NEWSFEED.ID — Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur digadang-gadang sebagai simbol kemajuan dan pemerataan pembangunan Indonesia. Namun, di balik jargon “kota cerdas” dan “kota hijau” yang terus digaungkan pemerintah, ada satu hal yang luput dari perhatian publik secara luas: hutan Kalimantan yang terus tergerus.
Kalimantan, rumah bagi paru-paru dunia dan spesies langka seperti orang utan, mengalami tekanan ekologis yang belum pernah sebesar ini. Data dari sejumlah lembaga lingkungan menunjukkan peningkatan pembukaan lahan dalam skala masif sejak proyek IKN dimulai. Padahal, kawasan ini merupakan habitat kritis yang telah lama terancam oleh aktivitas pertambangan dan perkebunan sawit.
Ironisnya, pembangunan IKN diklaim berwawasan lingkungan. Namun, bagaimana mungkin sebuah kota modern dibangun tanpa menyentuh kawasan hutan primer? Alih fungsi lahan, pembangunan jalan akses, dan meningkatnya permintaan infrastruktur telah mengorbankan ribuan hektare hutan. Upaya rehabilitasi yang dijanjikan terdengar seperti basa-basi ketika yang hilang adalah ekosistem yang terbentuk selama ratusan tahun.
Lebih menyedihkan lagi, suara masyarakat adat yang hidup berdampingan dengan hutan secara turun-temurun juga mulai terpinggirkan. Alih-alih dilibatkan dalam pengambilan keputusan, mereka justru menghadapi risiko kehilangan lahan, identitas, dan ruang hidup mereka sendiri.
Pembangunan memang penting, tetapi tidak boleh dibayar dengan harga yang terlalu mahal: kehilangan warisan ekologis dan krisis keberlanjutan. Jika pembangunan IKN terus berjalan tanpa kendali lingkungan yang ketat, kita bukan sedang membangun masa depan, tetapi kita sedang mempercepat keruntuhannya.
Lalu, siapa yang peduli? Semestinya, kita semua.
Penulis: Sinta, Mahasiswa Biologi, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Bangka Belitung









