NEWSFEED.ID — Sebagai anak muda yang tumbuh di Bangka, saya menyaksikan sendiri bagaimana tambang timah membentuk wajah pulau ini—dan luka-lukanya. Tanah yang dulunya hijau kini dipenuhi lubang-lubang besar. Di desa saya, anak-anak tidak lagi punya lapangan untuk bermain, karena semua sudah menjadi kolong tambang.
Di tengah semua ini, muncul ide penanaman kelapa sawit sebagai solusi pemulihan lahan pasca tambang. Awalnya terdengar menjanjikan lahan hijau kembali, ekonomi bergerak, masyarakat punya harapan. Tapi setelah saya pelajari lebih dalam, ada pertanyaan yang menggantung di hati apakah ini benar-benar solusi, atau hanya pereda sesaat yang menunda kerusakan lebih besar?
Luka yang Tak Sembuh
Menurut Mongabay Indonesia (2022), Bangka Belitung punya lebih dari 12.600 lubang bekas tambang. Beberapa berubah jadi danau buatan yang tidak aman. Bahkan dalam dua tahun terakhir, belasan anak tenggelam di kolong itu karena tak ada ruang bermain lain.
Saya juga melihat sendiri betapa pertambangan mengubah pola hidup masyarakat. Petani dan nelayan yang dulu hidup dari alam kini lebih tergantung pada tambang. Pendidikan pun terabaikan. BPS mencatat angka partisipasi pendidikan tinggi kita hanya 18,19 % terendah di Indonesia. Apa yang akan terjadi pada masa depan kami?
Sawit dan Ilusi Pemulihan
Di banyak tempat, sawit ditawarkan sebagai jalan keluar dari kerusakan pasca tambang. Tapi bukankah sawit justru butuh air dan nutrisi tanah dalam jumlah besar hal yang langka di lahan bekas tambang? Tanah di sini sudah miskin hara, bahkan banyak yang mengandung logam berat.
Greenpeace mencatat bahwa sawit justru sering menggusur lahan pangan dan menambah konflik agraria. Di kampung-kampung di Bangka, kita mulai melihat konflik kecil muncul karena tanah yang dulu dikelola bersama mulai jadi milik korporasi.
Kami Punya Pilihan Lain
Tapi kami tidak menyerah. Di Desa Batu Beriga, misalnya, warga menolak tambang baru dan mulai mengembangkan pariwisata pesisir. Mereka memperbaiki kolong, menanam kembali tanaman lokal, dan membangun ekonomi dari laut, bukan dari lubang.
Yayasan Kehati bahkan mencatat program restorasi di Bangka Tengah yang berhasil meningkatkan pendapatan warga tanpa merusak alam. Ini menunjukkan bahwa kita bisa bangkit asal percaya pada kekuatan komunitas sendiri.
Harus Ada Keberanian untuk Berkata Cukup
Menanam sawit di bekas tambang mungkin terlihat seperti solusi cepat. Tapi kalau kita hanya ingin cepat-cepat “menghijaukan” tanpa memulihkan kehidupan, itu namanya menipu diri sendiri.
Kami generasi muda Bangka tidak ingin mewarisi tanah yang makin rusak. Kami ingin hutan kembali tumbuh, air kembali jernih, dan anak-anak bisa bermain tanpa takut tenggelam di kolong tambang. Kalau itu terlalu banyak diminta, maka mungkin yang harus berubah bukan harapan kami, tapi arah kebijakan kita.
Penulis: Kartika, Mahasiswa Program Studi Biologi, Universitas Bangka Belitung









