NEWSFEED.ID, JAKARTA — Di era saat ini, musik lebih banyak dinikmati melalui platform digital yang menawarkan kemudahan akses tanpa batas, namun ada tren yang kembali bangkit yakni kaset pita, yang mungkin sudah tidak asing bagi generasi yang tumbuh pada era 70 hingga 90-an.
Kini, setelah dua dekade lebih berlalu, kaset pita kembali menarik perhatian. Bukan hanya di antara para kolektor atau pecinta barang retro, melainkan juga di kalangan musisi muda, label indie, dan komunitas kreatif.
Lantas Apakah yang membuat media analog ini kembali hidup di tengah era digital serba instan?
Awal Mula Era Kebangkitan Kaset Pita
Sejak awal dekade 2010-an, sesuatu yang tak terduga mulai terjadi di dunia musik: kaset pita, format fisik yang sempat dianggap usang dan terlupakan, mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Menurut laporan The New York Times pada tahun 2024, kebangkitan ini bukan hanya isapan jempol atau tren sesaat.
Toko-toko musik independen serta label-label kecil di berbagai negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang, hingga Indonesia, mulai kembali memproduksi rilisan musik dalam format kaset pita. Bahkan, bukan hanya musisi independen atau band-band underground yang melakukannya.
Nama-nama besar di industri musik global seperti Billie Eilish, Taylor Swift, dan The 1975 juga turut merilis album mereka dalam versi kaset, lengkap dengan sampul desain retro dan sentuhan khas era analog.

Lonjakan popularitas kaset banyak dipicu oleh ketertarikan generasi muda terutama Generasi Z dan milenial yang sebenarnya tidak pernah mengalami masa kejayaan kaset secara langsung. Mereka yang tumbuh di tengah kemudahan era digital, di mana jutaan lagu bisa diakses hanya dengan satu klik, justru merasa tertarik untuk mengeksplorasi pengalaman mendengarkan musik dalam bentuk yang lebih nyata, fisik, dan memiliki nilai emosional yang lebih kuat.
Kaset Pita dalam Budaya Populer
Minat terhadap kaset juga semakin diperkuat oleh kehadiran budaya populer yang menampilkannya kembali di layar kaca dan layar lebar. Salah satu contohnya adalah film Guardians of the Galaxy karya James Gunn, di mana karakter utama, Peter Quill, digambarkan setia memutar musik favoritnya melalui Walkman dan kaset pita.
Momen ini menjadi sangat ikonik dan berkontribusi besar terhadap ketertarikan baru terhadap kaset. Demikian pula dalam serial populer Netflix Stranger Things, karakter Max terlihat selalu membawa Walkman dan kaset dari album kesayangannya, Hounds of Love milik Kate Bush, ke mana pun ia pergi. Kedua karya pop culture ini turut menghadirkan kembali romantisme kaset ke hadapan generasi baru, membangkitkan rasa penasaran dan menjadikan kaset sebagai simbol keren yang vintage namun relevan kembali.

Fenomena ini menyusul tren sebelumnya dari piringan hitam (vinyl) yang lebih dulu menggoyang dominasi musik digital. Meski pasarnya masih terbatas, kebangkitan kaset menunjukkan bahwa generasi masa kini mulai melirik kembali media musik era analog yang dulu sempat ditinggalkan.
Secara global, tren penggunaan kaset menjalar ke berbagai penjuru dunia, termasuk negara-negara pusat industri musik seperti Amerika Serikat dan Inggris. Sejak 2018, penjualan kaset di Amerika menunjukkan peningkatan signifikan, dengan pertumbuhan mencapai 35%,angka yang terus meningkat hingga sekarang.
Bahkan, pada Oktober tahun lalu, dilansir dari situs Loudwire.com melaporkan bahwa lonjakan permintaan menyebabkan keterlambatan produksi kaset akibat kekurangan bahan baku.Di Inggris, laporan dari media seperti NME dan Consequence of Sound mengungkap bahwa penjualan kaset meningkat drastis, mencatat kenaikan sebesar 103% dalam satu tahun, dua kali lipat dari tahun sebelumnya.

Fenomena Tren Kaset Pita di Kalangan Musisi Lokal
Fenomena kembalinya era kaset pita dalam kancah internasional ini mendorong semakin banyak musisi global untuk menjajaki peluang yang ada, menjadikannya sebagai salah satu alternatif promosi karya di samping jalur digital dan format fisik lainnya seperti CD maupun piringan hitam. Indonesia pun tak luput dari tren ini.
Di tanah air, jumlah musisi yang merilis karya dalam format kaset terus bertambah. Dalam skena musik indie, sejumlah nama seperti Sajama Cut, Jenny, Eleventwelfth, dan Kelompok Penerbang Roket turut memilih kaset sebagai medium untuk memperkenalkan rekaman mereka kepada pendengar.

Nilai Nostalgia Yang Terkemas Dalam Gulungan Pita
Kaset pita menghadirkan nuansa yang tak bisa ditiru oleh format digital modern. Kualitas suara yang sedikit ‘mentah’, adanya noise alami, serta keterbatasan teknis justru menciptakan pengalaman mendengarkan musik yang terasa lebih jujur dan manusiawi. Dalam dunia serba instan dan bersih seperti streaming, karakter khas kaset menjadi daya tarik tersendiri. Ia bukan sekadar media penyimpanan lagu, tetapi menawarkan pengalaman ritual yang utuh, Alih-alih hanya mendengar, pendengar kaset juga “berinteraksi” langsung dengan media tersebut.

Bagi mereka yang pernah hidup di era kejayaan kaset, benda ini adalah pintu nostalgia, pengingat masa lalu dan emosi yang terkandung di dalamnya. Namun bagi generasi muda, terutama Generasi Z dan milenial, kaset menawarkan sesuatu yang sangat berbeda: bentuk perlawanan terhadap budaya konsumsi musik yang cepat dan tidak personal. Kaset menjadi simbol dari keinginan untuk kembali merasakan kedekatan fisik dengan musik, bukan sekadar menekan tombol “skip”.
Wawancara Eksklusif: Ulil, Toko Kilas Balik di Pasar Santa
Untuk memahami lebih dalam tentang geliat kebangkitan kaset, kami mewawancarai Ulil, pemilik Kilas Balik, sebuah toko kaset yang aktif menjajakan rilisan lokal dan internasional di Pasar Santa, Jakarta Selatan.

Kenapa menurut Bang Ulil, kaset bisa hidup lagi sekarang?
“Karena orang cari sesuatu yang bisa dipegang, yang punya cerita. Anak-anak sekarang tuh malah penasaran sama hal yang mereka nggak sempat alami. Dulu kaset dianggap jadul, sekarang justru jadi keren karena langka dan berkarakter.”
Apakah banyak musisi lokal yang mulai merilis kaset lagi?
“Banyak banget. Band-band indie kaya Harum Manis, Bedchamber, The Panturas, atau The Jeblogs mulai bikin rilisan kaset. Bahkan beberapa rilisan sold out dalam hitungan minggu. Mereka biasanya kerja sama sama label indie atau kolektif kecil yang emang fokus di rilisan fisik, contohnya Lamunai, Orange Cliff, Bojakrama dan masih banyak lagi.”
Apa yang diburu kolektor atau pembeli di toko Kilas Balik?
“Bukan cuma musiknya. Mereka suka dengan desain cover, warna pita, sampai notes yang ditulis tangan. Kaset itu sekarang bukan cuma media, tapi juga bagian dari pengalaman personal.”
Bagaimana Bang Ulil melihat masa depan kaset?
“Saya nggak bilang kaset bakal gantikan digital, tapi mereka bisa hidup berdampingan. Kaset punya pasar sendiri, orang-orang yang mau lebih dari sekadar klik dan skip.”
Penutup: Romansa Kaset Pita Melawan Kefanaan Digital
Meski mengalami lonjakan minat, kebangkitan kaset juga diiringi berbagai tantangan, mulai dari langkanya pemutar kaset, kualitas rekaman yang tidak sebanding dengan format digital, hingga distribusi yang tidak semudah mengunggah musik ke platform streaming. Namun justru dalam keterbatasan itulah terletak nilai jualnya.
seperti diungkapkan oleh seorang kolektor dalam artikel New York Times, kaset membuat pendengarnya melambat, mendengarkan lagu hingga selesai, dan berhenti menjadi penikmat musik yang serampangan. Kaset memang mungkin tidak akan kembali mendominasi industri musik seperti di masa lalu, namun bukan itu esensinya.
Kehadiran kaset hari ini adalah bentuk romansa modern terhadap masa lalu, perlawanan terhadap kefanaan digital, serta pengingat bahwa musik bukan sekadar suara, melainkan juga kenangan, ritual, dan rasa. Bagi para musisi, kaset bukan hanya media distribusi alternatif, melainkan representasi karya yang utuh dibungkus dalam plastik, digulung perlahan, dan menyimpan jejak emosi dalam setiap putaran pitanya.
Penulis: Muchammad Brahma Alamsyah, Mahasiswa BINUS University











