ArtikelPendidikan

Trend-Driven Business: Strategi Cerdas atau Bom Waktu?

Avatar photo
138
×

Trend-Driven Business: Strategi Cerdas atau Bom Waktu?

Sebarkan artikel ini
A person drawing a graph on a transparent screen AI-generated content may be incorrect.
Ilustrasi seorang pelaku usaha sedang merancang strategi pertumbuhan bisnis melalui grafik yang menanjak.

NEWSFEED.ID, Surabaya — Di era media sosial seperti sekarang, tren bisa muncul dalam hitungan jam dan menghilang dalam hitungan hari. Mulai dari makanan viral, fashion ala seleb TikTok, skincare yang tiba-tiba meledak, sampai layanan kecantikan yang jadi hype berkat FYP. Nggak heran banyak pelaku usaha memilih strategi cepat: ikut tren biar bisnisnya langsung dilirik.

Tapi pertanyaannya, mengikuti tren itu sebenarnya strategi cerdas atau justru bom waktu yang bisa meledak kapan saja?

Mengapa Banyak Bisnis Memilih Ikut Tren?

Jawabannya sederhana: tren memberikan jalan pintas menuju perhatian.

Ketika sebuah produk atau layanan sedang naik daun, konsumen otomatis lebih penasaran. Bisnis jadi lebih mudah viral, pemasaran lebih murah, dan omzet bisa naik drastis dalam waktu singkat. Inilah alasan banyak brand baru maupun UMKM langsung ikut arus.

Namun, di balik keuntungan cepat itu, ada risiko besar yang sering tidak disadari.

Ketika Tren Justru Menjadi Bom Waktu

Beberapa bisnis yang terlalu bergantung pada tren akhirnya harus tutup karena:

  • Pasar cepat jenuh. Begitu semua orang ikut-ikutan, konsumen mulai bosan.
  • Tidak ada value jangka panjang. Produk dibuat hanya untuk mengejar hype, bukan kebutuhan nyata.
  • Ketergantungan pada viralitas. Begitu tren turun, penjualan ikut jeblok.
  • Tidak ada diferensiasi. Kalau persaingan tinggi dan produk serupa semua, pelanggan tidak punya alasan untuk kembali.

Banyak contoh nyatanya:

  • Es Kepal Milo, yang sempat viral se-Indonesia tapi hilang dalam hitungan bulan.
  • Thai Tea musiman, yang dulu ada di setiap ruko kosong tapi akhirnya menyusut karena pasarnya terlalu penuh.
  • Pisang Nugget kekinian, booming sesaat tapi tidak bertahan karena tren makanan berubah.
  • Brand makanan pedas ekstrem, yang awalnya heboh tetapi gagal mempertahankan minat konsumen.

Tren memang bisa memberikan panggung instan. Tapi tanpa fondasi kuat, panggung ini juga rentan runtuh.

Tapi, Ada Juga Bisnis Tren yang Justru Sukses Besar

Menariknya, tidak semua bisnis trend-driven berakhir sebagai “bom waktu”. Ada brand yang justru berhasil “naik kelas” dari sekadar mengikuti tren menjadi pemain kuat di industrinya.

Beberapa contohnya:

  • Kopi Kenangan, lahir di era kopi susu kekinian, tapi bertahan dengan inovasi menu, teknologi pemesanan, dan pembangunan brand yang solid.
  • Chatime & Xing Fu Tang, tren bubble tea datang dan pergi, tetapi brand besar ini mempertahankan pelanggan lewat varian menu dan pengalaman store yang konsisten.
  • Mie Gacoan, muncul saat tren makanan pedas, namun sukses karena punya identitas kuat, sistem operasional rapi, dan inovasi berkelanjutan.
  • Fore Coffee, menonjol dengan kolaborasi kreatif dan pengalaman pelanggan yang ditingkatkan.

Apa yang membuat mereka bertahan? Jawabannya: mereka tidak berhenti di tren.

Trend-Driven Business Bisa Jadi Strategi Cerdas Kalau…

Ini bukan soal ikut tren atau tidak, tapi bagaimana kamu mengelolanya. Bisnis berbasis tren bisa sangat menguntungkan jika:

  • Produk tetap berkualitas, bukan cuma lucu atau viral.
  • Brand dibangun sejak awal, bukan sekadar jualan musiman.
  • Ada inovasi berkelanjutan, terutama setelah hype mulai turun.
  • Bisnis punya diferensiasi jelas, sehingga tidak mudah dibandingkan dengan kompetitor.
  • Adaptif, bisa menyesuaikan diri dengan perubahan pasar.
  • Tidak bergantung pada satu produk viral saja.

Dengan pendekatan seperti ini, tren bisa menjadi momentum peluncuran brand, bukan jebakan jangka pendek.

Kesimpulan: Strategi Cerdas atau Bom Waktu?

Jawabannya: dua-duanya bisa terjadi.

Trend-driven business bisa menjadi strategi cerdas jika digunakan sebagai batu loncatan untuk membangun brand yang kuat dan relevan. Namun, bisa berubah menjadi bom waktu jika bisnis hanya mengejar viralitas tanpa memikirkan keberlanjutan.

Pada akhirnya, tren hanyalah alat. Yang menentukan hasil akhirnya adalah bagaimana pelaku usaha mengolah momentum tersebut menjadi value jangka panjang.

Penulis: Jessica Ashley Gunawan
Mahasiswa Universitas Ciputra

Editor: Fuad Parhan, Tim NewsFeed.id