Opini

Brain Rot: Ketika Hiburan Digital Perlahan Melemahkan Otak

Avatar photo
244
×

Brain Rot: Ketika Hiburan Digital Perlahan Melemahkan Otak

Sebarkan artikel ini

NEWSFEED.ID — Pernahkah kamu merasa otakmu lelah dan kosong, padahal seharian hanya rebahan sambil scrolling media sosial? Atau tiba-tiba susah fokus, meskipun tidak sedang banyak pikiran?

Belakangan ini, banyak pihak mulai membandingkan generasi sekarang dengan generasi sebelumnya. Mereka meyebut generasi sekarang sulit untuk berpikir mendalam, mudah terdistraksi, dan kurang dalam prestasi akademik. Pendapat ini bukan tanpa sebab—di media sosial, kita bisa melihat ketidakmampuan siswa tingkat menengah dalam melakukan perhitungan dasar. Banyak penyebab diajukan untuk menjelaskan fenomena tersebut, mulai dari kurangnya motivasi, hingga ke istilah yang cukup populer saat ini, yaitu brain rot atau “pembusukan otak”. Tapi apakah kondisi ini nyata terjadi? Apakah brain rot memang telah menggerogoti generasi saat ini?

Istilah brain rot sebenarnya bukanlah istilah resmi di dunia kesehatan. Tetapi kata ini banyak digunakan oleh pengguna media sosial untuk menggambarkan kondisi otak yang lelah, kosong, dan kesulitan berpikir akibat kebiasaan mengonsumsi konten digital yang singkat dan dangkal secara terus menerus.

Konten yang terus bermunculan baik itu berupa video lucu, gosip artis, informasi tidak begitu jelas, bahkan konten relate sekalipun bisa membuat otak kita seperti mengonsumsi snack tanpa makan makanan bergizi. Sehingga otak terbiasa dengan hiburan instan. Dari sinilah semuanya bermula ketika otak kita mulai kesulitan untuk fokus dan cepat bosan dengan bacaan panjang.

Otak manusia sebenarnya dirancang untuk bisa berpikir aktif dan kritis. Namun, ketika otak kita terbiasa menerima konten yang singkat dan instan, otak tidak memiliki waktu yang cukup untuk memproses informasi secara utuh. Bagian otak yaitu prefrontal cortex yang berperan dalam konsentrasi, kemampuan kognitif, pengambilan keputusan, dan pengendalian emosi menjadi tidak terlatih. Sebaliknya, bagian amigdala yang bersifat emosional menjadi lebih aktif. Akibatnya, kita menjadi lebih mudah terdistraksi dan kesulitan menyelesaikan tugas-tugas sederhana meskipun tidak sedang mengalami kelelahan fisik.

Gejala brain rot sering kali tidak disadari karena muncul secara halus dan bertahap. Kita mulai merasa cepat bosan saat membaca artikel panjang, kesulitan menuangkan ide ke dalam tulisan, atau sering kali kehilangan fokus saat mengerjakan hal yang memerlukan konsentrasi. Gejala seperti ini sering kita anggap sebagai kelelahan biasa. Hingga tanpa sadar, kita jadi lebih memilih bersenang-senang bersama konten yang terasa “ringan” di otak dan malah berbalik terbebani dengan bahan bacaan, diskusi, atau kegiatan kreatif lainnya.

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini bisa berdampak serius. Otak yang terbiasa dimanjakan oleh hiburan instan akan kesulitan ketika berhadapan dengan tugas yang kompleks. Ini bukan hanya soal kemampuan akademik, tapi juga kemampuan bekerja, bersosialisasi, dan menyelesaikan masalah sehari-hari. Bahkan, para ahli neurosains mulai menyuarakan kekhawatiran akan munculnya fenomena digital dementia, yaitu penurunan fungsi kognitif seperti daya ingat dan kemampuan berpikir kritis yang mulai terjadi di usia muda akibat konsumsi digital yang berlebihan.

Brain rot dan digital dementia bukanlah dua hal yang terpisah. Keduanya saling berkaitan sebagai gangguan yang muncul sebagai dampak dari pola konsumsi digital yang tidak seimbang. Teknologi digital seharusnya menjadi alat bantu, bukan jerat yang membelenggu. Kita juga perlu memberi jeda bagi otak untuk bernapas dengan membaca teks fisik, meningkatkan interaksi di dunia nyata, atau kegiatan hobi lainnya yang dapat mengurangi waktu bersama layar gadget.

Jangan sampai kita sebagai manusia dilumpuhkan oleh teknologi yang dibuat oleh manusia itu sendiri.

Penulis : Siti Nuraini Safitri, Mahasiswa Universitas Bangka Belitung

Editor: Fuad Parhan, Tim NewsFeed.id