY”
  6. Antam Gold Report 2025 Harga Rata-rata Emas Dunia dan Domestik
  7. Fatwa DSN-MUI No. 77/2010 Jual Beli Emas Tidak Tunai

Penulis: Bagas Permana Putra, Mahasiswa Universitas Tazkia

Editor: Fuad Parhan, Tim NewsFeed.id